Perayaan Ulang Tahun Perspektif Islam

Oleh: Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA

Religi1053 Views

BERBAGI News – Acara ulang tahun bagi sebagian orang sudah menjadi sebuah keharusan dan ngetren dikalangan millenial. Tidak hanya melulu orang kaya, orang miskinpun juga ikut-ikutan merayakan ulang tahun. Sehingga, tak jarang puteri saya kerapkali diundang teman-temannya yang merayakan hari ulang tahunnya.

Biasanya, perayaan ulang tahun tersebut menggunakan nasi kuning, makanan kering, roti, souvenir, balon dan aksesoris lainnya. Sedangkan, para undangan memberikan hadiah sebagai wujud kebahagiaan atas nikmat umur yang diberikan Allah SWT. Tentu, itu sebagai timbal balik atas suguhan yang diberikan tuan rumah.

Sejatinya umur setiap tahun itu berkurang, seyogyanya ditangisi bukan dirayakan. Demikian komentar sebagian ulama. Berlandaskan sebuah sabda Rasulullah Saw.

“Orang cerdas itu adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan berbuat amal sebagai investasi pasca kematiannya. Sebaliknya, orang bodoh tidak demikian.”

Lebih lanjut, hadits diatas diperkuat dengan firman Allah SWT.

“Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertawakkalah kepada Allah SWT…”(QS. al-Hasyar:18)

Pada dasarnya, ulang tahun itu diperkenan untuk diselenggarakan, pasalnya tidak ada qorinah (dalil) yang melarangnya. Hal ini, sesuai dengan qoidah fiqh:

“Semula hukum muamalah itu boleh boleh saja (ibahah), sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya.”

Namun demikian, jika didalamnya terdapat unsur yang dilarang, misalnya ada pesta miras dan narkotika serta hal hal lain yang dilarang hukum agama, maka perayaan ulang tahun itu hukumnya haram.

Syahdan, pada masa Rasulullah Saw belum pernah dijumpai perayaan hari ulang tahun secara kontekstual. Justru, perayaan ulang tahun dilakukan pertama kali pada masa Bani Fatimah di Mesir, Raja pertama adalah al-Muiz Lidinillah. Dialah yang menggagas perayaan ulang tahun, mulai dari milad Rasulullah Saw. Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, sayyidina Hasan hingga milad sayyidina Husein.

So, perayaan maulid nabi Muhammad Saw marak dilakukan oleh sementara umat Islam diseluruh penjuru dunia sebagai bentuk ekspresi bahagia atas nikmat agung berupa lahirnya nabi Muhammad Saw. Tidak terkecuali , perayaan ulang tahun setiap pribadi umat Islam.

Ala kulli hal, tadi malam kami sekeluarga diundang perayaan ulang tahun ibu Irma usia yang ke 40 tahun dirumahnya. Semua itu dilakukan, sebagai bentuk rasa syukur atas karunia nikmat umur yang sudah Allah SWT berikan kepadanya dengan cara bakar sate dan makan bersama.

Senyampang, hari ulang tahunya juga diisi pengajian singkat dan doa bersama tentang keutamaan nikmat panjang umur. Tuan rumah, mempersiapkan bahan bakunya, sedangkan kita yang melakukan proses pembakaran satenya. Memang diakui menunya cukup sederhana, namun maknanya sangat mendalam sekali akan arti sebuah pertemanan dan persahabatan. Sebagaimana sabda Rasulullah.

Baca Juga :  Shalat Adalah Wadah Memohon Pertolongan dan Menghimpun Kekuatan

Ada seorang sahabat nabi bertanya kepada Rasulullah Saw. “Amalan apa yang paling utama wahai Rasulullah?” Beliau menjawab.” Membahagiakan dan membuat tersenyum saudaranya yang muslim dan melunasi hutangnya….!”(HR. Ibnu Syahin)

Sepintas terlihat raut wajahnya, ia sangat senang dan bahagia atas kehadiran kami semua. Terlebih, pada saat sikecil puteri saya memberikan kue donat sambil mengucapkan.”

“Selamat ulang tahun ibu Irma. Semoga Allah swt berkenan memberikan umur panjang yang barokah.” Ucapnya.

“Amien. Terima kasih mbak Nilta.” Jawabnya sambil menggamit tangannya masuk kedalam rumahnya.

Perayaan ulang tahun yang rekomended, ulang tahun yang steril dari perkara yang dilarang agama juga jauh dari foya foya yang berlebihan (israf) dan tidak sampai berhutang kesana-kemari sehingga terlilit hutang. Sebenarnya, Islam itu simple. Yang mahal itu, gengsinya.

Pasalnya, umat Islam itu kebanyakan latah mengikuti tradisi dan budaya yang lagi menjadi tranding topik dilingkungannya, kendati tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup sebagai pisau analisis untuk mereviewnya.

Proses perayaan ulang tahun, masih pro dan kontra dikalangan para ulama. Ada yang membolehkan dan ada yang melarangnya. Alasannya sebagian ulama yang melarangnya, dianggap ulang tahun itu tradisi orang barat. Yah, semacam westernisasi lah…Padahal menurut ulama yang kurang berkenan dengan adanya perayaan ulang tahun, ada dalil yang melarangnya yaitu firman Allah SWT.

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka mereka bagian dari mereka tersebut.”

Sedang saya sendiri, berpendapat bahwa perayaan ulang tahun itu sah sah saja, sepanjang tidak bernuansa pesta pora yang menyelisihi ajaran agama yang semestinya. Bahkan, saya dan keluarga kerapkali menggelar perayaan ulang tahun bagi puteri-puteri kami. Namun demikian, perayaan tersebut kami lakukan dengan sederhana sekali, cukup makan bersama dirumah makan di pesisir pantai dengan tiup lilin dan potong kue tar. Sembari berdoa kepada Allah SWT.

Tuhan, berikan padanya umur panjang yang bermanfaat dan barokah untuk keluarga, agama dan negara.
Tuhan, anugerahi dirinya nikmat imam dan Islam yang terpatri dalam jiwanya kepada-Mu.
Tuhan, tuangkan muanah dan inayah-Mu pada dirinya selama menjalani sisa-sisa hidupnya didunia..

Salam, al-Mihrab Foundation. Prajekan, 23 Juli 2023