Hakikat Orang Kaya

Oleh: ASWAN NASUTION

Religi358 Views

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, namun kekayaan [yang hakiki] ialah orang yang memiliki ketenangan dan kebesaran jiwa.” [HR. Bukhari dan Muslim].

SETIAP orang selalu berusaha dan berjuang untuk mendapatkan kekayaan, sejak zaman dahulu kala sampai sekarang bahkan tidak akan berakhir sampai hari kiamat nanti, akan tetapi, jika kita rasakan dengan sepenuh jiwa kita, maka akan timbul pertanyaan dalam diri kita:

“Siapakah sebenarnya yang dapat dikategorikan sebagai orang kaya? Apakah mereka yang memiliki harta melimpah ruah emas berlian berkeping-keping, apakah mereka yang telah mendapatkan kedudukan dan jabatan atau kekuasaan serta lain sebagainya?”

Hakikat kekayaan ini sangat relatif. Tiap-tiap orang akan berbeda pendapat dan penilaian mengenai kriteria atau ciri-ciri yang disebut kaya, sesuai dengan pola berfikir serta latar belakang kehidupan yang dialaminya.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, serta yang lainnya, Rasulullah bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, namun kekayaan [yang hakiki] ialah orang yang memiliki ketenangan dan kebesaran jiwa.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dengan hadits tersebut di atas Rasulullah SAW. menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kekayaan yang sebenarnya bukanlah karena harta yang melimpah ruah. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah ketenangan dan kebesaran jiwa.

Dia merasa bahagia dan bersyukur dengan apa saja yang ada ditangannya sendiri, tidak akan mengambil hak orang lain meskipun dalam keadaan miskin dan sengsara.

Orang yang berjiwa besar, akan berhati tentram dan tenang, situasi hidupnya damai dan sejahtera dia tidak akan rakus terhadap kekayaan, dan tidak akan mengeluh jika tidak mendapatkan tepukan tangan, atau bahkan kesempatan yang baik pun hilang dari tangannya. Dia akan puas dengan apa yang telah diperolehnya, untuk keluarga, dan sebagian yang lain dinafkahkan untuk perjuangan di jalan Allah SWT.

Maka jika ada orang yang kaya harta benda dan berhati qana’ah, berjiwa besar, dan itulah orang yang telah kaya dan mencapai derajat yang tinggi dan tangguh di sisi Allah SWT yang maha kuasa.

Sebaliknya orang yang hartanya melimpah ruah dan masih bersifat rakus, loba, tamak, terhadap harta orang lain, selalu berfikir dan berusaha agar harta orang lain dapat jatuh ketangannya tanpa memikirkan halal dan haram, selalu dengki terhadap rezki atau nikmat yang diperoleh orang lain, tidak mau menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah SWT. karena takut fakir, yang Allah akan menjadikan kekayaannya itu sebagai beban berat dan siksa yang dahsyat di akhirat nanti sebagaimana firman-Nya di dalan surat al-Humazah ayat 1-6:

“Kecelakaanlah bagi pengumpat yang lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya dia mengira bahwa hartanya dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya benar-benar akan dilemparkan ke dalam Humazah. Dan tahukah kamu apakah Humazah itu? [yaitu] api [yang disediakan Allah] yang dinyalakan.”

Qanaah atau kebesaran jiwa yang diterangkan dalam hadits Rasulullah SAW. merupakan sifat dasar seorang mukmin sebagai pengendali agar tidak surut ke belakang dalam keputusasaan dan tidak terlalu maju di dalam keserakahan.

Sifat ini merupakan stabilisator dan dinamisator bagi seseorang, karena orang yang bersifat qana’ah selalu berlapang dada, berhati tentram, merasa kaya dan bercukupan, bebas dari keserakahan.

Sebagai dinamisator sifat qana’ah merupakan kekuatan batin yang dapat mendorong seseorang untuk meraih kemajuan hidup berlandaskan kemampuan diri pribadi serta tetap bergantung kepada karunia Allah SWT. Wallahu a’lam bishawab.

Baca Juga :  KPK Bulukumba Peduli, Gelar Pelatihan Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban