Menjaga Adab di Akhir Zaman

Oleh: AswanNasution

Religi107 Views

“Adab seseorang adalah tanda kesuksesan dan kebahagiaannya. Kurang adab adalah tanda kegagalan dan kesedihan. Tak ada karunia yang paling bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, melebihi adab. Dan tak ada musibah yang paling bisa menghalangi seseorang dari kebaikan dunia dan akhirat, melebihi kurangnya adab.” [Ibnu Qayyim Al Jauziyyah-Madarijus Salikin].

BERBAGI News – SESUNGGUHNYA agama diturunkan oleh Allah SWT, Islam diberikan oleh Allah kepada manusia ini untuk rahmat, agar kehidupan manusia ini menjadi mulia, menjadi bahagia, menjadi sukses, menjadi tenang, dan aman tentram di dunia maupun di akhirat.

Tetapi kemuliaan-kemuliaan yang terkandung dalam Islam, kehebatan-kehebatan yang terkandung dalam agama ini akan bisa kita dapatkan dan diperoleh kalau kita ini menjaga adab-adabnya.

Ketika umat ini tidak menjaga adab-adab terhadap agama maka berkah, kemuliaan-kemuliaan yang Allah berikan ini tidak akan datang, tetapi ketika umat ini pada zaman dahulu, zaman para sahabat, zaman para tabi’in, zaman-zaman yang setelahnya ketika masih betul-betul menjaga adab dalam segala hal, maka kemuliaan, kemenangan dan suksesan, Allah tampakkan dalam kehidupan umat Islam ini.

Jangan kita pikirkan hanya sekedar shalat, tetapi adab-adab shalat ini harus lebih kita pikirkan sehingga shalat kita ini mendatangkan ridha Allah, mendatang berkah dan pertolongan Allah SWT, bukan hanya ke masjid tetapi bagaimana adab-adab ke masjid kita jaga, bukan hanya belajar agama tetapi kita belajar adab-adab didalam belajar agama.

Adab ini adalah perkara yang paling besar. Baginda Nabi SAW telah mengirim surat ke raja Persia, mengajak raja Persia masuk Islam, tetapi raja Persia ini betul-betul tidak beradab, surat dari Baginda Nabi SAW ini disobek-sobek dan dihinakan, maka baginda Nabi ketika mendapat laporan tersebut maka Baginda Nabi mengatakan: “Mazzaq Allahu mulkahu” [Hancur kerjaan Persia]. Tidak berapa lama, kurang lebih 20 tahun setelah kejadian itu Persia habis di bahwah telapak kaki umat Islam.

Sebaliknya Nabi juga berkirim surat kepada raja Rumawi, Kaisar, Kaisar tidak mau masuk Islam tetapi dia masih menjaga adab, surat Nabi itu dimuliakan, utusan Nabi dimuliakan bahkan surat Nabi itu disimpan secara turun menurun, maka Nabi mengatakan: ” Tsabata mulkuhu” [Kerajaan Kaisar akan tetap]. Maka kerajaan Kaisar, kerajaan Rumawipun masih tetap ada. Jadi, orang kafir menjaga adab kehormatan kepada Baginda Nabi SAW mendapatkan berkah, bagaimana pula dengan orang Islam.

Dalam satu kisah diceritakan: “Ada seorang miskin datang kepada Baginda Nabi minta bantuan makan, maka oleh Nabi hanya dikasih satu buah kurma, maka orang misikin tadi menggerutu, Nabi kok ngasih cuma satu kurma, akhirnya dia miskin seumur hidupnya.

Dan ada seorang miskin yang kedua datang kepada Nabi maka dikasih satu buah kurma juga dia gembira, ini kurma dari Rasulullah, ini kurma dari Rasulullah, diciumi kurma itu, maka Allah membuka rizki orang miskin yang kedua ini sehingga rizkinya melimpah ruah.

Kisah-kisah seperti ini perlu kita renungi, kenapa umat sekarang ini dalam penderitaan terus-menerus dimana-mana, diantaranya sebabnya adalah karena adab tidak dijaga lagi, adab kepada Allah dan Rasulnya tidak dijaga lagi, masih membaca Al Qur’an, tetapi adab kepada Al Qur’an tidak dijaga, masih ke masjid tetapi adab kepada masjid tidak dijaga, masih belajar ilmu agama, tetapi adab kepada ilmu tidak dijaga.

Akhirnya berkah-berkah agama tidak lagi didapatkan. Maka sangat perlu dan harus mengajarkan kepada generasi kita tentang adab ini, beradab dengan Allah dan Rasulnya, beradab dengan Al Qur’an, beradab dengan agama, beradab dengan masjid, beradab kepada orang tua, beradab kepada ‘ulama, karena beradab kepada ‘ulama juga bagian dari beradab kepada Rasulullah SAW, karena ‘ulama adalah pewaris para Nabi.

Semoga Allah memberikan kepahaman kepada kita semua. Aamiin. Wallahua’lam bishshawab.

Referensi:
Kumpulan Nasihat, Abu ‘Alawi, 2021

Baca Juga :  Tanpa Zakat, Harta Binasa