Tidak Menunda-Nunda Untuk Bersedekah

Oleh: ASWAN NASUTION

Religi383 Views

“Seorang hamba berkata, “ini hartaku. Ini juga hartaku. “Padahal sungguh hartanya itu ada tiga bagian: yang dia makan, lalu habis: yang dia pakai, lalu menjadi rusak: dan yang dia sedekahkan, itulah yang menjadi simpanannya [untuk kehidupan di akhirat] [HR. Muslim].

HARTA sebenarnya adalah yang kita sedekahkan. Karena itu seorang Muslim sudah selayaknya lebih suka menumpuk-numpuk harta di akhirat, yakni dengan cara disedekahkan ketimbang menumpuk harta di dunia.

Apalagi banyak keutamaan bersedekah harta, sebagaimana telah banyak dijelaskan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Salah satu sedekah harta terbaik adalah yang diberikan kepada fakir miskin, orang-orang yang tengah mengalami kesulitan atau mereka yang sangat membutuhkan bantuan.

Terkait ini Nabi Muhammad SAW. bersabda, “Manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia lain. Amalan yang paling Allah cintai adalah membuat Muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahannya, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang Muslim untuk memenuhi keperluannya lebih aku cintai daripada beritikaf di masjid ini [Masjid Nabawi] selama sebulan penuh.” [HR. ath-Thabarani].

Adanya kemampuan sekaligus kemauan untuk bersedekah sebetulnya merupakan nikmat dari Allah SWT. Sebabnya di situ tentu ada pahala yang besar yang Allah SWT sediakan untuk kita.
Kata Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah rahimahullah:

“Andai saja orang yang bersedekah benar- benar paham bahwa sedekah yang dia berikan sampai di tangan orang fakir [yang di sedakahi], tentu nikmat orang yang memberi sedekah jauh lebih besar daripada nikmat orang yang menerima sedekah.” [Ibnu al-Qayyim, Madaarij as-Salikin, 1/26].

Dengan demikian hendaklah kita tidak membiasakan diri untuk menunda-nunda untuk bersedekah, untuk membantu fakir miskin, untuk menolong orang-orang yang kesulitan serta untuk melakukan ragam amal kebaikan lainnya. Sebabnya, setan tak pernah lengah untuk mencegah kita dari meraih pahala dan keberkahan dari Allah SWT.

Banyak teladan dari generasi salafush-shalih dalam hal bersedekah, khususnya kapada fakir miskin, atau membantu orang-orang kesulitan. Selain Rasulullah Saw dan para sahabat, kita bisa meneladani generasi salafush-shalih setelahnya. Diantaranya Imam Abu Hanifah rahimahullah.

Suatu hari Imam Abu Hanifah pulang dari mengunjungi salah seorang sahabatnya yang sakit. Saat diperjalanan, ia melihat seorang laki-laki yang berusah bersembunyi dan mencoba menghindar dengan mencari jalan lain. “Fulan, tetaplah di jalan yang engkau lalui!” seru Imam Abu Hanafiah dari kejauhan.

Saat lelaki itu tahu bahwa Imam Abu Hanifah telah melihat dia. Dia pun terlihat salah tingkah dan berhenti. Lalu Imam Abu Hanifah menghampiri dia. Mengapa engkau membatalkan untuk berjalan melalui jalan yang engkau telah laului? tanya Imam Abu Hanifah.

“Abu Hanifah,” saya kan masih memiliki hutang kepada Anda 10 dirham [sekitar Rp 100 juta]. Dalam waktu yang cukup lama hingga saat ini saya belum mampu melunasi utang itu. Karena itu saat melihat Anda, saya sangat malu kepada Anda, ” jawab lelaki tersebut.

“Maha suci Allah. Keadaanmu sampai seperti ini. Jika engkau melihat aku, engkau bersembunyi. Jika demikian. aku telah merelakan hartaku itu untuk engkau dan engkau sekarang sudah bebas dari tanggungan utangmu kepadaku, “jawab Imam Abu Hanifah [Al-Manaaqib al-Imaam Abi Hanifah,1/206].

Contoh lainnya Imam Abu Sirin rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi ‘in. Suatu saat ia pernah bertanya kepada seseorang. “Bagaimana kabarmu? ” orang itu balik bertanya. “Bagaimana jika ada orang yang memiliki utang 500 dirham, sedangkan ia juga harus menanggung nafkah keluarganya?

Imam Ibnu Sirin pun paham. Orang itu sedang menceritakan dirinya sendiri yang sedang mengalami kesulitan dan butuh uang. Karena itu Imam Ibnu Sirin segera masuk ke rumah dan keluar kembali dengan membawa uang 100 dirham [sekitar Rp 70.000.000.-].

Lalu ia berkata kepada orang tersebut. “Ini untuk melunasi hutangmu 500 dirham dan untuk menafkahi keluargamu 500 dirham.” [Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 6/1025].

Semoga kita bisa mengikuti jejak keteladanan generasi shalafush-shalih, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Ibnu Sirin dan masih banyak yang lainnya, dalam bersedekah harta.

Alhasil, yuk kita terus memperbanyak harta, simpanan kita di akhirat. Caranya, sedekahkan harta kita sebanyak-banyaknya, terutama untuk menolong fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dengan tidak menunda-nunda untuk bersedekah, lebih cepat lebih baik. Wallahu a’lam bish shawab.

Selamat membaca bagi pencinta ilmu dan amal, semoga bermanfaat.
Wassalam, al-Faqir Aswan Nasution, Batulayar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat [NTB].

Baca Juga :  Makna dan Hikmah Perjalanan Ibadah Haji