by

“PENYIHIR” Rusia di Perang Lombok (Bagian Dua)

-Sejarah-53 views

BERBAGI News – Bangsa Dacia yang menghuni wilayah di Eropa Tengah bagian timur sejak 82 SM, memiliki catatan panjang. Kerajaan bangsa ini berada di Sarmizegetusa, kota di tengah Pegunungan Carpathia, berbatasan dengan Sungai Donau, Laut Hitam, Sungai Dniester, dan Sungai Tisza. Setelah dihancurkan pasukan Romawi di tahun 106, kota ini berubah nama menjadi Ulpia Traiana Sarmizegetusa yang dibangun sebagai ibu kota Provinsi Dacia di Romawi.

Asal-usul Moldova adalah Dacia. Kekaisaran Rusia mencaplok wilayah ini pada 1812, sejak itu dikenal sebagai Bessarabia. Di tahun 1917 Kekaisaran Rusia jatuh, lalu berdirilah Republik Demokratik Moldavia yang bergabung dengan Rumania Raya pada tahun 1918. Pada 1940, Bessarabia diduduki Uni Soviet, dan dibagi antara Republik Sosialis Soviet Ukraina dan Republik Sosialis Soviet Moldova. Sejak Soviet runtuh di tahun 1991, Republik Moldova menyatakan kemerdekaannya. Di negeri inilah Vasily Panteleimonovich Malygin dilahirkan, pada 20 Mei 1865, dari keluarga seorang pelayan gereja, Pintilie Mamaliga.

Ia dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka Moldova, namun riwayatnya penuh misteri.

Namanya menjadi tokoh utama dalam novel Maligan dan Cardilla yang ditulis Elena Chekulaeva di tahun 1993. Kisahnya pun mengilhami munculnya naskah drama karya para penulis lakon di Rusia. Beberapa buku memuat riwayatnya, di antaranya karya MM Bakunin berjudul Holland Tropis yang bercerita tentang pemberontakan di Pulau Lombok dan Misteri Maligan Rusia di buku 100 Rahasia Besar dari Timur (100 Velikikh Tayn Vostoka), ditulis Nepomnyashchy Nikolay.

“Saya memberanikan diri menggabungkan nasibnya (Maligan) dengan nasib gadis tak kenal takut dari Pulau Sumatra. Saya memutuskan versi berani ini, juga pada spekulasi banyak keadaan dari kehidupan para pahlawan saya, karena mereka dikelilingi oleh orang-orang yang, menurut Vladimir Arnoldi, menciptakan budaya khas yang tinggi, hidup mereka dibuat menurut pola,” tulis Elena Chekulaeva dalam pengantar novelnya.

Baca Juga :  “PENYIHIR” Rusia di Perang Lombok (Bagian Satu)

Gadis dari Sumatera yang dimaksud sang novelis adalah Cut Nyak Dien. Ia menjuluki pahlawan wanita ini Jeanne d’Arc Indonesia. “Pada tahun 1871, ketika Belanda menaklukkan hampir seluruh kepulauan, dengan pengecualian Kerajaan Sumatera Utara di Aceh, wanita muda itu meninggalkan putranya yang masih kecil dan bergabung dengan detasemen tentara di Aceh. Dia berjuang untuk kebebasan selama tiga puluh tahun, dan pada tahun 1903 dia ditangkap,” katanya.

Saat Elena Chekulaeva menelusuri Perpustakaan Lenin di Moskow dan mempelajari karya-karya peneliti Rusia tentang Indonesia, ia menemukan nama Malygin. Ia dapatkan dokumen unik setebal 18 halaman dari protokol persidangan Vasily Malygin, seorang warga Rusia yang berani mempersenjatai penduduk lokal di Pulau Lombok dan berperang melawan Pemerintah Belanda. Dia dijatuhi hukuman berat 20 tahun penjara — sebelumnya divonis hukuman mati. “Siapa Vasily Malygin? Seorang petualang atau, dalam istilah modern, seorang pengintai, seorang pahlawan yang tidak dikenal, seorang penjelajah? Semakin saya belajar tentang nasib pria ini, dia menjadi semakin misterius,” ungkapnya.

