Ruang Virtual dan Pola Interaksi Remaja Sasaq Lombok

Oleh: Nurhasanah

Opini87 Views

Ruang Virtual

Ruang virtual atau yang sering kita sebut sebagai media sosial merupakan sarana sarana untuk berinteraksi sosial secara online. Jadi media sosial ini merupakan media elektronik yang memungkinkan orang-orang mencipkatan dan menyebarkan konten kepada publik, termasuk kepada remaja Sasaq di desa Beraim-Lombok.

Berbagai  kemudahan yang diberikan dari media sosial ini, tentu saja media sosial juga memiliki dampak yang tidak baik bagi kehidupan kita, oleh sebab itu sangat penting bagi kita untuk memahami dan memilah cara kerja media sosial supaya kita dapat memanfaatkannya dengan baik dan menghindari dampak negatif dari sosial media ini.

Pada awal munculnya media sosial dianggap sebagai media komunikasi yang digunakan untuk bersosialisasi. perkembangan tersebut sangat mempermudah orang-orang untuk mendapatkan informasi maupun berkomunikasi baik dengan kerabat, teman dan orang-orang tanpa batas waktu dan jarak. Penggunaan teknologi informasi dapat memudahkan proses pencarian informasi. peran orang tua dalam mengawasi dan mengingatkan anaknya saat bermain sosial media sangatlah penting agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Artikel ini mengkaji pengaruh media sosial terhadap interaksi sosial remaja di Desa Beraim. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan di kalangan remaja Desa Beraim dapat mengurangi interaksi sosial tatap muka dan menyebabkan berkurangnya partisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan masyarakat. Sebagian besar remaja lebih memilih untuk menghabiskan waktu luang mereka dengan bermain media sosial daripada terlibat dalam kegiatan sosial di desa.

Kemajuan teknologi dan ketersediaan internet yang semakin luas telah memungkinkan remaja untuk terhubung secara virtual dengan teman-teman dan komunitas mereka. Meskipun media sosial memiliki banyak manfaat, seperti memudahkan komunikasi dan berbagi informasi, penggunaan yang berlebihan dapat berdampak pada interaksi sosial remaja dalam kehidupan nyata. Di pedesaan, seperti Desa Beraim, pengaruh media sosial terhadap interaksi sosial remaja menjadi semakin relevan untuk diteliti. Desa Beraim terletak di wilayah pedesaan yang masih kental dengan budaya dan tradisi sosial masyarakat. Namun, dengan berkembangnya teknologi dan akses internet yang semakin mudah, remaja di desa ini juga tidak luput dari pengaruh media sosial. 

Pada zaman sekarang, Teknologi berkembang dengan sangat pesat terutama  pada teknologi informasi dan komunikasi yang semakin mempermudah aktifitas manusia baik di dalam bidang ekonomi maupun sosial. Manfaat dari Teknologi yang berkembang pesat ini tentu saja sangat mempengaruhi nerbagai kehidupan. Kini media sosial telah sangat melekat hingga berdampak pada perilaku masyarakat Sasaq dalam hal interaksi, komunikasi, dan pengambilan keputusan. Media sosial memiliki banyak dampak positif bagi manusia, contohnya media  sosial dapat menguntungkan karena kita dapat berinteraksi dengan sangat mudah melalui aplikasi seperti WhatsApp, Intagram, Facebook, Tiktok, dan lainnya.

Artikel ini mencoba mengeksplorasi dampak media sosial terhadap interaksi sosial remajacsasaq di Desa Beraim Lombok dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan media sosial serta implikasinya terhadap kehidupan sosial remaja. Media sosial telelah mengubah cari kita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Melalui media sosial, kita dapat membangun, memelihara, dan memperluas jaringan sosial kita secara online.] Platform-platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, TikTok, dan lainnya memungkinkan kita untuk berbagi konten seperti teks, foto, video, dan lainnya dengan teman, keluarga, atau bahkan dengan khalayak yang lebih luas.

Baca Juga :  Jujur dan Adil

Pola Interaksi Remaja Sasaq

Era sekarang media sosial ada mampuan memfasilitasi komunikasi dua arah atau lebih, dimana pengguna dapat memberikan komentar, menanggapi, dan berinteraksi dengan konten yang dibagikan oleh pengguna lain yang menciptakan sebuah ruang digital yang dinamis dan interaktif, yang sangat berbeda dengan media tradisional seperti televisi atau radio yang cenderung satu arah.

Interaksi sosial dapat didefinisikan sebagai hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, di mana perilaku individu akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perilaku individu lain. Dalam interaksi sosial, terjadi proses saling mempengaruhi satu sama lain melalui tindakan, reaksi, dan persepsi masing-masing individu. Berikut adalah definisi interaksi sosial menurut para ahli:

  1. Soerjono Soekanto “Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi sosial, tidak akan mungkin ada kehidupan bersama.”
  2. Gillin dan Gillin “Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang

menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.”

