Ibu Melahirkan Tokoh-Tokoh dan Ulama Besar Dunia Islam

Oleh: ASWAN NASUTION

Catatan118 Views

“Ada seorang datang menemui Nabi saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah saw, kepada siapakah aku selayaknya berbuat baik?’ Rasulullah saw, menjawab, ‘Kepada Ibumu!’ Orang tadi bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi? Rasulullah saw. menjawab, ‘Ibumu!’ Kemudian, ia mengulangi pertanyaannya, dan Rasulullah saw. tetap menjawab, ‘Kepada Ibumu!’ Ia bertanya kembali, ‘Setelah itu, kepada siapa lagi?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Kepada bapakmu!” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

MEMBACA dari sejarah dan kisah hidup para tokoh-tokoh besar Ulama Islam terdahulu, para pembimbing umat dan masyarakat, Kita akan menyaksikan bagaimana Ibu mereka mendidik dan menanamkan karakter mulia kepada mereka.

Ibu mereka menanamkan dasar-dasar agama dan pokok-pokok aqidah islamiyah untuk buah hatinya. Akhirnya pribadi-pribadi mulia tertempa menjadi anak-anak yang bermanfaat di dunia dan bahagia akhirat.

Ketika kita lupa dan lalai terhadap peranan ini, akan lahirlah genersi yang gamang akidah dan agamanya. Generasi yang mudah terombang-ambing tak berprinsip. Mereka tergerus mengalir bersama zaman, terbang bersama embusan angin pemikiran.

Sejarah kita telah mencatat contoh Ibu-Ibu yang istimewa. Ibu-Ibu yang melahirkan tokoh-tokoh besar ulama Islam. Mereka inilah yang terdepan untuk dijadikan teladan, wahai pemuda-pemudi Islam diantaranya adalah:

Pertama: Ibu Imam Syafi’i.

Ayah Imam Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris Syafi’i menjadi seorang Imam besar. Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah.

Di Mekah, ia mempelajari Al-Qur’an dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Kemudian, sang Ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni sehingga bahasa Arab pemuda Quraisy ini pun jadi tertata dan fasih.

Setelah itu, Ibunya memerhatikannya agar bisa berkuda dan memanah. Jadilah ia seorang pemanah ulung. Seratus anak panah pernah ia muntahkan dari busurnya, tak satu pun meleset dari sasaran.

Dengan taufik dari Allah SWT disertai kecerdasan dan kedalaman pemahamannya, saat ia baru berusia 15 tahun, Imam Syafi’i sudah diizinkan Imam Malik untuk berfatwa. Hal itu tentu tidak terlepas dari peranan Ibunya yang merupakan seorang Muslimah yang cerdas dan mempelajari ilmu agama.

Imam Syafi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku seorang yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun, ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku. Aku menghafal Al-Qur’an saat berusia 7 tahun. Aku menghafal [kitab] Al-Muwaththa saat berusia 10 tahun.

Setelah menyempurnakan hafalan Al-Qur’an, aku masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadits atau suatu pernasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda. Aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat penulis. “Walaupun memiliki keterbatasan materi, Ibu Imam Syafi’i tetap memberi perhatian yang luar biasa terhadap pendidikan anaknya tersayang.

Kedua: Ibu Imam Ahmad bin Hambal

Ibu Imam Ahmad bernama Shafiyah binti Maimunah binti Abdul Malik. Ayahnya wafat pada usia muda, 30 tahun. Ibunya pun hidup menjanda dan enggan menikah lagi, walaupun usianya belum mencapai 30 tahun. Ia hanya ingin fokus memenuhi kehidupannya untuk anaknya. Buah usahanya adalah yang kita tahu saat ini. Imam Ahmad menjadi Imam mazhab yang empat. Semoga Allah SWT merahmati Ibu Imam Ahmad bin Hambal.

Ketiga: Ibu Imam Al-Bukhari.

