by

Noni Jembatan Ampenan (Bagian Enam Puluh Delapan)

BERBAGI News – Bilik sehening kuburan. Opsir Jepang itu menggosok-gosok mata, belum yakin sesuatu yang nampak di depannya. Baru beberapa detik yang lalu ia masih melihat dua tubuh tergeletak di lantai. Sosok komandannya dan gadis Belanda itu. Tetapi tiba-tiba muncul sosok lain, seorang wanita Eropa berambut panjang mengenakan gaun tidur putih, bersimpuh di depan tubuh Cornelia.

Perempuan itu bangkit, berjalan ke arah pintu. Opsir di depannya berseru tertahan. Tubuhnya gemetar. Ia melihat wanita itu sama sekali tak memiliki wajah! Senjata di tangannya kembali menyalak. Tetapi berondongan peluru hanya menembus udara kosong. Tubuh wanita tak berwajah itu hanya sosok maya yang tak tersentuh.

Maghrib itu, orang-orang melihat sesosok wanita Belanda meninggalkan Taman Kapitan, berjalan menuju jembatan Ampenan.

“Arak noni mue molon (ada noni muka mulus, atau tiada wajah). Noni molon!” tutur sejumlah warga. Kabar kemunculan noni misterius beredar dari mulut ke mulut. Ampenan gempar.

Beberapa langkah lagi Ahmad hendak berbelok menuju kediaman Cornelia. Tetapi niat itu ia urungkan, ketika di ujung jembatan ia melihat seorang wanita berdiri seolah menantinya.

“Astaghfirullah. Sayangku, gadisku, secepat itukah? Innalillahi wainna ilaihi roji’un ” suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya tumpah, tercurah laksana hujan deras.

Kemunculan sosok itu membawa ingatannya saat terakhir kali bersama gadis yang beberapa hari lagi akan dinikahinya. Masih terngiang di telinganya, kata-kata yang diucapkan gadis itu. Ketika semalam ia menggendongnya menyusuri sungai, berjalan menuju rumah.

“Kamu menjaga dan melindungi Ampenan. Karena di kota ini saya tinggal. Karena orang-orang Ampenan peduli pada saya, sayang kepada saya. Orang-orang Ampenan telah menganggap saya bagian dari mereka. Dan saya tak menjadi orang asing di sini.”

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Dua Puluh Tiga)

“Bukankah janji saya kepadamu dan di depan Ghalib, seumur hidup saya berjuang dengan segala upaya untuk melindungi Ampenan? Cinta saya kepada kamu bukan hanya secara egois untuk kebahagiaan kita berdua. Juga mesti dirasakan manusia-manusia di luar kita.”

“Kamu mungkin belum sadar, Ahmad. Kamu memang telah mengucap janji. Tapi saya sendiri sudah menunjukkan kecintaan saya pada Ampenan.”

“Apa yang sudah kamu tunjukkan?”

“Dengan saya memilih tidak meninggalkan Ampenan sampai saat ini. Saya bahkan tidak peduli keadaan yang mengancam keberadaan saya di sini.”

“Terima kasih, cintaku. Maafkan saya sampai melupakan itu.”

“Bukan hanya itu, Ahmad. Jika kamu telah mengucap janji, saya membuat sumpah di depanmu sekarang.”

“Tidak perlu, Cornelia. Tidak perlu bersumpah. Saya selalu mempercayaimu.”

Tiba-tiba gadis itu melepaskan diri. Ia menjatuhkan diri di sungai. Tubuhnya basah-kuyup.

“Kenapa kamu melompat? Kamu basah. Kamu bisa sakit.”

“Kamu juga basah, Ahmad. Kamu mau basah untuk saya. Tapi saya tak egois, Ahmad. Saya selalu memikirkanmu. Saya tahu kamu selalu ingin menyenangkan saya. Kamu mau menderita untuk itu. Jangan, Ahmad. Deritamu juga derita saya. Bebanmu juga beban bagi saya. Susah-senang itu harus sama-sama kita rasakan. Sekarang tubuh saya basah, tapi saya tak kedinginan, Ahmad. Dalam keadaan bagaimanapun, berada di dekatmu saya akan selalu merasakan bahagia.”

“Terima kasih, sayangku.”

