Tanda-tanda Orang yang Ilmunya Bermanfaat

Religi71 Views

“Diantara tanda-tanda orang-orang yang ilmunya bermanfaat adalah: mereka tidak menganggap diri mereka memiliki kedudukan istimewa; tidak suka merasa dirinya suci; enggan dipuji; dan tidak sombong terhadap siapapun,” [Ulama Salaf].

SALAH seorang ulama salaf berkata, “Laysal-‘ilmu bi katsratir-riwayah walakinal-‘ilma bikatsratil-khasy-yah [Ilmu itu tidak identik dengan banyaknya periwayatan, tetapi identik dengan banyaknya rasa takut [kepada Allah SWT.”].

Di antara tanda-tanda ilmu yang tidak bermanfaat adalah yang menjadikan pemiliknya merasa bangga, angkuh dan sombong. Ia menuntut ilmu semata-mata demi meraih martabat dan kedudukan yang bersifat duniawi.

Dengan ilmunya ia berniat ingin menyaingi para ulama, merendahkan orang-orang awam dan berupaya menarik perhatian manusia kepada dirinya [riya fan sum’ah].

Orang yang semacam ini memiliki sejumlah ciri antara lain: enggan menerima dan tunduk pada kebenaran; sombong terhadap orang yang menyatakan kebenaran, terutama dari orang yang dianggap rendah oleh masyarakat; tetap dalam kebatilan karena khawatir masyarakat berpaling dari dirinya jika ia merujuk pada kebenaran.

Ini tentu berbeda dengan sikap para ulama salaf. Justru karena ilmulah mereka bersikap rendah hati [tidak sombong] baik secara lahiriyah maupun batiniyah.

Karena itu diantara tanda-tanda orang yang ilmunya bermanfaat adalah: mereka tidak menganggap diri mereka memiliki kedudukan istimewa; tidak merasa dirinya suci; enggan dipuji; dan tidak sombong terhadap siapapun.

Lebih dari itu, Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya yang disebut orang faqih [ahli agama] adalah orang yang zuhud terhadap dunia, merindukan kehidupan akhirat [surga], paham agama dan selalu sibuk dalam beribadah kepada Tuhan-Nya.”

Ibn Umar juga berkata, “Orang yang ilmunya bermanfaat itu, jika ilmunya bertambah maka bertambah pula sikap tawaduk, rasa takut dan ketundukannya kepada Allah SWT.” [Ibn Rajab, Fadhl ‘Ilmi as-Salaf ‘ala al-Khalaf,1/8].

Ulama lain berkata, “Man khasyiyalLah fa huwa ‘alim wa man ‘ashahu fa huwa jahil.”[Siapa yang takut kepada Allah, dialah orang yang berilmu. Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah, dia adalah orang bodoh].”

Saat ilmu benar-benar bermanfaat pada diri seseorang, saat itulah kalbunya dipenuhi rasa takut dan ketundukan kepada Allah; wibawa dan kemuliaanya rendah di hadapan-Nya; takut dan cinta kepada Allah menyatu dalam kalbunya; dan dia selalu meng-agungkan-Nya.

Karena itu Al-Hasan berkata, “Ilmu itu ada dua macam. Pertama ilmu yang hanya di lisan. Inilah yang akan Allah pertanyakan kepada anak Adam. Kedua: Ilmu yang menghunjam dalam kalbu }yang kemudian diamalkan] itulah ilmu yang bermanfaat.

Atas dasar itu, para ulama salaf berkata, “Ulama itu ada tiga macam. Pertama: Ulama yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya. Kedua; Ulama yang mengenal Allah tetapi tidak memahami perintah-Nya. Ketiga; Ulama yang memahami perintah Allah tetapi tidak mengenal Diri-Nya.

Yang utama tentu saja yang pertama. Mereka adalah para ulama yang takut kepada Allah seraya mengamalkan dan menerapkan syariah [hukum-hukum]-Nya.

Ilmu yang bermanfaat tentu adalah ilmu yang digali dari Al-Quran dan As-Sunnah. Jika ilmu tidak digali dari keduanya, tentu ilmu itu tidak bermanfaat, bahkan bisa mendatangkan madharat ; atau madharatnya lebih banyak dari pada manfaatnya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya [manusia] yang takut kepada Allah hanyalah para Ulama.” [QS. Fathir {35}: 28].

Terkait ayat di atas, Ibn Mas’ud ra, “Kafa bi khasy-yatilLah ‘ilma [cukuplah takut kepada Allah sebagai [buah ilmu].” Wallahu ‘alam bish showab.

Sumber: Dikutip dari berbagai bacaan.
Selamat membaca semoga bermanfaat
Wassalam, Al Faqir Aswan Nasution, Lombok Barat-Nusa Tenggara Barat [NTB].

Baca Juga :  Ibrahim AS, Berpredikat Bapak Tauhid