Imam al-Bukhari tumbuh besar sebagai seorang yatim. Ibunyalah yang mengasuhnya. Ibunya mendidiknya dengan pendidikan yang terbaik. Mengurus keperluannya, mendoakannya, dan memotivasinya untuk belajar dan berbuat baik.

Saat berusia 15 tahun, Ibunya mengajak Imam al-Bukhari bersafar ke Mekah. Kemudian, jeninggalkan putranya di negeri Haram itu. Tujuannya agar sang anak dapat menimba ilmu dari para ulama Mekah. Dari hasil bimbingan dan perhatian Ibunya, jadilah Imam al-Bukhari seperti yang kita kenal saat ini. Seorang ulama yang gurunya pernah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih hebat daripadanya [da.

Keempat: Ibu Ibnu Taimiyah

“Demi Allah, seperti inilah caraku mendidikmu. Aku nazarkan dirimu untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum Muslimin. Aku didik engkau di atas syari’at Islam. Wahai, anakku, jangan kau sangka, engkau berada pada sisiku itu lebih aku cintai dibanding kedekatanmu pada agama, berkhidmat untuk Islam dan kaum Muslimin, walaupun kau berada di penjuru negeri.

Anakku, ridhaku kepadamu berbanding lurus dengan apa yang kau persembahkan untuk agamamu dan kaum Muslimin. Sungguh, wahai Ananda, di hadapan Allah kelak aku tidak akan menanyakan keadaanmu karena aku tahu di mana dirimu dan dalam keadaan seperti apa engkau. Hal yang akan kutanyakan di hadapan Allah kelak tentangmu, wahai Ahmad, sejauh mana khidmatmu kepada agama Allah dan saudara-saudaramu kaum Muslimin.”

Inilah surat yang ditulis Ibu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada dirinya, setelah ia mencoba izin kepada sang Ibu untuk tetap tinggal di Mesir. Surat ini memberikan kesan yang cukup mendalam kepada kita tentang bagaimana sosok Ibunda Ibnu Taimiyah. Wanita salihah yang berorientasi akhirat.

Wanita yang kuat yang lebih senang anaknya bermanfaat bagi orang banyak ketimbang untuk dirinya sendiri. Wanita cerdas yang menjadikan anaknya investasi untuk kehidupan setelah kematian. Ibunda Ibnu Taimiyah memberikan kesan bahwa ia adalah wanita yang teguh jiwa dan hatinya. Semoga Allah merahmatinya.

Kelima: Ibu Abdurrahman bin an-Nashir

Amirul Mu’minin Abdurrahman bin an-Nashir adalah penguasa Andalusia yang kala itu tengah dilanda kegoncangan. Ia berhasil membuat wilayah itu stabil. Ia berhasil memimpin pasukannya masuk kejantung wilayah Perancis dan wilayah Swiss. Kemudian, ia menguasai Italia. Ia menhadi raja terbesar di Eropa.

Ternyata, di belakangnya ada seorang wanita yang berhasil mendidik dan membinanya. Abdurrahman an-Nashir adalah seorang yatim yang dibesarkan Ibunya. Adapun sang Ayah tewas di bunuh pamannya saat Abdurrahman masih kecil.

Keenam: Ibu Sultan Muhammad al-Fatih

Setelah shalat shubuh, Ibu Sultan Muhammad al-Fatih mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia berkata, “Engkau, wahai Muhammad, akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebahaimana sabda Rasulullah Saw.. Muhammad kecil pun bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu, wahai Ibu?”

“Dengan Al-Qur’an, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia, “jawab sang Ibu penuh hikmah.

Itulah Ibu Muhammad al-Fatih, mendidik anaknya pada waktu berkah pagi hari. Ia tidak membiarkan anaknya terbiasa dengan tidur pada waktu pagi. Ia lakukan sesuatu yang menarik perhatian sang anak. Memotivasinya dengan sesuatu yang besar dengan dasar agama dan kasih sayang, bukan spirit penjajahan.

