by

Festival Film Sumbawa #3, Ismail Basbeth: Film yang Baik, Berawal dari Ide yang Keren

BERBAGI News – Salah satu program Festival Film Sumbawa (FFS) #3: Perempuan, Alam, dan Ketahanan Budaya yang dinanti-nantikan oleh banyak orang adalah Workshop Produksi Film Pendek: Fiksi dan Dokumenter. Untuk mendapatkan undangan mengikuti workshop, para peserta harus mengirimkan ide cerita mereka terlebih dahulu lalu diseleksi oleh panitia. Antusiasme anak muda Sumbawa terhadap bidang perfilman semakin meningkat beberapa tahun terakhir. Minat yang cukup tinggi ini ditandai dengan ratusan ide cerita yang masuk ke meja panitia workshop. Tahun ini, meski masih dalam suasana pandemi, FFS menyiasati metode workshop dengan sistem hybrid yaitu kombinasi tatap muka dan daring. Peserta hanya dibatasi 50 orang sesuai dengan rekomendasi Satgas Covid-19 Kabupaten Sumbawa.

Bertempat di Aula Hotel Sernu, Sumbawa Besar, para peserta yang terdiri dari para alumni FFS, komunitas, dan mahasiswa di Kabupaten Sumbawa mengikuti sesi-sesi seru seputar produksi film, antara lain: Teknik Penulisan Cerita, Penyutradaraan, Manajemen Produksi, Tata Kamera, dan Teknik Editing. Selama tiga hari, kelas dibagi menjadi 2 (dua) kategori yaitu Fiksi dan Dokumenter. Para pemateri yang akan berbagi pengalamannya adalah para pembuat film professional antara lain: Ismail Basbeth (sutradara dan produser, filmnya antara lain Mencari Hilal, Keluarga Cemara); Ridla An Nuur (produser dan pengelola festival film); Tonny Trimarsanto (sutradara dan fasilitator workshop film dokumenter); Ds Nugraheni (sutradara film dokumenter);  Erlan Barsi (dosen dan praktisi film dokumenter); Barly J Fibriady dan Vera Lestafa (kamera person); serta Aline Jusria dan Greg Arya (keduanya adalah editor film).

Sesi pertama di hari pertama, Ismail Basbeth membagikan pengalamannya pada pembuat film pemula di Sumbawa Besar. Ia menjadi pemateri di dua sesi sekaligus, yakni bidang penulisan ide cerita dan penyutradaraan film fiksi. Sedikit biodata mengenai Ismail Basbeth, ia lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia pada tahun 1985. Ia adalah pembuat film otodidak, artis, penulis, alumni Berlinale Talent Campus di Jerman dan Asian Film Academy di Korea Selatan. Sejak tahun 2005 berkecimpung di dunia perfilman kemudian memproduksi dan menyutradarai berbagai film pendek dan film layar lebar yang menjadi sorotan di festival film bergengsi nasional dan internasional. Dia adalah produser dan pendiri Matta Cinema, Bosan Berisik Lab, dan Ruang Basbeth. “Film yang baik, semuanya berawal dari ide yang keren, unik, dan fresh,” ia menyampaikan pendapatnya melalui zoom meeting di hadapan audiens. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tidak ada film yang jelek, yang ada hanya film yang kurang memiliki kedalaman cerita dan mengeksplorasi ide.

Baca Juga :  Raden Kian Santang dan Hercules akan Tampil di Laga Perang Bintang Minggu

Pada saat sesi tanya jawab, Harsa Perdana, mahasiswa FIKOM UTS menanyakan tentang bagaimana caranya mengatasi perasaan kita sendiri bahwa cerita kita selalu kurang saat menulis? Menurut Basbeth, yang paling penting seorang penulis cerita harus tahu apa yang ingin ia sampaikan pada penonton. Kalau sekiranya cerita dan pesan yang kalian tulis sudah dapat diterima oleh penonton maka tugas kita sebagai penulis sudah tercapai. Jadi, ceritanya tidak perlu diperpanjang lagi. Pertanyaan lain datang dari Ulfha Lestari, mahasiswi FIKOM UTS yang mengatakan apakah riset itu penting dalam menulis cerita.

Keseruan sesi pertama dalam rangkaian workshop ini akan dilanjutkan dengan sesi-sesi lainnya yang dilaksanakan di Aula Hotel Sernu sampai 14 Oktober 2021 kedepan. Kegiatan ini merupakan kesempatan emas bagi para generasi muda Sumbawa yang tertarik belajar berproses dan membuat sebuah karya film dari hasil ide cerita yang mereka kembangkan bersama.

Penyelenggaraan workshop film pendek fiksi dan dokumenter ini merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para peserta yang merupakan filmmaker pemula yang sedang dalam tahap bergairah untuk belajar hal-hal baru. Peserta dalam workshop merupakan bagian dari ekosistem festival film, harapannya hasil pertemuan antara peserta dengan para filmmaker professional akan memancing keinginan berkarya lebih banyak dan lebih baik lagi sehingga ekosistem perfilman Sumbawa semakin tumbuh berkembang. (byu)