***

Setelah dideportasi ke negerinya, Maligan tinggal di rumah saudaranya, Dumitru, selama tiga tahun. Tapi pada suatu malam di musim dingin tahun 1901, ia menghilang secara misterius. Dalam sebuah laporan Konsul Rusia di Singapura, disebutkan bahwa Maligan bekerja sebagai juru masak di kapal Diana. Pada 1961, sebuah surat kabar di Pulau Bali mengumumkan kematian seorang wanita berusia 90 tahun bernama Siti Johan Maligan. Disebut-sebut wanita inilah istrinya. Seorang wanita cantik pribumi yang dulu membantunya melarikan diri dari penjara saat ia dalam proses persidangan. Tapi di mana Maligan?

Selama bertahun-tahun, Gheorghe Mamelige telah mencari keturunan sang pembuat onar di Hindia Belanda. Dia keponakan perempuan Maligan, yang bergabung dalam sebuah organisasi publik tentang aliran senama Vasile Mamelige, yang ingin mencari sebanyak mungkin informasi tentang sosok luar biasa Maligan, untuk mengembalikan halaman yang hilang dari sejarah Bessarabia.

Baca Juga :  “PENYIHIR” Rusia di Perang Lombok (Bagian Tiga)

Beberapa Moldovans (orang-orang Moldova) pernah menginjakkan kaki di Pulau Lombok. Salah seorang di antaranya Svetlana Alexa. Sebelumnya wanita lulusan Universitas Pedagogi Chisinaudi Rumania ini berada di Bali selama 6 tahun. Ia bekerja di beberapa hotel, terakhir di Discovery Kartika Plaza Hotel.

Atas permintaan Gheorghe Mamelige, Svetlana Alexa mulai mencari jejak tinggal Vasily Malygin di Bali. Penelusuran dilanjutkan ke Pulau Lombok. Di sini ia menghubungi beberapa universitas dan sejumlah lembaga kebudayaan dan sejarah, namun tiada hasil yang diperolehnya. Sampai ia lalu bertemu dengan seorang jurnalis tua.

Saya segera mengenali sosok yang dimaksud Svetlana Alexa, dalam sebuah artikel foto yang dipublikasi di Vedomosti, sebuah media online berbahasa Rusia. Dia Ahmad JD, teman saya berdiskusi di akhir tahun 1990an, di sebuah redaksi mingguan yang pernah terbit di Mataram. Ia kerap berkunjung di siang hari, mengendarai sepeda ontel.

Ahmad JD — di media itu ditulis Ahmad Jani — menerima Svetlana Alexa di kediamannya di Monjok, Mataram. “Rumahnya kecil dengan perpustakaan besar dan mesin tik kecil di atas meja,” kata wanita ini.

Ahmat JD menunjukkan dokumen-dokumen tentang pemberontakan perang Lombok yang berhasil ia kumpulkan, di antaranya peta dan foto-foto benteng tempat pertempuran berlangsung. Di perpustakaan lelaki itu juga ada beberapa ensiklopedia yang diterbitkan Belanda, berisi informasi tentang Vasily Panteleimonovich Malygin. Lalu dia menaruhnya di sepeda motor dan mengajak pergi ke tempat di mana Maligan pernah tinggal.

“Bengkel tempat Maligan bekerja di mana terdapat mesin pengerjaan logam telah lama hilang. Sekarang yang ada hanya rumah-rumah orang miskin, di dekat masjid,” ucapnya.

Sayang, Svetlana Alexa tidak menyebut letak yang ditunjukkan Ahmad JD. Kemungkinan berada di Getap Cakranegara atau di Karang Bedil, Mataram. Untuk sementara, ia hanya mendapat informasi sebatas itu. ‘Tetapi saya tidak kehilangan harapan untuk menelusuri lebih banyak lagi,” ujarnya.

Baca Juga :  “PENYIHIR” Rusia di Perang Lombok (Bagian Tiga)

Orang-orang kelahiran Moldova sering menjadi sosok populer di dunia, dan terkadang menemukan diri mereka dalam situasi dramatik yang luar biasa di ujung bumi. Seperti Maligan, bekas pemimpin pemberontakan Lombok, yang pada 1902 dikabarkan sebagai penasihat militer untuk Kerajaan Selangor. Setelah itu jejaknya semakin samar. (aliqro)

(Bersambung)…

News Feed