Akhlak Dalam Islam

Penulis: Mahyudi

Religi125 Views

BERBAGI News – Kata akhlak bentuk jama’ dari al-khuluq atau al-khulq yang secara etimologi yang berarti: kelakuan, tabiat atau budi pekerti, kebiasaan atau adat istiadat, keperwiraan, kesatriaan, kejantanan, agama, kemarahan atau di sebut dengan al-ghadab. (Ensiklopedi islam, jilid 1, 1993: 102). Adapun menurut imam Al-ghazali akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. (al-Ghazali: 1989, 58).

Dan imam Al-ghazali juga membagi akhlak tersebut menjadi dua:

a. Akhlak mahmudah
Yang di maksud dengan akhlak mahmudah adalah yaitu akhlak yang baik atau akhlaqulkarimah. Dimana dalam penerapannya: jikalau ada seseorang yang melakukan suatu perbuatan, yang perbuatannya tersebut menimbulkan efek yang positif atau baik menurut akal dan syari’at islam, maka perbuatan tersebut termasuk akhlak yang baik.

b. Akhlak madzmumah
Dan yang di maksud dengan akhlaq madzmumah adalah yaitu akhlak yang tercela atau akhlak yang tidak baik, di mana dalam penerapannya: jikalau ada seseorang yang melakukan suatu perbuatan, yang perbuatannya tersebut menimbulkan efek yang negatif menurut akal dan syari’at islam, maka bisa di katakan perbuatannya tersebut termasuk akhlak yang tercela atau tidak baik.

Rasulullah SAW, menegaskan bahwa beliau di utus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. ( HR. Ahmad). Dan “mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmizi). Hadits nabi juga menjelaskan bahwa masuk surga atu neraka seseorang terkait erat dengan akhlaknya.

Di gambarkan beliau bahwa seorang yang taat beribadah, tetapi tidak berakhlak mulia di tempatkan di neraka, sedangkan seorang yang ibadahnya biasa- biasa saja sekedar yang di wajibkan kepadanya yang di kerjakannya tetapi memiliki akhlak yang baik, maka dia akan di syurga.

Perbedaan antara akhlak dengan budi pekerti, dan adat istiadat
Yang pertama: kalau akhlak mencakup pada peran lahiriah dan batiniah, maksudnya ada peran perbuatan dimana dalam perbuatannya tersebut di ikut sertakan dengan ketulusan hati. Contohnya jikalau ada seseorang yang melakukan perbuatan baik entah menolong orang dan sebagainya, ketika dia melakukan suatu pertolongan dia tidak mengharapkan imbalan, karena dia menolong niatnya ikhlas dan tulus dari hati.

Yang kedua: kalau budi pekerti atau adat istiadat di dalamnya mencakup peran lahiriah saja (saja) tanpa ada peran batiniah. Contohnya seorang pegawai kasir, pegawai tersebut di tuntut oleh bosnya untuk berperilaku baik ketika ada pelanggan yang belanja, dengan cara senyum, menyapa pelanggan dengan baik dan sopan. Akan tetapi kita tidak tahu apakah perilaku baik kepada pelanggannya tersebit niatnya ikhlas atau tidak, karena memang itu yang harus dia kerjakan, dan juga tuntutan dari bosnya untuk berperilaku baik kepada pelanggan.

Baca Juga :  Mengapa Mencintai Rasulullah SAW

Macam-macam akhlak
Dalam buku “pendidikan islam dalam perspektif filsafat”, yang di tulis oleh prof. Dr. H. haidar putra daulay, M.A. pada halaman 136”, di jelaskan tentang macam-macam akhlak.

Akhlak terbagi menjadi tiga: pertama akhlak kepada allah dan rasul, kedua akhlak kepada sesama manusia, dan yang ke tiga akhlak kepada alam semesta.
a. Akhlak kepada Allah
Akhlak kepada allah yaitu dengan cara selalu merasa kehadiran allah dalam kehidupan kita atau dalam kehidupan manusia.

Ketika engkau menyembah allah seolah olah engkau melihat dia, apabila engkau tidak melihatnya, pastikan dia melihatmu”. Dalam konteks akhlak kita kepada allah ini, hendaknya kita menanamkan sikap ketaqwa’an kita yaitu dengan cara menjalani semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan Allah SWT.

Sikap batin yang sedemikian ini melahirkan pula sikap muqarabah (merasa dekat dengan Allah), dan sikap muraqabah (merasa selalu di awasi Allah).

Akhlak yang baik berasal dari akidah yang baik pula, begitu juga bersumber dari pengamalan ibadah yang baik. Shalat akan melahirkan sikap terhindar dari fahsya dan mungkar, puasa membentuk manusia bertaqwa, zakat melahirkan kedermawanan, sikap pembelaan dan belas kasihan kepada fakir miskin, haji juga menjaga perilaku, tidak rafas (berkata tidak senonoh), fusuq (berbuat dosa), jidal (bertengkar). (Qs. Al-baqarah 197).

Dengan demikian akhlak mulia adalah buah dari akidah dan syari’ah yang benar yang di amalkan oleh si pelakunya dengan sungguh-sungguh dan benar. Dapat di katakana, ukuran dari akidah dan ibadah apa sudah di lakukan dengan atau di laksanakan dengan benar, tepat dan sungguh-sungguh oleh pelakunya, itu tercermin dari akhlak seseorang.