  • Broom dan Slelznick “Interaksi sosial adalah proses di mana orang-orang yang terlibat di dalamnya

dalamnya saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan pelaku lain.”

  • Thibaut dan Kelley “Interaksi sosial merupakan peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain, atau berkomunikasi satu sama lain.”

Pola Interaksi remaja Sasaq di Desa Beraim Lombok, menunjukan bahwa media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja di Desa Beraim. Beberapa platform media sosial yang populer di kalangan remaja setempat adalah Facebook, Instagram, TikTok, dan Twitter. Remaja di desa ini menghabiskan waktu yang signifikan, rata-rata sekitar 6-7 jam per hari, untuk berinteraksi di media sosial. Aktivitas utama yang mereka lakukan meliputi berkomunikasi dengan teman-teman, berbagi konten seperti foto, video, dan status, serta bermain game online setip harinya, rata-rata  itu menjadi kesibukan mereka sehari-hari.

Motivasi utama remaja di Desa Beraim dalam menggunakan media sosial adalah untuk hiburan, bersosialisasi, dan mencari informasi terkini. Media sosial menjadi sarana bagi mereka untuk mengekspresikan diri, berbagi minat, dan berinteraksi dengan komunitas online yang memiliki ketertarikan serupa. Selain itu, media sosial juga digunakan untuk mengakses berita dan informasi terkini, baik yang bersifat lokal maupun global. Seperti yang terkandung dalam teori Dalam konteks teori kegunaan dan gratifikasi, perilaku penggunaan media sosial dipahami sebagai upaya individu untuk memuaskan berbagai kebutuhan mereka. Dalam hal ini, pengguna media sosial memiliki kontrol penuh terhadap konten yang mereka konsumsi dan bagaimana mereka berinteraksi dalam platform tersebut.

Selain itu, penggunaan media sosial telah menyebabkan perubahan dalam perilaku  masyarakat. Sebagai contoh, remaja beraim jarang terlibat dalam interaksi tatap muka, bahkan dalam situasi seperti menunggu di loket pelayanan. Sebaliknya, mereka tenggelam dalam smartphone mereka, sepenuhnya tidak sadar dengan orang-orang di sekitar mereka. Dan juga para remaja desa beraim jarang mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di masyarakat seperti  gotong royong yang diadakan, mereka lebih memilih berdiam diri dirumah bermain sosial media daripada ikut serta dalam kegiatan masyarakat.

Baca Juga :  Dinamika Kontestasi Pilkada Sumbawa

Dampak Ruang Virtual terhadap Interaksi Sosial Remaja Sasaq

Penggunaancruang virtual atau  media sosial yang intensif di kalangan remaja Desa Beraim telah membawa dampak yang signifikan terhadap pola interaksi sosial mereka. Remaja cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya daripada berinteraksi secara tatap muka dengan teman-teman atau keluarga di lingkungan desa. Hal ini menyebabkan berkurangnya partisipasi mereka dalam kegiatan sosial dan budaya di desa, seperti kegiatan kemasyarakatan,gotong royong atau acara-acara tradisional adat yang ada di masyarakat.

Selain itu, remaja di Desa Beraim juga mengalami pergeseran dalam pola interaksi sosial, di mana mereka lebih nyaman berkomunikasi melalui pesan teks atau media sosial daripada berkomunikasi tatap muka secara langsung. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya keterampilan komunikasi tatap muka dan kemampuan untuk membangun hubungan interpersonal yang kuat di dunia nyata. Salah satu penyebab utama perubahan perilaku maupun sikap remaja ini sangat dipengaruhi oleh kehadiran panutan para remaja Secara sosial, pada masa remaja ini sangat penting peran orang tua bagi anak-anaknya, oleh sebab itu orang tua dapat menanamkan perilaku dan sikap yang baik kepada anak, dengan meningkatkan kemandirian pada anak, tak hanya itu terakadang aspek seperti perubahan suasana hati juga perlu diperhatikan, memperhatikkan lingkungan pertemanan anak, perhatikan juga perilaku anak yang berisiko.

Sama seperti hasi kajian Suryani tahun 2014 mengerikan bahwa trend di sosial media sangat mempengaruhi intensitas remaja dalam  penggunaan media sosial. karena banyak remaja yang berfikir apabila semakin aktif dirinya dalam media sosial, maka semakin keren mereka. Sedangkan remaja yang tidak aktif menggunakan media sosial dianggap tidak keren dan gaul atau dianggap tertinggal oleh zaman.

 Hal ini terjadi bukan tanpa sebab, ketergantungan media sosial juga disebabkan oleh kehadiran fenomena kencanduan media sosial dikalangan remaja yang berpengaruh terhadap perilaku remaja. Penggunaan  Handphone (Smartphone) dapat mempengaruhi kehidupan remaja. Hal ini dapat terjadi karena media sosial memiliki hubungan yang cukup erat dengan Smarphone.

