by

Dir Pasca UIN Berharap Dicetak dalam Bahasa Inggris dan Arab “Buku Seni Berpikir dan Bekerja ala Bang Zul”

-Catatan-62 views

Mataram, BERBAGI News – Peluncuran buku “Seni Berpikir dan Bekerja ala Bang Zul di Same Hotel, Mataram berlangsung meriah. Akademisi, tokoh agama dan tokoh masyarakat dari berbagai etnis di NTB tampak hadir.

Buku setebal 356 halaman tersebut merupakan rekaman dan hasil sintesa Kepala Dinas (Kadis) Sosial NTB H. Ahsanul Khalik tentang sepak terjang Gubernur NTB Dr H Zulkieflimansyah sepanjang hampir tiga tahun memimpin NTB.

Acara peluncuran buku ini dihadiri langsung tokoh inspirator Dr Zulkieflimansyah. meski sederhana tetapi cukup meriah. Diawali dengan do’a, kemudian tari penyambutan “Wura Bongi Monica” dari Bima. Dilanjutkan dengan pemutaran film pendek yang mengisahkan perjalanan karir sang inspirator mulai dari tanah kelahiran Sumbawa sampai melanglang jagad. Kemudian kembali lagi ke NTB sebagai orang nomor satu.

Karir cemerlang Dr Zulkieflimansyah tidak diragukan lagi. Pengakuan datang dari para tokoh yang memberikan testimoni.

Seperti Dr. Falahudin Ketua PW Muhammadiyah NTB secara keilmuan, Bang Zul tidak diragukan. Menempuh pendidikan hingga ke luar negeri. “Tidak perlu lagi kita bicara tentang beliau,” ujarnya.

Tetapi dia mengingatkan, bahwa ada tantangan besar yang dihadapi. Yakni persoalan para petani. Terutama soal kelangkaan pupuk. Dia berharap sebagai pemimpin yang ilmu ekonomi sudah sangat bagus, mampu menemukan dan merumuskan kebijakan untuk mengatasi persoalan para petani.

Tokoh masyarakat Bima Jakarta, Zulkifli “Bezed” yang tidak lain adalah sahabat dekat sang inspirator mengatakan, sebagai pemimpin Dr Zulkieflimansyah memiliki modal yang tidak dimiliki oleh pemimpin lain.

Pertama selalu tersenyum. Tidak banyak pemimpin yang bisa selalu tersenyum dalam kondisi apapun.

Bang Zul memang selalu tersenyum, selalu tenang. Tidak terlalu reaktif dalam menghadapi satu keadaan yang ekstrim sekalipun. Seperti ketika menerima estafet kepemimpinan dalam kondisi NTB yang luluhlantak dihantam gempa bumi. Pun demikian saat mengarungi pandemi covid-19 saat ini.

Baca Juga :  Cerita DiBalik Tradisi Dilah Maleman Lombok

“Senyum adalah ibadah yang paling murah dan gampang. Tapi tidak banyak yang bisa melakukannya,” ujar Bezed.

Modal kedua, di atas kacamata sang inspirator ada berjuta gagasan. Dan yang ketiga di bawah kancing kedua, ada cinta untuk NTB.

“Tapi sayang kemauan dan kemampuan beliau dibatasi oleh berbagai aturan,” tambah Bezed.

Sementara itu, Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Mataram Prof. Dr. Suprapto, M.Ag berharap buku karya salah satu Kandidat Doktor UIN Mataram ini bisa diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan juga bahasa Arab. Kenapa? Karena buku tersebut sangat bagus, berimbang dan isinya bukan glorifikasi. Karena biasanya buku biografi pejabat isinya cenderung glorifikasi.

“Buku ini sangat inspiratif. Kalau bisa diterjemahkan ke bahasa inggris atau arab. Agar mendunia. Jika banyak yang tahu tentang pemimpinnya akan banyak investor yang melirik NTB,” sebut rektor.

Sedangkan penulis, Kepala Dinas Sosial NTB, H. Ahsanul Khalik, S.Sos., MH mengatakan,  ada banyak perbedaan kebijakan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya. Namun ini ditulis tidak bermaksud untuk membandingkan, tetapi dihajatkan untuk menjadi pembelajaran bagi generasi selanjutnya.

Sang inspirator Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc. menyambut buku tersebut dengan respon seperti biasanya. Lebih-lebih setelah berbagai testimoni diberikan.

Dia mengatakan, pendapat pujian ketika seseorang memiliki jabatan merupakan hal yang lumrah. Begitu juga dengan kritik. Sebagai kepala daerah, kritik menjadi hal yang biasa yang harus selalu diterima. Demi memacu untuk terus bekerja dengan lebih baik dari waktu ke waktu.

“Puja puji ketika orang ada jabatan itu biasa. Setelah puja-puji akan ada kritik dan keduanya harus diterima sama baiknya,” ujarnya.

Diakhir tulisan ini, penulis ingin mengutip kembali testimoni Zulkifli “Bezed”. Awalnya dia berpikir ajang peluncuran buku yang diselenggarakan oleh Pascasarjana UIN Mataram ini sebagai arena puja-puji. Tetapi ternyata banyak juga kritik dan saran untuk perbaikan NTB. (*)

News Feed