Menyelamatkan Masa Depan Generasi

Oleh: ASWAN NASUTION

Religi731 Views

“Selalu ada harapan dan optimisme. Fakta memperlihatkan masih banyak pemuda yang sudah menyadari apa tugas mereka terhadap Islam dan umat Islam. Para pemuda ini yang mesti kita jaga, kita urusi dengan pembinaan yang benar. Mereka adalah harta kita, umat Islam.” [Ratu Ema].

SAAT ini kita melihat banyak fenomena yang memperhatinkan tentang generasi muda kita. Pemuda menjadi pelaku kekerasan hingga pembunuhan, pecandu narkoba, pelaku seks bebas, penyuka sesama jenis, dan banyak yang mengalami masalah kesehatan mental. Disisi lain ada pemuda Muslim yang merasa in-secure dengan identitas agamanya: Ada yang bangga dengan gaya liberalnya.

Mengapa kondisi memperhatinkan ini dapat terjadi? Bagaimana cara mengatasinya? Apa yang harus dilakukan oleh umat Islam untuk menyelamatkan generasi muda yang menjadi penentu masa depan Islam ini? Bisakah berharap pada negara hari ini? Bagaimana metode Islam mengarahkan pemuda agar menjadi agen pengubah peradaban.

Mengutip pendapat Ustadzah Ratu Erma, pada media al-wa’ie: “Sesungguhnya, semesta kehidupan hari ini diliputi oleh nilai materialis minus ruhiah. Paham materialisme mengajarkan kepada para pemuda bahwa sukses itu ketika mereka juara di ajang seni – budaya dengan suara dan goyangnya, juara olah – raga dengan otot dan tenaganya, juara olimpiade sains dengan otaknya.”

Ratu Ema selanjutnya mengatakan: “Sisi lainnya, media sosial banyak mengajari pemuda cara hidup bebas, obrolan komunitas pencinta seks, bebas didengar, menyalurkan hasrat seksual, sekena hatinya. Tak peduli apa kata agama. Yang penting apa yang menjadi maunya terlaksana. Sedih memang. Sangat-sangat sedih. Potensi berpikir kritis, inovatif dan semangat juang pemuda Muslim dibajak sedemikian rupa oleh kaum kolonialis, orientalis dan pembuat keputusan global. Mereka semua tidak ragu-ragu menggunakan senjata budaya, media, uang dan militernya untuk memperdayai pemuda. Tujuannya agar mereka tidak punya peran atau kepentingan dalam mendukung Islam. Mereka itulah yang telah memproduksi generasi umat yang tersia-siakan potensinya.” pungkasnya.

Dengan kondisi yang demikian, bagaimana peluang pemuda menjadi pemimpin masa depan?. Insya Allah, selalu ada harapan dan optimisme. Fakta memperlihatkan masih banyak pemuda yang sudah menyadari apa tugas mereka terhadap Islam dan umat Islam. Para pemuda ini yang mesti kita jaga, kita urusi dengan pembinaan yang benar. Mereka adalah harta kita, umat Islam. Hendaknya diantara umat ini ada kelompok yang menyusun langkah penyelamatan pemuda Muslim dari pengrusakan. Merekrut mereka menjadi pembela Islam dan menyiapkan mereka menjadi calon pemimpin umat.

Terkait dalam hal tersebut di atas, jika kita mau membaca sirah Rasulullah saw., kita dapati disekeliling beliau ada banyak pemuda. Ada Zaid bin Haritsah, penulis penerjemah surat-surat Rasulullah untuk kaum Yahudi. Zaid juga menjadi ‘telinga’ Rasul yang mesti waspada terhadap intrik-intrik Yahudi. Usianya saat itu 16 tahun. Ada Mushab bin ‘Umair, duta pertama dakwah Islam ke Madinah, berusia 22 tahun. Ada Ali bin Abi Thalib. ia berusia 8 tahun saat menjadi pemuda pertama yang menjadi Muslim.

