Segera Bertobat Sebelum Ajal Mendekat

Religi655 Views

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa muda [kekuatan]-mu sebelum datang masa tua [kelemahan]-mu; masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu; masa kaya [kecukupan]-mu sebelum datang masa kefakiran [kekurangan]-mu; waktu lapangmu sebelum datang masa sempitmu.” [HR. Al-Baihaqi].

BERBAGI News – SEPANJANG apapun umur manusia, tetap ia akan mati. Saat mati. lalu manusia menghadap Allah SWT di akhirat ia akan dihisab. Hisab Allah SWT atas manusia di akhirat nanti bukanlah perkara ringan.

Bahkan sekaliber Abu Bakar ash-Shiddiq RA. tetap merasa khawatir. Karena itu saat suatu ketika beliau pernah melewati seekor burung yang sedang hinggap di suatu pohon, beliau berkata.

“Berbahagialah engkau wahai burung, engkau terbang, lalu hinggap di pohon, kemudian makan buahnya dan selanjutnya engkau terbang lagi; sementara engkau tidak akan dihisab dan diazab oleh Allah SWT. Duhai. andai saja aku seperti dirimu…” [Al-Baihaqi].

Abu Bakar ash-Shiddiq RA adalah salah satu seorang sahabat yang dijamin masuk surga sebagaimana dikabarkan Rasulullah SAW. [HR. Ahmad qdan at-Tirmidzi].

Namun begitu beliau memiliki rasa takut yang luar biasa terhadap hisab dan azab Allah SWT sehingga berangan-angan menjadi seekor burung saja agar tidak ada peluang untuk dihisab dan diazab di akhirat.

Lalu bagaimana dengan kita yang tak dijamin masuk surga?! Tidakkah kita lebih takut akan hisab dan azab Allah SWT di akhirat nanti?! tentu saja kita takut. Rasa takut kita terhadap hisab dan azab Allah SWT sudah selayaknya mendorong kita untuk selalu taat kepada-Nya.

Karena itu sepantasnya kita segera bertobat sebelum ajal mendekat. Selayaknya kita bersungguh-sungguh taat kepada Allah SWT mumpung masih hidup di dunia sebelum tobat dan taat itu tak ada gunanya lagi di akhirat. Janganlah kita merasa hidup kita bakal lama, lalu kita lengah dan lalai.

Di sinilah pentingnya kita untuk selalu istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT sampai akhir hayat kita. Inilah juga nasihat Rasulullah SAW. kepada seorang sahabat saat dia meminta nasihat kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku dari Islam ini suatu ucapan yang mana aku tidak perlu lagi bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelah engkau. “Beliau menjawab. “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah, ‘kemudian beristiqamahlah!” [HR Ahmad].

Istiqamah adalah menempuh jalan [agama] yang lurus [benar] tanpa berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqamah mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Lahir dan batin. Meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Inilah pengertian istiqamah yang disebut oleh Ibnu Rajab al-Hanbali.

Sayangnya, untuk selalu istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT tidaklah selalu mudah. Pasalnya, sering godaan nikmat duniawi memalingkan kita dari ketaatan kepada Allah SWT.

Jika demikan keadaanya, kita mesti selalu menyadari bahwa kesenangan, kebahagiaan dan kenikmatan apapun di dunia ini sangat sedikit. Selain amat sedikit, semua nikmat dunia juga bersifat sementara dan fana.

Dengan demikian kematian akan menghehentikan semua itu. Cepat atau lambat. Karena itu, yuk kita selalu berusaha istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Katsir serta ulama lainnya rahimahumullah, “Sungguh siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu. Ia pun akan diwafatkan di atas kebisaan tersebut.” [Ibnu Katsir, Tafsiir al- Qur’an al-‘Azhiim, 2/101].

Artinya, jika kita hidup senantiasa dalam ketaatan kepada Allah SWT, Insya Allah kita pun diwafatkan dalam kedaan yang sama. Aamiin ya rabbal a’lamiin. Wallahu a’lam bish shawab.

Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Wassalam Al-Faqir Aswan Nasution, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat [NTB].

Baca Juga :  Siapakah Ahlul Qur'an itu?