Berbagi Nikmat Allah, Sebab disanalah Ada Keberkahan

Religi28 Views

“Sungguh yang halal dan yang haram itu jelas. Dan, diantara keduanya banyak yang hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

BERBAGI News – SUATU hari Imam Ahmad bin Hanbal dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu. ” Wahai, Syekh, saya seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya sangat miskin sehingga untuk menghidupi anak-anak, saya merajut benang pada malam hari. Sementara itu, kala siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak dan bekerja sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada. Karena saya tak mampu membeli lampu, pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.”

Imam Ahmad menyimak dengan serius penuturan ibu tadi dengan perasaan miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.

Imam Ahmad adalah seorang Ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya, hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, tetapi ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.

Namun, setelah selesai saya sulam, saya bimbang apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual? Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu? sebab saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”

Imam Amad terpesona dengan kemuliaan wanita itu. Ia begitu jujur di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram. Dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau siapa?”

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku. “Saya ini adik perempuan Basyar al-Hafi.”

Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut. Basyar al-Hafi rahimahullah adalah gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya.

Rupanya, jabatannya yang tinggi tidak disalah gunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya, bahkan adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela napas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara, menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu.

Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis sorban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.”

“Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkam? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara.”

Kemudian Imam Ahmad rahimahullah melanjutkan, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silakan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau.”

Rasulullah SAW, bersabda, ” Tidak akan masuk surga jasad yang diberi makan dengan yang haram.”[HR. Abu Ya’la, Al-Bazar, Ath-Thabrani].

Wahai, diri!
Jangan mencari kekayaan! Carilah keberkahan! Bagikan nikmat Allah yang kau terima kepada saudara, kerabat, tetangga, teman, dan orang-orang yang membutuhkan! sebab di sanalah keberkahan.

Wallahu a’lam bish shawab. Semoga bermanfaat.
[Sumber: Dikutip dari buku Menjadi Bijak & Bijaksana, Ibnu Basyar 2, 2016].

Baca Juga :  Akhirat Kampung Yang Abadi