ilmu dan Akhlak adalah Harta yang Paling Berharga

Oleh: ASWAN NASUTION

Religi497 Views

BERBAGI News – ILMU adalah harta yang amat berharga, bahkan lebih berharga daripada kekayaan berupa materi. Paling tidak, begitu di mata Qadhi Jalaluddin al-Qibthi. Beliau adalah ulama Halab yang memiliki perhatian besar terhadap kitab para ulama. Beliau gemar mengumpulkan kitab para ulama, terutama yang ditulis langsung oleh penulisnya. Tak aneh jika beliau pun menjadi rujukan para ulama pada zamannya.

Suatu saat Qadhi Jalaluddin memperoleh kitab Al-Ansab yang ditulis tangan oleh penulisnya sendiri, yakni Imam as-Sam’ani. Hanya saja, kitab yang diperoleh kurang satu jilid. Qadhi Jalaluddin terus berusaha mencari naskah yang satu jilid itu, namun gagal.

Setelah beberapa hari Qadhi Jalaluddin mulai berputus- asa. Namun, tak lama ada beberapa sahabat beliau menemukan lembaran kertas di pasar peci Kota Halab yang sama dengan naskah yang dimiliki Qadhi Jalaluddin. Mereka menyampaikan informasi itu kepada Qadhi Jalauddin. Qadhi Jalaluddin pun mendatangi pasar itu. Ia menemui pembuat peci itu untuk bertanya mengenai kertas-kertas itu, yang ternyata merupakan bagian dari kitab as-Sam’ani yang ia cari-cari itu.

Pembuat peci itu berkata, “Saya membeli ini bersama kertas-kertas lainnya, lalu saya jadikan lapisan peci.” Mendengar jawaban pembuat peci itu, Qadhi Jalaluddin merasa sangat bersedih [I’lam an-Nubala, IV/426].

Karena amat berharganya ilmu itu, generasi Muslim pada masa lalu memiliki hasrat yang tinggi untuk menguasai ilmu. Untuk itu, mereka senantiasa berupaya sungguh-sungguh dalam belajar. Terkait kesungguhan dalam belajar ini, Ja’far al-Maraghi mengisahkan: Aku memasuki pemakaman di Tustar, lalu aku mendengar ada teriakan, “Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah; Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ” terus diulang-ulang daam waktu yang lama. Aku mencari tahu dari mana asal usul suara itu. Akhirnya, aku melihat Ibnu Zuhair sedang belajar sendiri menghafal hadits Al-A’msy. ” [Al-Jami’ al-Akhlaq ar-Rawi, hlm. 407].

Baca Juga :  Bila Suara Adzan Bergema, Membahana Membelah Dunia untuk Menyeru Manusia Memenuhi Panggilan Illahi

Kesungguhan dalam belajar juga ditunjukkan oleh Imam Abu Ishaq asy-Syiraji. Beliau adalah salah seorang ulama mazhab asy-Syafi’i yang terkenal dengan hapalannya yang kuat. Hal itu tidak nengherankan karena mujadadah Imam asy-Syiraji dalam belajar pun amat kuat. Mengenai mujahadah beliau dalam belajar, beliau pernah bertutur. “Aku biasa mengulangi setiap masalah qiyas sebanyak seribu kali. Jika aku selesai, aku menghapal qiyas yang lainnya. Demikianlah aku mengulangi setiap pelajaran seribu kali!” [Thabaqat as-Syafi’yyah al-Kubra, IV/218].

Demikian pula terkait dengan Akhlak mulia, juga ditunjukkan oleh Imam Abdurrahman. Salah seorang ulama mazhab Syafi’i ini terkenal dengan sifat wara’-nya. Khurrah binti Abdurrahman as-Sinjawi, istrinya menyampaikan, bahwa suaminya pernah tidak makan nasi sekian lama. Pasalnya, penanaman padi membutuhkan banyak air. Saat itu. di wilayah tempat tinggalnya, yakni Marwa, air tidak banyak sehingga menjadi bahan rebutan.

Akbibatnya banyak petani yang melakukan kezaliman terhadap petani lainnya. Inilah yang menjadi alasan mengapa Imam Abdurrahman tidak makan nasi sekian lama. [Lihat: Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, V/102].

Akhlaq mulia yang juga ditunjukkan oleh Syaihk ad-Damiri ad-Darini, juga salah seorang ulama besar mashab Syafi’i. Suatu saat ulama yang hidup pada abad ke 8 Hijrah ini melakukan perjalanan di wilayah Mesir dengan mengenakan sorban yang telah usang yang telah berubah warnanya hingga terlihat kebiru-biruan, seperti warna sorban yang dipakai pendeta Qibthi [Kristen Koptik].

Karena itulah ada seorang yang tertarik mendekati beliau untuk mendakwahi beliau. Ia menyuruh. Syaihk ad-Damiri masuk Islam dan bersyahadat, “Katakanlah aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad Rasulullah.” Tanpa sedikitpun tersinggung, apalagi marah, beliau segera mengucapkan kalimat syahadat. Kemudian orang itu berkata; “Pergilah kepada Qadhi untuk bersyahadat di hadapan beliau.”

Baca Juga :  UAS akan menggelar Tabligh Akbar di "Pulau Seribu Masjid"

Syaihk ad-Damiri pun pergi dengan diarak oleh banyak anak kecil di belakang beliau, sebagaimana yang biasa terjadi pada orang.

Setelah Syaihk ad-Damiri sampai ke tempat Qadhi, sang Qadhi yang cukup mengenal Syaihk ad-Damiri pun terheran-heran. “Ada apa ini, wahai Syaihk?” Syaihk ad-Damiri menjawab, “Dia menyuruh aku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Aku pun mengucapkannya. Lalu dia menyuruh aku pergi menghadap Anda untuk mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Anda. Karena itu aku pun datang kepada Anda.” [Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, VIII/200].

Demikian pula akhlak yang mulia pun ditunjukkan oleh Imam Asy-Sya’bi. Suatu saat beliau dicela oleh seseorang. Namun, beliau tidak risau apalagi marah. Beliau hanya menanggapi si pencela dengan berkata, “Jika aku seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni aku. Namun, jika aku tidak seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni engkau.” [Imam al-Mawardi, Adab ad-Dunya’ wa ad-Din. hlm. 216]. Wallahu a’lam bish shawab.

Referensi: al-Wa’ie, 170/31/10/2014.
Selamat membaca semoga bermafaat
Wassalam; al-Faqir Aswan Nasution, Batulayar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat [NTB].