Suami Shalih (Hebat) Impian Keluarga

Oleh: Aswan Nasution

Religi556 Views

“Apabila datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar” [HR. at-Tirmidzi].

MEMBAHAS tema “Istri Shaliha” dalam kajian Keluarga Sakinah sudah terlalu sering kita dapatkan. Agar pembahasan tidak hanya biasa, tapi luar biasa, kali ini kita akan bahas tema “Suami Shalih [Hebat]” sebagai bentuk perimbangan dan penyempurnaan tema bahasan isteri shaliha. Karena dalam pembinaan keluarga, tidak hanya dituntut adanya isteri shaliha tapi juga suami shalih [hebat].

Kriteria suami shalih [hebat]

Memastikan sesuatu, dapat dikenali terlebih dahulu dari tanda-tandanya. Sebagai misal: Seseorang dipastikan sehat atau sakit, dikenali dari tanda-tanda yang nampak. Demikian juga memastikan keshalihan seorang suami dapat dikenali berdasarkan tanda-tandanya yang nampak.

Secara umum, tanda-tanda suami shalih [hebat] adalah suami yang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap keluarganya dalam segala bidang dan hal. Keshalihan suami ditandai dengan kemampuan melakukan peran Mu’asyaroh bil Makruf [bersikap baik] terhadap isterinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan pada makna ayat: “Wa Asyiruu hunna bil ma’ruf” [Dan bergaullah dengan mereka [isteri-istri kalian] dengan cara yang baik]. [QS. An-Nisa’: 19]

Berkenaan dengan makna ayat di atas, Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan: “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagaimana engkau suka jika istrimu berbuat baik padamu” [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim 3/40]. Untuk lebih detailnya, suami shalih [hebat] dapat dikenali dari kriteria berikut ini:

☆ Suami shalih [hebat] itu berakhlak.

Suami shalih [hebat] adalah suami yang berakhlak yang mulia. Berilmu agama saja tidak cukup, tapi harus dibarengi juga dengan berakhlak mulia. Antara kebagusan ilmu agama dan akhlak mulia, dua hal yang tidak terpisahkan. Keduanya dapat dikatakan two faces in one coin [dua wajah dalam satu mata uang] sebut saja mata uang receh misalnya, sisi sebelah berupa angka yang menunjukkan nilai nominal dan sisi satunya berupa gambar.

Tanpa keutuhan kedua sisinya, sebuah mata uang tidak ada nilainya. Jelasnya antara ilmu agama dan akhlak dua hal yang tidak terpisahkan sebagai kriteria keshalihan seseorang. Antara ilmu agama dan akhlak sebagai dua hal yang selaras, dijelaskan juga oleh Nabi shallahu ‘alaihi wassalam dalam sabdanya berikut ini:

“Apabila datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar” [HR. at-Tirmidz].

Para ulama salaf sangat memprioritaskan akhlak, hingga menjadikan tolok ukur keshalihan seorang suami ada pada agama seseorang.

☆Suami shalih [hebat] itu dermawan

Kedermawanan seorang suami, haruslah mencakup kedermawanan yang seluas-luasnya baik berupa materi dan immateri. Kedermawanan materi utamanya mencakup pemenuhan kebutuhan PPPK. Maksud PPPK bukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, tapi PPPK yang dimaksud adalah [Pangan, Pakaian, Papan dan Kesejahteraan].

Seputar kedermawanan suami yang secara sederhana disebut dengan kemampuan menyiapkan PPPK [Pangan, Pakaian, Perumahan dan Kesejahteraan] telah disebutkan juga dalam hadits dan ayat al qur’an. Suatu saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditanya tentang apa hak istri atas suaminya, beliau menjawab:

“Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-jelekkannya serta janganlah memisahkannya kecuali tetap dalam rumah” [HR. Ibnu Majah].

Adapun berkaitan dengan kedermawanan dalam penyiapan papan dan kesejahteraan, Allah Ta’ala juga telah menegaskan dalam al-qur’an; “Tempatkanlah mereka [para istri] di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan [hati] mereka….” [QS. Ath-Thalaq; 6].

Mengingat besarnya tangunggjawab suami terhadap keluarganya, maka selayaknya para suami bersikap dermawan baik secara materi atau immateri bagi keluarganya. Kedermawan untuk keluarga merupakan bentuk sedekah paling utama dibanding sedekah kepada siapa pun disaat kondisi wajar dan normal. Wallahu ‘alam bishshawab.

Baca Juga :  Memaknai Wisata dan Ibadah