Tradisi Nyiwak sebagai Implementasi Nilai Gontong Royong Masyarakat Sasaq Lombok

Oleh: Dewi Kusumayanti

Opini91 Views

BERBAGI News – Tradisi nyiwak merupakan suatu ritual adat untuk memperingati hari kesembilan kematian seseorang, dan tradisi nyiwak merupakan suatu rangkaian acara yang di lakukan turun temurun oleh masyarakat Sasaq Lombok, khususnya Dusun Subahnala 2 Desa peresak Lombok Tengah, Nyiwak adalah tradisi memperingati hari kesembilan kematian seseorang.

Tradisi nyiwak di lakukan berbagai rangkaian sebelum di sebut nyiwak yaitu nelu, mituk dan nyiwak dan beberapa tahapan kegiatan di lakukan yaitu piak jaje peyek, jaje wajik, pangan, jaje tujak dan poteng, lalo meyilak, zikir selama Sembilan hari, nyaer, begawe dan tahapan penutup yaitu lekak terop atau terpal dan rebak jangkih. Selain itu tradisi nyiwak juga mempunyai nilai-nilai yang terdapat dalam pelaksanaannya salah satunnya seperti nilai gontong royong,adapun nilai-nilai yang lainnya juga terdapat dalam pelaksanaan yaitu nilai social, nilai persaudaraan, nilai religious, nilai social, dan nilai budaya. Selain itu ada beberapa alasan kenapa masyarakat Dusun Subahnala 2 Desa Peresak melaksanakan tradisi nyiwak yaitu karena tradisi nyiwak ialah warisan turun temurun leluhur, dan untuk memperingati hari kesembilan kematian.

Lombok tengah merupakan salah satu kabupaten di nusa tenggara barat yang memiliki banyak tradisi local yang masih digunakan pada saat ini seperti acara nyongkol (iringan penganten menuju ke rumah pengantin perempuan), beretes (7 bulan kehamilan), ngurisan (mencukur rambut bayi yang baru lahir), nyunatan (khitanan), maulid Nabi, isra mikraj, acara kematian seseorang yaitu: nelu, mituk, nyiwak, metamgdase, (tiga, tujuh, Sembilan, empat puluh hari kematian seseorang) dan lain-lain. Adapun acara kematian seseorang masih dilakukan di masyarakat Dusun Subahnala II Desa peresak.

Tahap pertama yang dimana pada saat hari ke lima sete;ah pemakaman biasannya para tentangga ibu-ibu dan bapak-bapak (remaja/i) datang untuk membantu membuat jaje seperti piak jaje peyek, jaje wajik, pangan, jaje tujak dan poteng,bagi perempuan untuk laki-laki biasannyadia membantu memasang terop. Pada hari keenam juga ibu-ibu masih membantu membuat jae karena saking bannyannya jaje di buat. Pada hari ke tujuh setelah kematian (mituk) remaja membantu menyiapkan hal-hal kebutuhnan yang terkait pada begawe nyiwak ini seperti mengadakan musyawarah keluarga mengenai teknis dan waktu. Dan pada saat itu juga epen gawe menyuruh satu atau dua orang untuk menyilak kerumah tetangga ataupun ke gubuk sebelah. Remaja lainnya juga melakukan gontong royong pergi kesawah atau kebun milik keluarga atau kerabat untuk  mengambil atau memetik kebutuhan saat acara gawe seperti memetik buah dan daun papaya, memetik kelapa, menebang pohon pisang dan mengambil daunnya, daun singkong, nangka dan lainnya. epen gawe juga pergi membeli ragi rempah-rempah untuk memotong dan menggilingnnya.

Baca Juga :  Selfie Bencana : Kutukan Moral Sosial

Tahap kedua yang dimana pada saat hari ke Sembilan (nyiwak) yang dimana pada sore harinya sapi atau kambing di sembelih (jika ada) kalau tidak menyembelih sapi sendiri maka akan membeli daging yang sudah dipotong di jagal. Pada saat malam harinnya para tetangga dan remaja datang untuk membantu untuk mengupas kelapa dan bahan-bahan lainnya yang di jadikan kandok (lauk). Diman itujuga ada tmu yang berdatangan dan dilakukan zikir terakhir, dimalam itu juga epen gawe mengundang orang penyaer untuk membacakan nyaer sampe larut malam. Disaat tengah malam sekitaran jam 10.00 para bapak-bapak/remaja membuat aik kalas, yang diman burung dara di cingcang sampai kecil lalu dimasak dengan menambahkan kelapa yang udah dipotong kecil-kecil.

Tahap ketiga, pada hari h nya nyiwak (acara inti), acara inti ini dimulai dari pagi hari yaitu dari jam 08.00 sampai jam 13.00, para tamu ibu-ibu berdatang dengan membawa baskom yang berisikan beras, mie kering, mihun, gula dan lain sebagiannya. Setelah itu baskom yang di bawa para ibu-ibu tersebut akan diisikan nasi dan lauk berupa nangka, pisang dan jajan yang dibuat tersebut. Setelah acarannya selesai, pada saat sore hari semua keluarga pergi ke makam untuk menanam  batu nisan (talet mesan) yang udh di zikirkan pada malam nyiwak.

Tahap terakhir yaitu rebak jangkih, kegiatan penutupan nyiwak adalah rebak jangkih. Rebak jangkih merupakan tahapan penutup dalam tradisi nyiwak. Kegiatan ini di laksanakan di pagi hari tepatnnya di hari ke sepuluh kematian, kegiatan ini ditandai dengan merusak jangkih-jangkih (tunggu-tunggu) perapian yang di gunakan untuk memasak tersebut, bukan itu juga para remaja membantu untuk membuka terop/terpal.

Baca Juga :  Prahara Omnibuslaw di Tengah Masyarakat

Dari tradisi nyiwak ini kita dapat melihat nilai gontong royong yang dimana gontong royong merupakan nilai yang paling tampak dalam pelaksanaan tradisi ini, hal ini di lihat dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan selalu bersama-sama dan berkerja sama oleh masyarakat seperti kegiatan paik jaje, menyilak, memetik sayur, rebak jangkih dan sampai acara nyiwak dari pelaksaana sampai selesai acara. Gontong royong juga merupakan kebiasaan yang telah diwariskan oleh pendahulu, terlebih adalah pelaksanaan tradisi nyiwak ini, karena tradisi ini merupakan tradisi yang sangat sering di jumpai di beberapa wilayah Lombok.

Tradisi nyiwak adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Lombok, yang memiliki tahapan-tahapan tertentu. Tahap pertama melibatkan remaja dan ibu-ibu dalam membuat jaje dan terop. Tahap kedua melibatkan sapi atau kambing yang disembelih, serta pengupasan kelapa dan bahan lainnya. Tahap ketiga adalah acara inti yang dimulai dari pagi dan berakhir dengan penanaman batu nisan di Makam. Tahap terakhir adalah rebak jangkih, yang meliputi kerusakan perapian dan membuka terop.

Dalam tradisi nyiwak, nilai gontong royong sangat tampak, kebiasaan yaitu bekerja sama dan bersama-sama dalam kegiatan-kegiatan. Gontong royong telah diwariskan oleh pendahulunya dan menjadi bagian integral dari tradisi nyiwak.