Kisah TGH Ashiddiqi: Keramat Kampung Karang Kelok dan Qurban di Karang Kelok

Oleh: Saddam Satria Jagad

Religi102 Views

Allaahu Akbar- Walillaah ilhamd

Sebagaimana musim kurban di seluruh dunia maka Desa Karang Kelok sebagai bagian dari wilayah kecil yang menjadi bagiannya, juga turut merayakan transmisi ajaran dari Bapak Kebenaran- Nabi Ibrahim AS. Sudah banyak kisah hikmah yang terarsip rapi dalam Quran maupun Hadits tentang keteladanan Keluarga Ayahanda Ibrahim ini.

لما يرون من عظيم نعمه عليهم، وكمال قدرته وعظيم سلطانه، وتوالي مننه ودوام إحسان
karena mereka melihat keagungan nikmatNya kepada mereka, dan kesempurnaan kekuasaanNya , dan terus menerusnya nikmat-nikmatNya dan kekalnya kebagusan

كما قال تعالى: إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات يهديهم ربهم بإيمانهم تجري من تحتهم الأنهار في جنات النعيم 
 seperti firman Allah: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. 

Tidak hanya pada peristiwa Qurban, melainkan bagian dari ajaran beliau yang lain pada arsip berikut dalam menerima amanah kenabian dari Nabi sebelumnya (Nuh AS). Begitu pun Nabi Ibrahim dengan nakhwanya membela hak-hak manusia lain, dengan mengangkat senjata (membebaskan Nabi Luth). Lalu, melakukan ikonoklasme, yang secara gegabah dipahami sebagai intoleransi terhadap keberagamaan umat lain.

Ikonoklasme (Gerakan Penghancuran Berhala) yang dilakukan Nabi Ibrahim adalah menghancurkan konsep-konsep, nilai-nilai, dan model-model yang dijadikan adidaya saat itu untuk menindas dan melakukan ketidakadilan. Karena itulah disebut berhala, dan penganutnya disebut musyrik (pagan).

Apa yang sesungguhnya membuat Nabi Ibrahim menjadi bapak bagi bangsa-bangsa?

Nabiah Miryam/ Sayyidah Maryam, Nabi Musa, dan Nabi Harun telah membangkitkan nakhwa/ keadilan dalam diri Bani Israel, yaitu sekelompok manusia yang menerima dan mengakui para otoritas Transmisi dari Pohon Hayat Nabi Enokh. Mereka melawan Firaun, simbol pelaku sistem yang menindas dan tidak adil, meski tampak membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi dunia. Hal inilah yang menjadi referensi seharusnya bagi masyarakat Lombok- Sasak (Se-Sak_ Sang Maha Tunggal) yang terarsip dalam Babad Lombok yang mengisahkan Zaman Lombok saat itu yang sudah mengenal Nabi Nuh dalam bahteranya dalam pembuka Baris Kisahnya. Pancasilapun yang banyak menyerap kitab Negara Kertagama yang diketemukan di Lombok pun menjadikan Keadilan sebagai Sila ke- 5 dalam Pancasila. Bukan waktunya untuk menang sendiri- tapi sudah saatnya berbagi (Saling Kangen- Saling Asah- Saling Asuh dst).

Dengan nakhwa/ keadilan itulah, ribuan Bani Israel menerima wahyu di Sinai, dan menjadi “putra-putra Tuhan” istilah Alkitab. Sejak itulah yang disebut oleh Bani Israel adalah siapapun yang menerima, mengakui, dan menjalani Wahyu di Sinai itu (Ten Commandments) dalam Alkitab. Yang dalam perjalanan waktu dengan hadirnya Baginda Nabi Kasih Sayang, Sayyidina Muhammad SAW. kemudian disebut Alfurqan di dalam Alquran.