Apabila ada orang beribadah dengan rajin tapi masih melakukan yang fahsya dan mungkar, patut di pertanyakan, di mana kesalahan ibadah yang di lakukan orang ini? Rasul juga pernah bersabda tentang ini. Di laporkan orang kepada rasul bahwa ada seorang wanita yang taat beribadah, tetapi selalu menyakiti hati jiran tetangganya, rasul berkata bahwa wanita itu di neraka. Di laporkan orang pula kepada rasul bahwa ada wanita beribadah seadanya saja sekedar yang wajib yang di lakukannya, tetapi dia tidak menyakiti tetangganya, lalu nabi berkata wanita itu di syurga.

Baca Juga :  Mengapa Nikmat diganti Bencana?

Nabi SAW, bersabda: aku di bangkitkan untuk menyempurnakan akhlak mulia. (Riwayat Abu Daud).

b. Akhlak kepada Rasul
Akhlak kepada rasul yaitu dengan cara mencintainya, membelanya, melaksanakan sunnah nya. Semasa hidup nabi di tengah-tengah sahabatnya ada etika yang di gambarkan dalam al-qur’an terhadap para sahabat, seperti pada (Qs, al-hujarat:1-5), yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului allah dan arasulnya dan bertaqwalah kepada allah. Sesungguhnya allah maha mendengar lagi maha mengetahui.

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebagian yang lain supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedang kamu tidak menyadarinya.

Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah di uji hati mereka oleh allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar, sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.

Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (Qs. Al-hujarat ayat: 1-5).

c. Akhlak kepada sesama manusia
. Akhlak Kepada Diri Sendiri
Akhlak kepada diri memenuhi kewajiban dan hak diri, ditunaikan kewajiban dan dimanfaatkan atau diambil hak. Seluruh anggota tubuh manusia mempunyai hak dan harus ditunaikan.

Di sinilah terkait dengan pemeliharaan diri agar sehat jasmani dan rohani menunaikan kebutuhan diri, baik yang bersifat biologis maupun spiritual. Tidaklah dikatakan seseorang berakhlak kepada dirinya. apabila dia menyiksa dirinya sendiri, tidak memperdulikan kebutuhan dirinya.

• Akhlak Kepada Keluarga
Dimulai dari akhlak kepada orang tua, berbuat baik seperti yang tertera pada surah Luqman ayat 14. Begitu juga adanya kewajiban orang tua kepada anak, merawat, mendidik, memberi makan, pakaian, rumah, dan lainnya. Hak dan kewajiban suami-istri juga adalah bagian dari akhlak di rumah tangga.

Baca Juga :  Tanda-tanda Orang yang Ilmunya Bermanfaat

• Akhlak Kepada Tetangga
Rasul sangat memberi perhatian tentang masalah yang berkenaan dengan jiran atau tetangga, sehingga begitu perhatian yang diajarkan kepada Nabi untuk menghormati dan menyayangi tetangga, sampai-sampai ada sahabat nabi yang menyangka bahwa tetangga itu juga ikut mewarisi.

• Akhlak Kepada Masyarakat Luas
Di sini yang penting adalah perhatian serta peranan dan bantuan yang dapat diberikan kepada masyarakat. Akhlak terhadap masyarakat menyangkut bagaimana menjalin ukhuwah, menghindarkan diri dari perpecahan serta saling bermusuhan; inilah yang digambarkan dalam Al-Qur’an.,(Qs.al-hujarat ayat 10’12).

• Akhlak Terhadap Alam Semesta
Alam semesta ini sangat luas, jenis makhluknya beragam, ada benda padat, dan cair serta udara, ada flora dan fauna. Manusia juga mesti berakhlak terhadap hal itu semua. Alam semesta didefinisikan. yakni selain dari Allah, baik berbentuk alam ghaib maupun alam nyata. Akhlak terhadap alam semesta, terkait erat dengan fungsi manusia sebagai khalifah Allah di Bumi. Fungsi kekhalifahan manusia itu terkait dengan ekploitasi kekayaan alam semesta ini.

Fungsi manusia sebagai khalifah bermakna bahwa Allah telah memberi amanah kepada manusia untuk memelihara, merawat, memanfaat kan serta alam semesta ini.

Di pandang dari sudut akhlak manusia menjadikan alam sebagai objek yang dirawat, bukan sebagai objek yang akan dihabisi. Tidak diperkenankan seseorang merusak tanam-tanaman, membunuh hewan yang tidak diperkenankan membunuhnya.

Tidak diperbolehkan seseorang membuat kerusakan di Bumi. Sebagai mana yang di jelaskan dalam: Qs. Al-qasos ayat 77. Yang artinya:
“dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) Bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qasas. 77).

Demikianlah sedikit ulasan mengenai tentang akhlak, semoga dengan penjelasan di atas kita mendapat hikmahnya dan kita bisa terapkan dalam kehidupan sehari, dan hendaknya kita selalu melakukan hal-hal yang baik atau berakhlak yang baik, entah pada sesama manusia, hewan, tumbuhan atau kepada alam semesta, karena juga misi utama di utusnya “Rasulullah ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak dan menebarkan akhlak, hendak kita meniru beliau agar kita mendapat syafaatnya kelak di hari kiamat.

Aamiin allahumma aamiin.