2024, Mencari Pemimpin Sejati

Oleh: Aswan Nasution

Religi607 Views

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” [QS. As Sajdah: 24].

SALAH SATU yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekarang ini adalah agar kehidupan mereka berjalan dengan baik. Karena itu, kehadiran pemimpin yang baik selalu dirindukan oleh masyarakat. Yang menjadi persoalan kita kemudian adalah seperti apa pemimpin yang baik itu?

Al Qur’an ternyata menceritakan tentang banyak pemimpin yang salah satunya adalah Zulkarnain. Belajar dari Zulkarnain, kita bisa menemukan kriteria pemimpin yang sejati, begitu yang dikemukakan Allah SWT di dalam surat Al Kahfi.

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita tangkap dari kisah Zulkarnain, khususnya dalam konteks kepemimpinan yang sangat kita dambakan adanya pemimpin yang mulia sehingga membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan bangsa.

  1. Berkuasa Tapi Tidak Sombong.
    Zulkarnain adalah raja yang memiliki kekusaan yang besar dengan tentaranya yang kuat sehingga ia bisa mengembara ke Timur dan ke Barat, namun dengan kekuasaannya itu ia tidak menyombongkan diri.

Sayyid Quthb menyatakan bahwa Zulkarnain menuju ke arah Barat hingga sampai kesatu titik di pantai Samudra Atlantik yang dinamai dengan Laut Gelap. Ia menganggap lelah mencapai akhir daratan dititik itu dan melihat matahari tenggelam disitu.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kekuasaan kepadanya di [muka] bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan [untuk mencapai] segala sesuatu. Maka diapun menempuh suatu perjalanan. Hingga apabila telah sampai ke tempat terbenam natahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam.” [QS.Al Kahfi: 84-86].

Ketika ia mendapati segolongan umat yang telah pasrah kepadanya, ia justru tidak berniat untuk menzalimi mereka dan mengambil keuntungan duniawi dari mereka, padahal Allah SWT memberikan pilihan kepadanya mau berbuat baik atau buruk. Namun ia justru mengajak mereka kepada iman dan amal shaleh.

Allah SWT befirman:” dan dia mendapati disitu segolongan umat, Kami berkata:” Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Zulkarnain: adapun orang yang menganiaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya [perintah] yang mudah dari perintah-perintah kami.” [QS. Al Kahfi: 86-88].

  1. Melayani Rakyat
    Pemimpin yang baik adalah pelayan bagi masyarakat yang dipimpinnya, karena Zulkarnain yang memiliki kekuasaan menunjukkan klasnya sebagai pemimpin yang sejati dengan melayani dan melindungi rakyatnya, bahkan tanpa meminta bayaran sekalipun meskipun mereka mau membayarnya.

Hal ini nampak ketika pengembaraannya, Zulkarnain mendapati suatu umat yang sangat terkebelakang sehingga mereka hampir tidak mengerti pembicaraan, bahkan mereka sendiri dalam keadaan terancam dari Ya’juj dan Ma’juj yang suka melakukan kerusakan di muka bumi.

Maka Zulkarnain melibatkan semua komponen masyarkat untuk membangun tembok yang sangat kuat yang terbuat dari besi dan tembaga yang dibangun diantara dua gunung dengan ketinggian mencapai puncak gunung sehingga tertutup gagi Ya’juj dan Ma’juj untuk memasuki wilayah penduduk itu sehingga keberadaan [eksistensi] mereka bisa dipertahankan.

  1. Menegakkan Keadilan, Memberantas Kezaliman
    Kesediaan Zulkarnain membangun tembok yang kuat dan dari besi dan tembaga guna melindungi masyarakat dari gangguan Ya’juj dan Ma’juj menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang sangat memberi perhatian kepada rakyat untuk memperoleh keadilan dan terbebas dari segala bentuk kezaliman.

Oleh karena itu, para pemimpin dari level terendah hingga level tertinggi seharusnya berupaya untuk menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman, bukan malah bersekongkol dengan orang-orang yang melakukan kezaliman.

  1. Berorientasi Pada Kebaikan
    Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu berorientasi pada kebaikan, kebaikan bagi rakyat yang dipimpinnya. Karena itu Zulkarnain mengarahkan masyarakat yang didatanginya dalam pengembaraan untuk beriman dan beramal shaleh.

Mereka dilibatkan dalam kerja sama yang baik ketika membangun tembok pertahanan sehingga keamanan yang menjadi pilar dalam membangun masyarakat bisa terwujud.

Sekarang ini kita sangat mendambakan kehadiran pemimpin yang berkuasa tapi tidak sombong, pemimpin yang melayani rakyat yang dipimpinnya, dan pemimpin yang mampu menegakkan keadilan, Memberantas Kezaliman serta pemimpin yang selalu berorientasi pada kebaikan, kebaikan menurut Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bish shawab.

Referensi: Muallaf Foundation [MF] 17.III/Juni 2004.

Baca Juga :  Keberpihakan Terhadap Kaum Dhuafa