Menggapai Ketenangan Hati dan Jiwa

Oleh: Aswan Nasution

Religi80 Views

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi sehingga hati [akal] mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” [QS. Al-Haj: 46].

SERING kali kita mudah tersulut emosi dan naik darah jika ada yang berbicara negatif tentang kita.

Setiap masalah selalu kita masukkan ke hati dan pikiran sehingga sangat mengganggu ketenangan, bahkan kesehatan.

Banyak energi yang terbuang dan kita tidak bisa fokus kepada hal-hal yang bermanfaat karena pikiran tersita oleh setiap permasalahan walau masalah kecil dan tidak penting.

Setiap hari rasanya jenuh, bosan, resah, gelisah, marah, tidak produktif dan hati terasa luka.

Di antara penyebab semua itu dan akar masalahnya adalah lingkungan!

Lingkungan yang selalu meng-update berita-berita negatif dan kemudian kita serap sehingga membekas di hati dan pikiran. Solusinya?.

Jika kita ingin mendapatkan ketenangan jiwa dan hati, kita harus memilih lingkungan yang mendukung untuk itu, yang jauh dari lingkungan yang memprogram hati dan pikiran dengan program negatif.

Mari kita sibukkan diri kita dengan segala kesibukkan yang positif yang membuat hati dan jiwa menjadi tenteram.

Dari sini kita mulai bisa menata dan merawat hati menuju hati bening.

Kita jangan mau dijajah dan dipenjara oleh masalah.

Jangan semua masalah direspons dan dikembangkan jika hal itu berdampak buruk dan negatif serta merugikan kita.

Intinya, kita harus pandai-pandai mengelola setiap yang kita dengar dan kita saksikan, mana yang perlu dipikirkan dan mana yang harus kita abaikan, agar gerdampak positif dan menguntungkan, bukan berdampak negatif dan merugikan.

Sungguh aneh bin ajaib jiwa dan pikiran kita. Semua bisa berubah dalam sekejap.

Ketika kita mencintai seseorang, seakan-akan orang itu dalam mata kita bak raja atau ratu, tampak indah.

Kemudian, ketika kita benci orang itu dan kita memandangnya seakan ia menjadi setan, semua tampak buruk.

Padahal, orang yang kita cintai dan kita benci itu bukanlah raja atau ratu dan bukan pula setan, ia tetap seperti semula.

Ternyata, perubahan itu terjadi dalam diri kita sendiri, dàlam cara menilai dan berpikir.

Hidup ini menjadi indah menyenangkan atau buruk membosankan adalah tergantung cara berpikir kita.

Oleh karena itu Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi [pula] kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 216].

Mari, kita kembangkan cara berpikir, bersikap, dan menilai yang baik. Positive thinking. Akhukum fillaah.

Wassalam.
Oleh: Al-Faqir Aswan Nasution.
Selamat membaca dan Semoga bermanfaat.
[Sumber: Menjadi Bijak dan Bijaksana-2, 2016].

Baca Juga :  Khadijah Istri Rasulullah SAW, Sebagai Istri Teladan