Bekerja Demi Kejayaan di Bumi dan Akhirat

Oleh: Aswan Nasution

Agama665 Views

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” [QS: An-Najm: 39-41].

AGAMA ISLAM mengajarkan bahwa bekerja bukan sekedar aktivitas mencari makan tetapi sekaligus sebagai ibadah. Kejayaan di dunia sama pentingnya dengan kejayaan di akhirat. Hanya dengan bekerja keras dalam arti yang luas inilah umat Islam dapat memerangi kemiskinan, kehodohan dan keterbelakangan budaya.

Tetapi mengapa masih banyak umat Islam yang belum mampu hidup secara layak, atau bahkan masih terjerat oleh kemiskinan obsolut yaitu ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan?

Tesis Weber di antaranya mengungkapkan bahwa kemajuan ekonomi suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran agamanya. Dan Carl Marx menilai bahwa agama adalah candu yang melemahkan etos kerja manusia. Benarkah pendapat mereka?

Tidak! Pendapat mereka salah. Karena Islam justru sangat menghargai karya, menganjurkan setiap orang untuk bekerja keras, termasuk belajar dengan tekun. Jadi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan budaya yang diderita sebagian muslim di Indonesia dan negara-negara Dunia Ketiga lainnya, tentu bukan karena Islamnya. Melainkan, disebabkan oleh faktor sejarah yaitu penjajahan selama 3,5 abad lebih dan budaya lokal yang kurang menghaŕgai dunia usaha. Dua faktor itulah yang akhirnya melahirkan kebodohan dan kemiskinan, dan selanjutnya keterbelakangan budaya. (Dikutip dari buku Bekerja sebagai Ibadah, oleh; Ali Sumato Alkindi].

Mendalami Konsep Ibadah

Doktrin ibadah seharusnya tidak dipahami secara dangkal. Karena selama ini masih banyak yang menafsirkan ibadah dengan cara yang sangat sempit [ibadah mahdhoh] atau hanya yang menyangkut aspek-apek ritual saja seperti shalat, puasa dan haji. Sebenarnya kandungan makna dalam doktrin ibadah lebih luas dari sekedar itu, termasuk mencari rezki.

Allah memerintahkan: ” Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu berjaya” [QS: Al-Jum’ah: 10].

Dengan demikian bekerja seharusnya tidak berhenti untuk kerja itu sendiri, bukan pula sekedar mencari uang tetapi sekaligus ibadah. Karena itu kesungguhan dalam mengerjakan shalat atau menunaikan puasa di bulan Ramadhan seharusnya sama semangat dalam bekerja.

Bekerja dengan Api Islam

Salah satu api Islam adalah semangat bekerja, karena bekerja adalah ibadah. Dengan niat bekerja inilah umat Islam akan hidup dan kuat. Sedangkan berdiam diri berarti lemah dan mati.

Islam mengajak penganutnya untuk selalu bergairah, penuh optimisme dalam menghadapi hidup ini, bukan menjadi makhluk yang lemah, pemalas, bodoh dan miskin. Dalam menghadapi hidup ini, Islam bukalah agama yang berorientasi masa lalu melainkan berorientasi masa depan yaitu demi kejayaan di bumi dan akhirat.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di muka bumi sebagai perhiasan baginya, untuk itu Kami menguji mereka siapa di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan pula apa yang di atasnya nenjadi tanah yang rata lagi tandus.” [QS: Al-Kahfi: 7-8].

Allah telah menetapkan bumi ini sebagai tempat untuk mencari fasilitas ibadah. Manusia dipersilahkan mengeksplorasi bumi dan isinya demi kepentingan ibadah, seperti kejayaan diri, keluarga, negara dan umat manusia pada umumnya. Orang-orang yang tidak mau memanfaatkan kesempatan ini akan merugi dan mengalami ketimpangan serta kesesatan.

Allah Mencintai Orang Kuat

Setiap muslim harus menjadi manusia yang kuat mentalnya, tidak lemah, dan suka menghargai hasil kerja keras. Karena hanya dengan mental yang kuat kita dapat menigkatkan prokduktivitas kerja. Apapun alasannya, Islam lebih menghargai yang kuat daripada yang lemah. Untuk itu setiap mukmin harus berusaha menjadi umat yang kuat dalam berbagai aspek kehidupannya.

Rasulullah Saw. bersabda: “Mukmin yang kuat lebih disenangi Allah daripada mukmin yang lemah sekalipun masing-masing ada kebaikan. Berkeinginan keraslah kepada sesuatu yang memberimu manfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah …[HR: Muslim].

Kata ‘kuat’ di atas tentu saja bukan hanya sekedar fisik namun juga semangatnya seperti perintah Nabi. ‘berkeinginan keraslah’. Dari keinginan inilah manusia kemudian mempunyai semangat yang kemudian diwujudkan dalam bentuk usaha. Keinginan kaya adalah cita-cita yang mulia, karena kekuatan ekonomi akan mempermudah ibadah. Keinginan kaya inilah yang kemudian melahirkan semangat atau etos kerja untuk meraih cita tersebut.

Dengan demikian, tanpa bekerja manusia akan mengalami berbagai kesulitan hidup, termasuk dalam menjalankan ibadah-ibadah tertentu seperti membayar zakat dan pegi haji. Itulah sebabnya Islam melarang umatnya hidup bermalas-malasan, dan bekerja hukumnya wajib.

Meski demikian harta bukanlah tujuan akhir dari hidup. Harta hanyalah fasilitas untuk mempermudah manusia menjalankan kekhalifaannya di dunia. Maka dalam berkerja tidak boleh dengan menghalalkan segala cara.

Bekerja ada batasnya yaitu etika kerja Islami. Dan bagi yang berhasil dalam nencari harta diwajibkan untuk senantiasa memperhatikan saudaranya yang masih lemah yaitu dengan zakat maupun infaq dan sedekah. Allah tidak hanya membeli jiwa manusia tetapi juga hartanya dengan imbalan surga. Wallahu ‘alam bish shawab.

Refensi :
-Bekerja sebagai Ibadah oleh: Ali Sumanto Alkindi, 1997.
-Bacaan lainnya.

Baca Juga :  Dakwah Berbasis Wakaf Al-Quran