by

Menata Hidup Setelah Haji Berlalu

-Agama-147 views

“Sungguh umat ini mengalami berbagai keprihatinan dan problema, sehingga sepatutnya kita menjadikan momen haji ini, sebagai jalan untuk berlepas diri dari segala permasalahan, kekuatan produktif untuk menundukkan setiap rintangan dan hambatan, bersatu padu dalam shaff diatas al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.” [Dr. Abdurrahman As-Sudais, Imam Besar Masjidil Haram].

BERBAGI News – BEBERAPA waktu umat Islam telah mendapat kebahagiaan, dengan tibanya pelaksanaan musim haji ke Baitul Haram. Umat Islam telah menikmati pelaksanaan dalam nuansa keimanan yang tidak ada bandingnya, dalam kondisi aman dan tenang, Alhamdulillah.

Segala puji bagi Allah atas karunia dan taufiq-Nya untuk menyempurnakan kewajiban haji, yang telah memudahkan dan membantu kita dalam melaksanakan ibadah haji ke Baitul al-Haram.

Semoga Allah SWT menerima ibadah haji kita dan menjadikan haji yang mabrur, usaha yang disyukuri, dosa yang diampuni, serta menjadikan kita orang-orang yang istiqamah di atas syari’at-Nya untuk selamanya, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Ibadah haji, momen yang mulia itu telah berlalu, kaum muslimin datang ke Baitullah dengan bertahlil dan bertakbir, berdoa dengan khusyu’ dan memohon ampun.

Saat ini, ketika kemah-kemah haji telah dikosongkan, hari-harinya telah berlalu, jama’ah haji telah pulang ke negeri mereka masing-masing, kafilah-kafilah haji mulai menempuh perjalanan menuju tempat tinggal mereka.

Setelah mereka wukuf di tempat-tempat mulia setelah mereka diberi nikmat untuk hidup di tempat-tempat mulia ini, kini mereka kembali ke negeri tanah air masing-masing kepada keluarga dan kerabat mereka.

Setelah mereka menengadahkan tangan-tangan penuh ketundukan, meneteskan air mata kekhusyu’an dan pertaubatan, memanfaatkan kemuliaan waktu dan tempat dengan amal shalih hanya mengharapkan ridha dan pahala Allah SWT. Semoga Allah menerima dari mereka, melimpahkan ganjaran-Nya dengan karunia dan kemurahan-Nya.

Baca Juga :  Meski Susah, Tetap Bersedekah

Patut menjadi pertanyaan saat ini, ada apa setelah haji? Ada apa setelah pelaksanaan fardhu ini, setelah berlalunya hari-hari mulia tesebut? Bagàimana kondisi kita sekarang? Bagaimana pula kondisi setiap individu dan masyarakat?

Apakah persoalan selesai pada batasan sekedar menunaikan ibadah haji saja lalu mereka kembali kepada keadaan dan rutinitas mereka sebelum haji? Atau adakah di sana jalan lurus yang sepatutnya setiap jama’ah haji menempuhnya setelah pelaksanaan haji?

Apakah terjadi perubahan pola hidup dan perilaku? Apakah setiap orang yang telah melaksanakan haji memandang kehidupannya dengan pandangan yang benar, memulai lembaran baru, berkomitmen untuk sungguh-sungguh berada di atas naungan syari’at Allah dan Rasul-Nya?

Apakah para jama’ah haji telah merubah kehidupan mereka dari buruk menjadi baik, dan dari baik menjadi lebih baik? Apakah manfaat-manfaat haji dan pengaruh-pengaruhnya meluas hingga melampaui batasan tempat dan waktu tertentu, pada semua waktu dan tempat, serta mencakup semua sisi dan bidang kehidupan?!

Ketahuilah bahwa haji merupakan kelahiran baru dan perjanjian bahagia, maka sepatutnya orang yang telah menunaikan haji agar tetap menjaga efek positif haji dan manfaatnya serta tidak berpaling darinya. Menjadikannya sebagai batu loncatan dan titik tolak baru untuk melakukan amal-amal shalih dan kesempatan besar untuk taubat nasuha.

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mengintrosfeksi diri kita setelah pelaksanaan haji. Apakah ibadah ini telah memberikan efek positif dalam kehidupan kita, ataukah ia berlalu sebagaimana berlalunya awan di musim kemarau, seperti kilatan halilintar yang segera hilang tanpa memberi manfaat dan pengaruh ?!

Sudah menjadi kewajiban bagi kita setelah kewajiban haji ini mengokohkan kembali kehidupan kita diatas manhaj al-Kitab dan as-Sunnah, sehingga tampak pengaruh positif ibadah pada perilaku kehidupan kita.

Baca Juga :  Bentuk Forum Madrasah Diniyah, Wahana Komunikasi, Penyebaran Informasi dan Berbagi Ide Gagasan

Sungguh umat ini mengalami berbagai keperhatinan dan problema, sehingga sepatutnya kita menjadikan momen ini sebagai jalan untuk berlepas diri dari segala permasalahan, kekuatan produktif untuk menundukkan setiap rintangan dan hambata, dan hal itu dilakukan dengan menyerahkan diri kepada Allah semata.

Bersatu padu dalam kalimat yang satu dan menyatukan shaff di atas al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, menyusun rapi tatanan-tatanannya, media-media informasinya dan manhaj-manhaj pendidikannya secara menyeluruh untuk merealisasikan pondasi Islam dan dakwahnya.

Sesungguhnya di antara hal yang memilukan hati, ketika momen-momen yang penuh berkah ini berlalu tanpa mengambil pelajaran dan pengalaman, adalah tidak disadarinya tujuan dan pengaruh positif bagi umat, baik pada sisi ‘aqidah, akhlak, sosial kemasyarakatan, serta tidak ada realisasi nyata dalam kehidupan.

Lalu dimanakah peran para pemimpin dan para ulama? Di mana para cendekia dan para politisi umat ini, mengapa mereka tidak mengambil solusi demi mewujudkan aksi nyata dari momen- momen tersebut, untuk menyelesaikan problema umat yang rumit serta persoalan mereka yang sudah seperti benang kusut.

Mengapa mereka tidak mengambil keputusan-keputusan teguh dan langkah- langkah hebat lagi bijak yang berkaitan dengan keadaan dan kondisi dunia Islami secara keseluruhan?!.

Ketahuilah, di antara barometer diterima atau ditolaknya amal seorang hamba adalah apabila ia melihat pengaruh positif dari amalnya dalam kehidupan sehari-harinya.

Oleh karena itu seyogyanya kaum muslimin memahami syari’at-syari’at agama, mengambil faedah dari musim-musim kebàikan untuk mendapatkan pengaruh posotif bagi perjalanan kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Wallahu a’lam bish shawab.

[Sumber bacaan: Kumpulan Khutbah As-Sudais Imam Masjidil Haram, 2019].