by

Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga Puluh Tiga)

BERBAGI News – Tempat pegangsingan yang semula riuh mendadak senyap ketika sebuah dokar berhenti di dekat arena. Seorang wanita turun dari dokar. Puluhan pasang mata tak berkedip. Mulut-mulut menganga. Para pemain gasing meninggalkan gasingnya berputar sendiri. Wajah-wajah melongo, terkesima melihat perempuan Belanda mengenakan topi lebar itu melempar senyum ke arah mereka. Ia berjalan menuju rumah Dokter Willem. Pintu rumah tertutup, ia mengetuk-ngetuk. Tapi tak ada sahutan dari dalam. Ia mengetuk lagi.

Melihat itu Abah Karim menghampirinya, membantu mengetuk lebih keras. “Rabiyah. Rabiyah! Ada tamu penting. Tamu istimewa. Rabiyah!” ia berteriak keras.

Pintu terbuka. Rabiyah muncul. Ia nampak terkejut.

“Dokter Willem ada?”

“Sebentar.” Rabiyah masuk kembali.

Ia mengetuk kamar Cornelia. Gadis itu membuka pintu. Rambutnya kusut masai. Kelopak matanya sembab.

“Non, perempuan itu.”

“Siapa?”

“Dia datang, Non, di depan. Janda itu.”

Darah gadis itu tersirap. Dadanya mendadak berdebar.

“Dia mau ketemu Tuan Muda,” kata Rabiyah lagi.

“Apa keperluannya?”

“Tidak bilang apa-apa dia, Non.”

“Klu begitu inaq beritahu Willem,” kata Cornelia lalu menutup pintu kembali.

Willem mempersilakan perempuan itu masuk.

“Kathelijn Monique,” kata wanita itu memperkenalkan diri.

Ia bercerita baru pertama kali ke Lombok. Orang tuanya berasal dari Haarlem, Holandia Utara, Belanda. Tetapi ia lahir dan dibesarkan di Surabaya. Suaminya, Hansen Krisoijn, meninggal setahun lalu.

“Hansen salah seorang sahabat saya. Saya sangat berduka cita, baru tahu kabarnya sekarang. Dulu saya sering ke tempatnya dekat Pelabuhan Ampenan. Saya juga bertanya-tanya, hampir dua tahun saya tak pernah jumpa lagi.”

“Dia sering menyebut nama Dokter Willem.”

“Sebentar,” kata Willem. Ia bangkit, mengetuk pintu Cornelia.

Gadis itu tak dapat menolak permintaan Willem menemui tamu. Ia melangkah dengan berat hati.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Enam Puluh Satu)

“Dia Kathelijn Monique, suaminya mendiang sahabat saya,” kata Willem.

Kathelijn memeluk erat gadis itu.

“Cornelia, ya? Saya sudah tahu dari orang-orang di pantai, ada gadis cantik adik Dokter Willem. Ternyata lebih cantik dari cerita yang saya dengar,” kata Kathelijn ramah. “Tapi kau agak kusut, Sayang. Sakit?

“Saya kurang enak badan,” jawab gadis itu. Ia duduk dan lebih banyak berdiam diri. Ia merasakan tubuhnya menggigil saat dipeluk wanita itu. Rasanya ia berada dalam pelukan iblis betina.

Di luar, orang-orang masih kasak-kusuk membicarakan kedatangan wanita Eropa itu.

“Meler (melotot) mata ente semua, ya,” kata Abah Karim.

“Tadi dia senyum. Kalian tahu? Itu senyum untuk saya,” menyahut Daeng Salam.

“Ente ngawak (ngawur), Hep. Bebalu itu hanya kenal ana.”

“Masak bebalu itu, Abah? Susunya masih padat, kenceng sekali,” timpal Ucup, seorang kuli pelabuhan.

Tamu itu wanita yang supel. Dengan cepat ia akrab dengan Willem. Ia bercerita banyak, bergantian dengan sang dokter. Tetapi Cornelia hanya mendengar dengan tak minat. Ia sangat benci dan sebal ketika melihat berkali-kali tangan Kathelijn mencubit lengan dan paha Willem, setiap lelaki itu sedang bercerita tentang sesuatu yang konyol. Perempuan gatal, makinya dalam hati. Baru bertemu seorang lelaki yang baru dikenalnya saja ia sudah seberani itu. Bagaimana pula saat ia berdua-duaan di rumahnya dengan Ahmad tadi pagi? Darahnya mendidih. Ingin rasanya ia menjambak rambut perempuan itu. Tetapi ia segera sadar, perempuan itu tamu kakaknya. Willem juga ada bersama mereka. Gadis itu berkali-kali menghela nafas. Ia sungguh merasa tak nyaman.

“Selalu ramai di sini, ya?” tanya Kathelijn.

“Ya, orang-orang bermain gasing setiap sore,” sahut Willem.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Lima Puluh Empat)

“Saya lihat ada tempat duduk-duduk cukup luas. Bagus sekali, saya suka. Unik.”

“Namanya berugaq. Mereka bergotong-royong membangunnya.”

“Nanti saya bilang pada Ahmad. Saya juga ingin punya berugaq. Ditaruh di mana bagusnya. Biar bisa ramai juga di sana.”

Cornelia seperti disengat sepuluh kalajengking sekaligus. Perempuan itu menyebut nama Ahmad. Sebegitu dekatkah dia melebihi dirinya dengan pemuda itu? Dan berugaq itu. Apakah Ahmad akan membangunkan berugaq untuk perempuan gatal, iblis betina itu? Ia sangat geram. Tapi ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Kathelijn mohon diri. Cornelia dengan malas mengantarnya ke depan, menunggu dokar.

Tapi janda itu tak sekedar mengucap pamit. Ia cium pipi kiri dan kanan Willem sambil memeluknya erat. Cornelia tambah dongkol. Melintas lagi bayangan Ahmad. Dadanya sesak. Berapa kali sudah Ahmad dipeluk seperti itu? Di rumahnya, di dalam kamar, berdua-duaan? Ia tak tahan merasakan api tersulut di sekujur tubuhnya.

Orang-orang di arena kembali terkesima. Dua bidadari hadir di tempat itu.

“Laa, ndek kutaok mbe sak kupileq jari’n (wah, saya tak tahu mana yang saya pilih jadinya),” bisik seseorang.

“Saya tutup mata,” sahut seorang lainnya.

“Cornelia lebih seleh. Bebalu tie keselang rue’n (Cornelia lebih cantik. Janda itu nampaknya binal).

“Timaq selang ndek’n kalah inges. Maeh bae. Serah lek ana wah Belande sak bebalu tie (biar binal tapi tidak kalah cantik. Biar untuk saya saja janda Belanda itu).”

Bisik-bisik belum berakhir, walaupun Kathelijn meninggalkan tempat itu, menumpang sebuah dokar.

*

Di dalam kamar Cornelia, mata Rabiyah menyala-nyala.

“Cobaq ndek arak tuan muda, tiyang mele sebiyaq langkang bebalu no baruq. Nine nguntik, bebalu selang (jika tak ada tuan muda, saya mau beri cabe selangkangan janda barusan. Perempuan genit, janda binal).”

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Lima Puluh Dua)

Cornelia tak menjawab. Dadanya masih terasa sesak, hatinya terbakar.

“Besok inaq carikan semerik janda liar itu,” ucap Rabiah menyebut nama semacam guna-guna yang membuat target merasa benci bukan kepalang. (Buyung Sutan Muhlis/Bersambung)

News Feed