Sikap Terbaik menghadapi Perbedaan Sholat Idul Adha

Oleh: Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA

Agama853 Views

BERBAGI News – Di negeri ini, umat Islam sudah disuguhi tiga hari raya yang berbeda antara satu dengan yang lainnya secara berturut-turut. Perbedaan hari dalam menetapkan hari raya tersebut dipicu oleh perbedaan tafsir dalam menetapkan hilal. Sebagian mereka menganggap hilal belum muncul, sementara sebagian yang lain menganggap hilal sudah muncul, kendati masih belum terlihat.

Perbedaan dalam berhari raya bukan barang baru, dimasa sahabat juga pernah terjadi karena berbeda persepsi tentang hilal. Namun demikian, tidak sampai terjadi perpecahan sebagaimana di negeri ini yang sampai mengeluarkan ancaman pembunuhan. Alhamdulillah, pihak kepolisian bertindak cepat dan tegas, oknum tersebut segera diringkus dan dihukum setimpal sesuai amal perbuatannya.

So, perbedaan itu lumrah terjadi tetapi menjaga persatuan dan kerukunan adalah sebuah keniscayaan. Bukankah, puasa Arafah dan Shalat Idul Adha hukumnya sunah, sedangkan menjaga kerukunan hukumnya wajib. Oleh sebab itu, mari kita kedepankan dan prioritaskan yang wajib sambil menjaga yang sunah agar keduanya sama-sama terakomodir semua.

Dalam rumah tangga saya, terdapat dua perbedaan. Ibu mertua dan isteri memilih melaksanakan shalat idul adha hari ini, sementara saya sendiri memilih melaksanakan shalat idul adha besok hari kamis 29 Juni 2023. Hemat saya, itu semua adalah pilihan dan keyakinan sesuai ijtihad pengetahuan masing-masing.

Tidak boleh dalam Islam, saling mencaci-maki, saling menghujat satu sama lain hanya gara-gara hal-hal yang bersifat parsial (furu’iyah). Bukankah, imam madhab terdahulu dengan murid-muridnya ada sekitar 14.000 perbedaan dan mereka saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain.

Orang yang paling durjana dimuka bumi ini adalah Fir’un. Tetapi Allah SWT berpesan pada nabi Musa dan nabi Harun:

Baca Juga :  Mencari Keseimbangan

“Pergilah kalian berdua (Musa dan Harun) menghadap raja Fir’un. Dan berbicaralah dengan lemah-lembut…”

Selevel Fir’un saja, Allah SWT menganjurkan pada nabi Musa dan nabi Harun untuk bersikap dan berbicara yang lembut, apalagi kepada sesama muslimnya. Sudah barang tentu lebih santun lagi, agar terjalin hubungan harmonis.

Usai shalat subuh, saya mengantarkan keluarga menggunakan mobil menuju masjid Babussalam Prajekan Lor untuk melaksanakan shalat idul adha. Sesampainya disana, setelah mereka turun dan menuju lokasi, sayapun kembali pulang. Sebab, saya berkeyakinan sesuai hasil ijtihad dan analisis keilmuan, idul adha jatuh pada hari kamis besok, 19 Juni 2023.

Alhamdulillah, kebetulan saya diamanahi menjadi imam sekaligus khatib idul adha dimasjid Jamik al-Amin Nangkaan Bondowoso. Topik yang akan sampaikan besok, insyaallah tentang “Nabi Ibrahim AS. sosok ayah ideal”. Memang dalam keluarga besar, saya menerapkan toleransi dan saling menghargai satu sama lain. Yang penting, mereka bisa bertanggung jawab atas pilihannya tersebut.

Imam Junaid al-Baghdadi berkata:

“Seseorang tidak dianggap alim, selama belum bisa menerima perbedaan pandangan dengan orang lain.”

Kemarin saat mau menggelar shalat jenazah di sebelah rumah, ada dua orang tokoh menyangsikan validasi kebenaran shalat idul adha yang digelar kamis besok. Sempat dari mereka, meminta tanggapan saya tentang perbedaan tersebut. Namun, saya hanya menjawab dengan senyuman saja. Kadang, diamnya kita atas pertanyaan orang yang kurang mengerti persoalan inti sudah dianggap jawaban yang cukup tepat.

Imam Athaillah al-Askandari dalam kitab Hikamnya,

“Jika ada seseorang yang menjawab semua pertanyaan, maka yakinlah orang tersebut termasuk orang yang bodoh.”

Salam, al-Mihrab Foundation. Bondowoso, 28 Juni 2023