“Ahmad, dengarlah sumpah itu. Jika kamu mengucapkan janji untuk bakti itu seumur hidupmu, maka saya bersumpah untuk kota ini bahkan setelah saya tiada. Di Ampenan Tuhan mempertemukan saya denganmu. Di kota tempat diturunkannya cinta itu, cinta saya dan cintamu. Bersemi abadi. Kota tempat lahirnya cinta dua manusia berbeda bangsa. Kota yang menjadi kenangan, bahkan lebih terkenang indah dibanding tempat kelahiran saya. Sehingga wajar jika kita jaga selamanya,” gadis itu berhenti beberapa saat. “Setelah saya mengenalmu, saya banyak memahami hingga segala sesuatu yang mustahil dalam benak manusia awam. Ahmad, jika sumpah ini terkabulkan, di hembusan nafas terakhir saya, cinta itu seketika tereinkarnasi pada kehadiran satu sosok astral. Dia mewakili saya, sebagai perwujudan sumpah. Sosok tak berwajah yang menjaga setiap titik dan sudut-sudut kota cinta Ampenan sepanjang masa.”

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga)

“Cornelia, sayang. Mengapa kamu sampai berbicara seperti ini?”

“Karena seperti ucapanmu, kita harus akhiri hubungan dengan membuat sebuah ikatan baru. Saya kira ini waktu yang tepat mengucapkannya.”

Ahmad tiba di hadapan makhluk tak berwajah. Air matanya semakin berderai. Ia mengikuti sosok itu berjalan ke arah selatan. Mereka tiba di bilik itu.

Dengan dua tangannya ia mengangkat tubuh itu, seperti saat ia menggendongnya menyusuri tepian sungai semalam sebelumnya. Ia tak kuasa menatap lebih lama. Wajah tenang dalam sebuah senyuman. Setelah arwah meninggalkan tubuhnya pun, kecantikan gadis itu tetap memukau.

Ahmad tiba di Sungai Jangkok dengan jasad Cornelia dalam dekapannya. Di bawah jembatan mayat-mayat mengapung. Bau amis darah bercampur mesiu, menandakan di tempat itu baru saja berlangsung sebuah pertempuran.

Di tengah sungai dekat jembatan ia berhenti, menggumamkan sesuatu. Ia melihat hewan-hewan air mengelilinginya. Hewan-hewan berduka, menangis, meneteskan air mata. Sosok tak berwajah dibantu seluruh hewan air menarik tubuh-tubuh mengapung itu ke tepi sungai dan menguburkan mereka di tempat itu.

Aroma gaharu kembali merebak. Bau amis darah dan sisa-sisa aroma peluru lenyap seketika. Malam, 13 Juni 1942, sekitar Sungai Jangkok sunyi mencekam. Angin dan aliran air membisu. Di langit, awan tebal tak bergerak, seakan turut berkabung. Sayup-sayup terdengar ucapan Ahmad.

“Kamu mencium aroma itu? Aroma yang kamu suka. Tunggulah saya, sayangku. Di gerbang itu.”

Lalu hujan turun demikian lebatnya. Hujan paling lebat dalam lima tahun terakhir. Hujan nestapa, dibarengi bumi yang meratap.

*

Ahmad tak pernah muncul setelah itu. Namun beberapa tahun setelah Republik Indonesia merdeka, orang-orang kerap melihatnya di beberapa tempat. Beberapa kali ia membantu kapal-kapal yang karam, seorang diri. Orang-orang terkesima. Ia menarik kapal ke tepian hanya dengan seutas benang!

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga Puluh Satu)

Di tahun 1955, seorang gadis cantik mengunjungi bangunan tempat tinggal Cornelia Doutzen. Dialah Raodah, keponakan Rabiyah yang dibawa serta ke Pulau Jawa, di awal pendudukan Jepang. Gadis itu tidak menemukan seorang pun di dalam rumah.

Ia lalu berjalan, berhenti di tengah jembatan Ampenan, pada suatu sore. Ia menyanyikan sebuah lagu diiringi gesekan biola.

Ado anakku masmirah
Buaq ate kembang mate
Mule tulen ku bantelin
Sintung karing salon angin
Berembe bae side dende
Jangke ngene
Kembang mate kelepangna isiq angin
Laguk temoh side dende
Mauq bedait malik

Itulah notasi pertama yang diajarkan Cornelia Doutzen, gadis Eropa yang sangat dikaguminya. Ia bawakan dengan air mata yang mengalir deras tanpa disadarinya.

Raodah kembali meninggalkan Lombok, setelah ia tahu, ia tak punya siapa-siapa lagi. Ia berkelana di kelab-kelab malam, dari panggung pertunjukan ke panggung pertunjukan di kota-kota metropolitan. Di jantung Prancis, Paris, Denhaag, dan kota lainnya di Eropa. Ia sempat menggunakan nama Cornelia de Ampenan sebagai nama panggung. Dan lagu Angin Alus, tembang Sasak yang menghiba-hiba itu berkali-kali ia bawakan. Orang-orang hanyut. Dunia terbuai.

Ampenan, 03 Nopember 2019. (Buyung Sutan Muhlis/Tamat)

News Feed