Halal Bihalal Sarana Untuk Merekatkan Kembali Ukhuwah Islamiyah

Religi531 Views

Mataram, BERBAGI News – Acara Halal Bihalal diselanggarakan yang tergabung dari para aktivis [kelompok diskusi rutin kajian tentang kemajuan dan ke-Islaman] atau komunitas dakwah Nusa Tenggara Barat [NTB], tepatnya pada hari Sabtu,13 Mei 2023M/23 Syawal 1444H. Pukul 09.00-12.30 Wita, yang mengambil tempat acara di Lombok Vaganza Hotel & Convention Mataram.

Dalam kegiatan itu berkesempatan hadir para tokoh Agama, tokoh Pendidikan, tokoh pemuda, toko masyarakat, aktivis dakwah, juga para mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai Perguruan Tinggi yang ada di sekitar kota Mararam dan undangan lainnya. Diantaranya ada Ust. H.Sri Bintoro Hadiwidjojo, Ust. H. Mahmud Hurri, Ust. Aswan Nasution, Ust. Zainul, Ust. dr. Sapto Sutardi, Ust. Sulaiman, Ust. H. Husni Habibi, Ust. Rozi Iskandar, ust Kurniawan dan aktivis lainnya.

Acara Halal Bihalal [liqa syawal] ini diadakan sebagai sarana untuk mempererat ukhuwah antar sesama umat Islam, menuju kemuliaan dan kaum muslimin, adapun rangkaian kegiatannya; tausiyah syawal, talks syawal, dialog syawal, doa dan penutup dan diakhiri dengan ramah tamah para sesama tokoh-dan undangan lainnya.

Ada dua pemateri yang luar biasa dan mumpuni yaitu; Ustadz H. Husni Habibi dan Ustadz Rozi Iskandar, sebagai hostnya adalah Ust. dr. Sapto Sutardi. Maka dalam hal ini ada baiknya, kami kutipkan dan rangkum dalam pemaparannya yang terkait tentang temanya “Merekatkan kembali ukhuwah Islamiyah adalah sebagai berikut:

“Bagi kaum Muslimin khususnya negeri ini, Syawal identik dengan bulan silaturahmi; bulan saling mengunjungi; bahkan bulan saling berbagi. Singkatnya, Syawal-yang didalamnya suasana Hari Raya Idul Fitri masih bisa dirasakan-adalah bulan yang biasa dijadikan momentum untuk merekatkan tali persaudaraan; baik antar keluarga/kerabat, antar kolega/teman, antar tetangga maupun antar sesama Muslim secara umum.”

Baca Juga :  Bersegera Untuk Bertaubat

Selanjutnya menurut nara sumber “Sayang sekali, tahun-tahun belakangan ini, khususnya di negeri ini, persaudaraan antar umat Islam [ukhuwah islamiyyah] seolah mengalami keretakan. Kaum Muslim seperti mengalami keterbelahan. Bahkan sebagian mereka seakan-akan terus saling bermusuhan”.

Alhasil, spirit Idul Fitri yang identik dengan silaturahmi dan saling memaafkan satu sama lain, atau suasana lebaran yang penuh dengan kekelurgaan, keakraban dan persaudaraan, seolah tak berbekas sama sekali.

Tentu sudah selayaknya kita merasa prihatin. Pasalnya, mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim. Sesama kaum Muslim itu bersaudara. Sesama saudara itu sejatinya harus saling menghormati dan menyayangi. Bahkan seharusnya saling menjaga dan melindungi. Bukan saling menghina dan merendahkan. Apalagi saling mem-bully dan mencaci maki. Hal ini tentu terlepas dari adanya perbedaan pilihan politik masing-masing pihak. Apalagi sekedar adanya perbedaan pendapat dalam masalah-masalah furu’iyyah yang memang dibolehkan.”

Foto para undangan yang sangat antusias mengikuti tausiyah dari nara sumber serta pelaksanaan kegiatan jalannya Halal Bihalal.