Begitu juga kajian Agustina tahun 2020 yang meneliti pengaru media sosial terhadap siswa juga menemukan hal yang sama bahwa perubahan pola interaksi dan pola perilaku akibat gadget juga dapat mempengaruhi gaya belajar belajar peserta didik

 Artinya apa yang terjadi pada remaja Sasaq juga terjadi pada remaja lainnya, media sosial saat ini dimanfaatkan sebagai sumber informasi terkini dan saluran komunikasi secara daring. hal ini sesuai dengan fungsi dari media sosial sendiri yaitu untuk mempermudah orangorang untuk berkomunikasi dan juga memberikan informasi dengan memanfaatkan internet. Jadi, siapa saja dapat berpartisipasi sebagai sumber informasi termasuk untuk menyampaikan pendapat.

Ruang Virtual atau Media sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pola interaksi remaja Sasaq di Lomok,i media sosial memudahkan komunikasi dan memperluas jaringan pertemanan remaja. Mereka dapat berinteraksi dengan teman dan kerabat yang jauh secara geografis, menemukan komunitas dengan minat yang sama, serta terlibat dalam diskusi dan debat mengenai isu-isu sosial, politik, dan budaya. Media sosial juga memberikan ruang bagi remaja yang pemalu atau kurang percaya diri untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi secara online dengan lebih nyaman. Namun, di sisi lain, media sosial juga berpotensi mengurangi interaksi tatap muka langsung yang penting bagi perkembangan keterampilan sosial dan empati remaja.

Baca Juga :  Manajement of Change, Suatu Tuntutan Organisasi Pada Kondisi New Normal di Tengah Pandemi Covid- 19

 Selain itu, remaja juga berisiko terlibat dalam perilaku cyberbullying atau pelecehan online yang dapat membahayakan mental dan emosional mereka. Kecanduan media sosial juga dapat menyebabkan remaja mengabaikan kegiatan sosial di dunia nyata dan mengisolasi diri. Paparan terhadap konten negatif seperti kekerasan, pornografi, atau informasi yang tidak akurat juga dapat mempengaruhi perkembangan remaja. Terlebih lagi, remaja cenderung membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, yang dapat menyebabkan masalah citra tubuh dan rendahnya self-esteem. Oleh karena itu, pengaruh media sosial terhadap interaksi sosial remaja bergantung pada cara penggunaannya.

Penggunaan media sosial dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pendapatan memiliki peran penting dalam penggunaan media sosial, dengan generasi muda cenderung lebih aktif dibandingkan generasi yang lebih tua. Ketersediaan perangkat teknologi seperti smartphone, tablet, dan laptop serta akses internet yang cepat dan stabil juga sangat mempengaruhi penggunaan media sosial. Motivasi individu seperti kebutuhan untuk bersosialisasi, mencari informasi, hiburan, dan self-expression mendorong penggunaan media sosial. Selain itu, budaya tempat seseorang hidup mempengaruhi frekuensi dan cara mereka menggunakan media sosial, dengan beberapa budaya lebih mendorong komunikasi digital dan berbagi kehidupan pribadi secara online.

Pengaruh sosial dari lingkungan sekitar, termasuk teman dan keluarga, juga dapat memengaruhi penggunaan media sosial, di mana lingkungan dengan penggunaan media sosial yang tinggi cenderung meningkatkan partisipasi. Tingkat pendapatan dan status ekonomi seseorang juga memengaruhi kemampuan mereka untuk membeli perangkat teknologi dan berlangganan layanan internet.

Ruang Virtual Yang Sehat

Penggunaan ruang virtual atau media sosial yang berlebihan pada remaja dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti kecanduan, gangguan tidur, penurunan prestasi akademik, dan masalah kesehatan mental lainnya, diperlukan solusi yang melibatkan berbagai pihak untuk mengatasi permasalahan ini, antara lain perlu memberikan edukasi dan pendampingan kepada anak remaja mengenai penggunaan media sosial yang bijak dan aman; mengadakan program atau kegiatan yang melibatkan remaja dalam aktivitas positif di luar media sosial, serta membuat regulasi dan kebijakan yang mengatu; remaja perlu didorong untuk mengembangkan minat dan hobi lain di luar media sosial, seperti olahraga, seni, musik, atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya; peningkatan aktivitas organisasi pemuda seperti remaja masjit dan karang taruna.

Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan membimbing anak-anak mereka dalam penggunaan media sosial untuk menghindari dampak negatif. Pengaruh media sosial terhadap interaksi sosial remaja sangat bergantung pada cara penggunaannya. Oleh karena itu, bimbingan orang tua, edukasi digital, dan penggunaan yang bijak diperlukan untuk memaksimalkan manfaat media sosial sekaligus meminimalkan dampak negatifnya. Solusi untuk mengatasi masalah ini melibatkan peran orang tua, sekolah, komunitas, pemerintah, dan dukungan psikologis jika diperlukan. (***)