Tujuh Tanda-Tanda Cinta Kepada Allah

Oleh: Aswan Nasution

Agama1063 Views

“Jika cinta kepada Allah sudah sempurna, tak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan beribadah kepada-Nya,” [Imam al-Ghazali]

BANYAK ORANG mengaku mencintai Allah, tetapi mereka harus mempertanyakan kembali, semurni apakah kecintaan mereka itu? Kecintaannya itu harus diuji, di antaranya dengan tidak membenci kematian, karena seorang “teman” tidak akan takut bertemu dengan “teman” nya. Nabi saw. bersabda, “Siapa yang melihat Allah, Allah pun ingin melihatnya.”

Memang benar, seorang pencinta Allah yang ikhlas mungkin saja takut akan kematian sebelum tuntas mempersiapkan dirinya untuk kehidupan akhirat. Namun, jika ia benar-benar ikhlas, pasti ia akan bersemangat mempersiapkan diri.

Paling tidak ada tujuh tanda-tanda cinta kepada Allah, yang pertama adalah: bahwa seseorang mencintai Allah adalah tidak takut mati.

Tanda yang kedua adalah: kesediaan seseorang untuk mengorbankan segala hasrat dan kehendaknya demi mencapai kehendak Allah. Ia harus mengikuti dan melaksanakan segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada Allah seraya menjauhkan diri dari segala yang menjauhkan dari Allah.

Kendati demikian, orang yang pernah melakukan dosa tidak lantas divonis tidak mencintai Allah sama sekali. Keberdosàanya itu semata-mata membuktikan bahwa ia tidak mencintai-Nya sepenuh hati. Wali Fudhail berkata kepada seseorang, “Jika ada yang bertanya kepadamu, cintakah engkau kepada Allah, diamlah; karena jika kau jawab, ‘Aku tidak mencintai-Nya, ‘kau telah kafir; dan jika kaujawab, ‘Ya, aku mencintai-Nya,’ berarti kau dusta karena banyak perbuatan-mu yang betentangan dengan pengakuan-mu.”

Tanda ketiga adalah: pikiran yang selalu hidup dan segar berkat zikir kepada Allah. Setiap saat, ingatan kepada-Nya tak pernah lepas dari pikirannya. Seorang pencinta pasti akan terus mengingat kekasihnya. Dan jika cintanya itu sempurna, tentu ia tidak akan pernah melupakan-Nya. Meski demikian, mungkin saja cinta kepada Allah tidak menempati tempat utama di hati seseorang, namun kecintaan akan cinta kepada Allah menguasai hatinya. Kedua hal itu, cinta kepada Allah dan kecintaan akan cinta kepada-Nya, sungguh berbeda.

Tanda cinta kepada Allah yang keempat adalah: mencintai Al-Qur’an, firman Allah, dan mencintai Muhammad Nabiyullah. Lalu, jika cintanya benar-benar kuat, ia kan mencintai semua manusia, karena semua adalah hamba Allah. Bahkan, cintanya akan meliputi seluruh makhluk, karena orang yang mencintai seseorang akan mencintai karya-karya cipta dan tulisan tangannya.

Tanda yang kelima adalah: adanya hasrat yang kuat untuk beruzlah demi tujuan ibadah. Seorang yang mencintai Allah senantiasa mendambakan datangnya malam agar bisa berhubungan dengan Tuhannya tanpa halangan. Jika ia lebih menyukai bercakap-cakap di siang hari dan tidur di malam hari ketimbang melakukan uzlah seperti itu, berarti cintanya tidak sempurna.

Tanda yang keenam adalah: perasaan ringan dan mudah untuk beribadah. Seorang wali berkata. “Selama tiga puluh tahun pertama aku menjalankan ibadah malamku dengan susah payah, tetapi tiga puluh tahun kemudian aku bahkan sangat menyukainya.” Jika cinta kepada Allah sudah sempurna, tak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan beribadah kepada-Nya.

Tanda ketujuh adalah: mencintai orang yang menaati-Nya dan membenci orang kafir dan orang yang tidak taat, sebagaimana dikatakan Al-Qur’an: “Nabi saw. pernah bertanya kepada Allah, “Ya Allah, siapakah yang pencinta-pencinta-Mu?” Dia menjawab, “Orang yang berpegang erat kepada-Ku layaknya seorang anak kepada ibunya; yang berlindungi dalam mengingat-Ku sebagaimana seekor burung mencari perlindungan di sarangnya; dan orang yang murka melihat perbuatan dosa layaknya seekor macan ketika marah; ia tidak takut kepada apa pun.”[]

Referensi:
-Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abadi, Imam al-Ghazali, 2007.
-Sumber lainnya.
Gedung Johor, Medan, 3 Juli 2023

Baca Juga :  Menjadi Pribadi Al Amien