Jadi, Bani Israel bukanlah penganut Yudaisme, bukan suku bangsa (tribe), dan bukan pula bangsa (nation-state) maupun umat keagamaan tertentu. Bani Israel adalah siapa pun dari silsilah barokah Nabi Idris/Enokh yang menempuh lelaku Dekalog/ Alfurqan dalam petunjuk Tuhan. Dan catatan dalam kisah-kisah kitab sebelumnya juga termuat didalam Al-Quran yang menjadi warisan Baginda Nabi Muhammad SAW kepada kita berdasarkan wahyu.

Baca Juga :  Berbagi Terhadap Anak Yatim Balasanya Adalah Syurga

**

Karang Kelok adalah kampung yang sangat familiar bagi penduduk Kota Mataram. Kampung kecil yang berdasarkan data dpmptsp kota mataram berdasarkan luasan wilayah Kelurahan Monjok Barat seluas 0,50 km2 ternyata memiliki banyak tokoh keramat yang hingga saat ini banyak diziarahi. Sebut saja Tgh. M. Shiddiq yang membawa tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiah yang belakangan, Nama Beliau diabadikan menjadi Masjid Ashiddiqi dan Jalan TGHM. Shiddiq Karang Kelok, Kemudian adajuga TGH. Ahmad Badaruddin alias TGH. Ahmad Tretetet.

Sebagai bagian dari Warga Karang Kelok, penulis mengamati bagaimana solidaritas dan kerekatan antropologi dan sosiologi masyarakat Karang Kelok bercirikan kental ajaran Tasawwuf. Asumsi liar penulis menganggap ini adalah buah dari apa yang sudah ditanam oleh 2 orang keramat diatas (sebatas pengetahuan penulis_red). Tentu banyak wali yang memilih uzlah dan bersembunyi. Sebagaimana kelas Ulama yang memiliki ilmu Nafi’ yang menurut Imam Alghazali menyebutkan Ilmu Nafi’ adalah ilmu yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Kata nafi’ berasal dari kata nafa’, yang berarti “bermanfaat”. Imam al-Ghazali merumuskan konsep ilmu nafi’ untuk membentuk manusia yang beradab. Namun dalam proses perjalanan dalam menyampaikan ilmu ini Ulama memilih 2 jalur untuk ditempuh, yakni Jalan yang Mahsyur (Terkenal) atau malah memilih Jalan yang tersembunyi (Mastur), jalan ini dapat dilihat pada hasil/ buahnya. Dalam beberapa masa lalu, penulis teringat berdasarkan usulan beberapa Tokoh Masyarakat untuk menjadikan Makam TGH. M. Shiddiq sebagai Tujuan Wisata Religi ada beberapa tokoh masyarakat laiinya menolak. Pasalnya, tak jarang mereka mendapatkan pesan langsung melalui isyarah/ basyirah dari Arwah TGH.M. Shiddiq melalui kerekatan rasa bahwa beliau tidak ingin dikultuskan/ dikenal berlebihan. Namun, beliau menginginkan essensi mengenal Tuhan melalui upaya mengenal diri dalam jalur Tarikat Qadariyyah wa Naqsyabandiyah agar senantiasa dihidupkan.

**

Qurban kali ini, alhamdulillah panitia berhasil mengumpulkan 15 ekor sapi dan 2 ekor kambing. Momen indah dalam Qurban yang diselenggarakan dengan penuh kesahajaan dan egaliterian/ kebersamaan ini terlihat sejak momen beribadah shalat, bersalaman dan penyembelihan. Selain petugas umum yang kita temukan dibanyak tempat, terdapat warga lain yang khusus mempersiapkan logistik/ memasak panganan bagi mereka yang bergotong royong.

Dari apa yang penulis lihat, upaya sosial seperti ini memiliki dampak positif di masyarakat. Kekompakan dan kerekatan rasa dalam hubungan kekerabatan amat kental terasa. Sebagaimana tujuan falsafah pancasila, kitab negara kertagama, babad lombok dan juga Quran dan Hadits. Orang yang beruntung adalah orang yang awalnya buruk akhirnya baik. Bagi mereka yang dianggap kurang baik, tetap dirangkul dan semoga ketulusan itu melahirkan kebaikan dan kasih sayang sejati.

*Penulis adalah seorang salah satu alumni ToT Lemhannas/ Watannas RI