Pada masa ‘Abasiyah kita mengenal Shalahuddin al-Ayyubi yang menakkukkan Baitul Maqdis. Pada masa Utsman ada Sultan Muhammad al-Fatih, yang menaklukkan Konstantinopel. Keduanya berusia muda. Dari sosok-sosok itu kita memahami bahwa pemuda Muslim adalah pionir perubahan, pembela agama, pemimpin penakluk dan para ulama terkemuka. Mereka terbina dengan akidah dan syariah Islam. Pemikiran, perasaan dan perilaku mereka sesuai dengan ketentuan Islam. Mereka dibina Rasulullah saw, untuk memahami Islam; menjalankan, mendakwahkan dan membela Islam. Kepada profil seperti itulah kita mesti mengembalikan para pemuda umat ini.

Dengan demikian, tentu kita harus menyiapkan para pemuda pejuang. Jika Rasulullah saw. melihat profil pemuda hari ini, mungkinkah mereka bisa ditunjuk menjadi seperti Zaid bin Haritsah yang tugasnya begitu berat?

Atau bisakah seperti Mushab bin ‘Umair yang meyakinkan tokoh Madinah untuk menerima Islam dan meratakan opini Islam di sana? Apa yang akan kita jawab sebagai umat Muhammad Rasulullah saw. saat ditanya: mengapa kalian tidak menyelamatkan mereka dan menjadikan mereka sebagai pejuang.

Masalah besar pada pemuda Muslim ini tidak mungkin diselesaikan di level keluarga saja. Tugas berat ini tidak bisa ditanggung orangtua semata. Saat ini kolaborasi kerja antara keluarga, masyarakat, kelompok dakwah dengan visi-misi yang sama dalam membina para pemuda harus dilakukan.

Jadi bagaimana caranya mewujudkan generasi hebat seperti itu pada masa sekarang; generasi yang berkhitmat untuk umat dan memiliki ketakwaan yang tinggi, tidak terbawa arus sekulerisme-kapitalisme. Semua elemen umat Islam harus bekerja untuk mengimunisasi pemuda kita. Caranya:

Pertama, membangun kesadaran konfrontatif dengan mendidik akidah Islam dati aspek ideologi dan politik. Dengan ini pemuda mempunyai benteng dan argumen untuk menolak ideologi jahat kapitalis sekuler. Hal ini hatus dilakukan oleh para da’i, ulama, mubaligh, guru, orangtua, keluarga, intelektual dan peran pendidikan.

Kedua, keteladan yang baik. Membuat teladan dari pemuda yang menjadi representasi generasi muda pejuang Islam. Mereka mesti dibimbing dan didampingi ketika berdakwah di komunitasnya; baik di sekolah, universitas, klub dan sebagainya.

Ketiga, membuat tim kerja. Diperlukan kelompok dakwah yang menjaga aktivasi pemuda, menciptakan lingkungan yang sehat, dan menguatkan mereka dengan sesama pejuang.

Keempat, kelompok dakwah perlu mengaktivasi pemuda dalam upaya counter-media. Membekali mereka dengan konten dakwah ideologis, mempromosikan konten dan menyebarkannya secara maksimal. Tujuannya untuk membangun kesadaran dan dukungan terhadap Islam di kalangan pemuda dan juga masyarakat.

Akhirnya, pemuda Muslim mesti berbekal ayat-ayat al- Quran, nas-nas as-Sunnah, menjafi penerang jalan bagi saudara-saudaranya. Sebabnya, pemuda Muslim tidak hidup untuk dirinya sendiri dan keinginannya, melainkan hidup untuk risalah Islam. Wallahu a’lam bish shawab.

Referensi: Media al-Wa’ie, membangun kesadaran umat, 2023.
Wasslam; al-Faqir Aswan Nasution.

Baca Juga :  Tiba Saatnya Menyambut Ramadhan, Memperbanyak Coretan Amal Kebaikan