Istiqamah Dalam Ketakwaan Sepanjang Masa

Oleh: Aswan Nasution

Agama514 Views

“Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun/kapanpun/dalam keadaan bagaimanapun… “[HR. at-Tirmidzi].

BERBICARA tentang takwa, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal ra. saat beliau dia ke Yaman. “Bertakwalah engkau kepada Allah dimanapun/ kapanpun/ dalam keadaan bagaimanapun…” [HR. at-Tirmidzi].

Terkait dengan frasa ittaqilLah [bertakwalah engkau kepada Allah] dalam potongan hadits diatas, banyak sifat yang diletakkan kepada orang-orang bertakwa [muttaqiin]. Orang bertakwa adalah orang yang mengimani yang gaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian harta, mengimani al-Quran dan kitab-kitab yang Allah SWT turunkan sebelum al-Quran dan meyakini alam akhirat [QS. Al-Baqarah [2]: 1-4.

Juga menginfakkan hartanya pada saat lapang ataupun sempit, mampu menahan amarah, mudah memaafkan kesalahan orang lain, jika melalukan dosa segera ingat kepada Allah SWT dan memohon ampun-Nya serta tidak meneruskan perbuatan dosanya [QS. Ali Imran [3]: 133-135. Tentu masih banyak sifat orang bertakwa yang disebutkan di dalam al-Quran maupun Sunnah.

Adapun terkait frasa haytsuma kunta, secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa kata haytsu bisa merujukpada tiga: tempat [makaan], waktu [zaman] dan kedaan [haal]. Karena itu sabda Baginda Rasul saw. Kepada Muadz ra. tersebut sebagai isyarat agar ia bertakwa kepada Allah tidak hanya di Madinah: saat turunnya wahyu-Nya, saat ada bersama beliau, juga saat dekat dengan Masjid Nabi Muhammad saw.

Namun, hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT di mana pun, kapan pun dalam keadaan bagaimana pun [‘Athiyah bin Muhammad Salim. Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah, 42/4-8. Alhasil, kita pun. sejatinya bertakwa tidak hanya saat berada pada bulan Ramadhan saja, tetapi juga diluar Ramadhan selama sebelas bulan berikutnya. Dengan kata lain, seorang Muslim harus istiqamah dalam ketakwaan kepada Allah SWT sepanjang masa hingga akhir hayat.

Namun, istiqamah dalam ketakwaan tidak selalu mudah dilakukan oleh setiap orang. Betapa banyak Muslim yang selama Ramadhan berusaha shalat tepat waktu, khusyuk di dalamnya, bahkan selalu berjamaah di masjid: banyak membaca, mengkaji dan mengamalkan al-Quran: berusaha meutup aurat dan berjilbab syar’i [bagi Muslimah]; banyak melakukan shalat malam dan zikir; banyak bersedekah; dll.

Namun, selepas Ramadhan, kadar keimanannya seolah berkurang. Tingkat ketakwaannya seolah menurun. Ibadah shalatnya kembali kembali bolong-bolong, membaca al-Quran kembali jarang-jarang, auratnya kembali terbuka, ragam maksiat kembali dilakukan.

Karena itu, dalam konteks puasa Ramadhan, yang di akhiri dengan Hari Raya Idul Fitri, hanya Muslim yang berhasil mewujudkan takwa sekaligus istiqamah dalam ketakwaanlah yang merayakan Idul Fitri.

Namun demikian, dalam pandangan Imam Anas bin Malik ra. ada lima hari raya yang di dalamnya seorang Muslim lebih layak untuk bergembira adalah sebagai berikut:

Pertama; Setiap hari yang di dalamnya setiap Muslim tidak melakukan dosa. Itulah hari raya bagi dirinya.

Kedua: Suatu hari ketika seorang Mukmin wafat meninggalkan dunia dengan membawa iman. Itulah hari raya bagi dirinya.

Ketiga: Suatu hari saat seorang Mukmin melewati jembatan shiraath dan selamat dari hura-hara Hari Kiamat. Itulah hari raya bagi dirinya.

Keempat: Suatu hari ketika seseorang Muslim memasuki surga. Itulah hari raya bagi dirinya.

Kelima: Suatu hari saat seorang Mukmin melihat Tuhannya. Itulah hari raya bagi dirinya.

Semua “hari raya” di atas hanya pantas kita nikmati saat kita tetap mampu istiqamah dalam ketakwaan kepada Allah SWT hingga akhir hayat. Aamin.
Wallahu a’lam bishawab.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Baca Juga :  Figur Teladan Nabi Ibrahim AS, Dalam Ketahanan Keluarga