Ketujuh: Ibu Imam Malik bin Anas

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Uwais, “Aku mendengar pamanku, Malik bin Anas, bercerita, ‘Dulu, Sewaktu aku kecil , Ibuku biasa memakaikan aku pakaian dan mengenakan imamah untukku.

Kemudian, Ia mengantarkan aku kepada Rabi’ah bin Abdirrahman. Ibuku berkata, ‘Anakku, datanglah ke majelisnya Rabi’ah. Pelajari akhlak dan adabnya sebelum engkau mempelajari hadits dan fiqih darinya.”

Dalam hal konteks kekinian, setelah membaca dari sejarah di atas, Ibu-ibu yang istimewa, Ibu-Ibu yang pernah melahirkan para tokoh-tokoh hebat yang berpengaruh di dunia ini, dan ulama-ulama besar Islam. Maka bagaimana pula seorang anak berterima kasih kepada Ibu yang mengasuhnya, melainkan juga soal bagaimana agar Ibu [kaum wanita] semakin berdaya dan diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat.

Terkait adanya peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan di berbagai negara, termasuk di Tanah Air kita setiap tanggal 22 Desember, memang masih menjadi perkara yang diperselisihkan di antara ulama. Ada yang membolehkan. Ada pula yang melarang.

Terlepas dari perdebatan tersebut, sebagai umat Baginda Nabi Muhammad Saw, kita menganut keyakinan bahwa Allah Swt telah mewajibkan kepada kita sebagai anak untuk berbuat baik, untuk bakti kepada ayah-bunda kita, di setiap waktu, bukan di satu waktu tertentu.

Adanya peringatan Hari Ibu di seluruh dunia menunjukkan adanya kesadaran bersama untuk mengakui sekaligus menghargai jasa-jasa Ibu. Jauh sebelum dunia menetapkan perlunya peringatan Hari Ibu, Rasulullah Saw telah meletakkan dasar-dasar teologis bahwa seorang Ibu diakui sangat mulia dan terhormat, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik R.a.”Surga itu di bawah telapak kaki Ibu.”

Ibu sampai kapan pun akan menjadi sosok yang paling kita hormati dan banggàkan serta wajib kita sayangi karena dari Ibulah kehidupan kita berawal. Sejak Ibu mengandung kita selama sembilan bulan lalu ia mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan kita, dan harus kembali mempertaruhkan nyawanya ketika membesarkan dan mengutamakan kebaikan untuk kehidupan kita [anaknya].

Ia adalah satu-satunya sosok wanita yang mungkin rela memberikan dan mengorbankan apa saja demi untuk anaknya. Oleh sebab itu, tidaklah terlalu berlebihan rasanya jika kita mencurahkan seluruh tenaga kita semampu yang kita bisa, bukan untuk membalas semua jasanya yang tidak pernah bisa terbalaskan, tetapi setidaknya melakukan sesuatu untuk dapat membahagiakan ibu kita dan menjadikannya sebagai sosok yang paling beruntung dan sempurna karena memiliki anak seperti kita. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: Dari Buku Menjadi Bijak & Bijaksana, Ibnu Basyar, 2. Gema Insani, Jakarta, 2016. dan bacaan lainnya.

Tulisan ini pertama; dipersembahkan untuk kedua orang tua yang telah berpulang ke rahmatullah atas jasa-jasa dan kebaikannya, Ayahanda Amir Hasan Nasution & Ibunda Siti Asmah Rangkuti.
Kedua: Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ibu 22 Desember 2022.

Selamat Membaca dan Semoga Bermanfaat.
Wassalam: Al-Faqir Aswan Nasution, Alumni 1979 Al Qismul A’ly Al Washliyah, Ismai’liyah, Medan.
Domisili: Sandik, Lombok Barat, Nusa Tenggarà Barat [NTB].

Baca Juga :  Teknik Marketing Prank ?