Nara sumber berikutnya menyampaikan: “Tentang wajib memelihara ukhuwah islamiyah, umat Islam harus menyadari bahwa memelihara ukhuwah islamiyah adalah wajib. Karena itu lalai atau bahkan merusak jalinan ukuwah islamiyah adalah dosa, sebagaimana kewajiban meninggalkan bentuk kewajiban- kewajiban yang lain.

Kewajiban ini didasarkan pada dalil al-Quran maupun as-Sunnah. Diantaranya adalah firman Allah SWT menyebutkan: “Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah saudara-saudara kalian dan bertkwalah kalian kepada Allah agar kalian mendapat rahmat. [QS. al-Hujarat [49]: 10].

Adapun dalil as-Sunnah, Rasulullah bersabda: ” Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan. Sebagian menguatkan sebagian lainnya”. [HR. Bukhari]. Beliau juga bersabda:”Kalian tidak masuk surga hingga kalian saling mecncintai”. [HR. Muslim].

Baca Juga :  Hasud Bisa Menghapus Semua Amal Kebajikan

Selain itu banyak hadits yang menyebut bentuk-bentuk praktis dari manefestasi ukhuwah islamiyah diantara sesama Muslim secara individual. Di antaranya adalah:larangan meng-ghibah, memfitnah, memata-matai [tajassus], membuka aib dan menipu sesama Muslim; larangan berdusta dan kikir kepadanya; larangan menghina, mencela, melanggar kehormatan.

Selanjutnya, nara sumber menekankan tentang wajib bersatu kaum Muslim: “Jelaslah, bahwa kaum Muslim bukan saja memelihara ukhuwah Islamiyah. Mereka pun wajib bersatu atas dasar akidah Islam dan haram berpecah belah. Agar kaum Muslim bersatu dan tidak berpecah belah, Allah SWT menegaskan:

“Yang diperintahkan ini adalah jalanku yang lurus. Karena itu, ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain karena jalan-jalan itu bakal mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian adalah diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa”. [QS. al-An’am [6]: 153.

Ayat tadi dengan terang menunjukkan bahwa jika umat Islam tidak benar- benar mengikuti ajaran Islam, malah mengikuti jalan-jalan yang bertolak belakang dengan Islam, niscaya mereka akan tercerai berai dari jalan Allah SWT. Itulah sebetulnya yang disadari atau tidak- dialami kaum Muslim saat ini saat mereka meninggalkan dan mencampakkan syariah Islam.

Karena itu mari kita merekatkan kembali ukhuwah [persaudaraan], kuatkan kembali wihdah [persatuan] dan eratkan kembali mahabbah [saling cinta]. Dengan itu niscaya akan lahir al-quwwah [kekuatan]. Dengan itu kita secara bersama-sama akan mampu meraih ‘izzah [kemuiaan] di dunia dan akhirat. Alhasil, saatnya kita hidup di bawah naungan Panji La ilaha ilaiLah Muhammad Rasulullah saw. Bukan di bawah naungan panji-panji ‘ashabiyah.”

Setelah pameteri menyampaikan tausiyahnya, maka diberikan kesempatan untuk menyampaikan pemikiran dan pangannya serta berdiskusi, ternyata para undangan sangat antusias guna menanyakan hal-hal aktual yang terkait dan yang dialami serta keberadaan umat Muslim saat ini di negeri yang tercinta ini, baik tentang ekonomi, politik, pendidikan, sosial juga hukum dan keadilan dll.

Baca Juga :  Hakikat Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW

Akhirnya acara Halal Bihalal [Liqo Syawal] ditutup dengan pembacaan do’a yang dipimpin Ustadz H. Sri Bintoro Hadi Widjojo [salah satu tokoh penddikan di NTB]. Aamin ya rabbal a’lamiin.
WalLahu a’lam bi ash-shawab.