Filsafat ilmu klasik hingga kontemporer

Resensi Oleh Kaharudin

Pendidikan546 Views

Bab 1 Filsafat: Sebuah Perkenalan Singkat

Pada bab pertama, pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam filsafat dibahas. Mulailah membahas apa itu filsafat. Filsafat didefinisikan sebagai pencarian kebijaksanaan atau pengetahuan yang tiada henti.. Bab ini juga membahas periodisasi filsafat Barat meliputi periode Helenistik, periode abad pertengahan, periode modern, dan periode postmodern atau kontemporer.Kemudian membahas mengenai cabang filsafat, ciri berfikir dan cara belajar filsafat, metode filsafat, sampai dengan manfaat filsafat. Belajar filsafat secara mendalam akan membentuk kemandirian secara intelektual, membangun sikap toleran terhadap perbedaan sudut pandang, dan membebaskan dari jeratan dogmatisme.

BAB 2 Epistemologi

Pada bab kedua ini membahas tentang Epistemologi, definisi epistemologi, sumber pengetahuan hingga batas dan jenis pengetahuan. Secara kebahasaan istilah epistemologi berasal dari Bahasa Yunani yakni episteme dan logos. Oleh karena itu, epistemologi dapat dipahami sebagai teori pengetahuan. Epistemologi pada dasarnya adalah upaya untuk mengevaluasi dan mengkritik pengetahuan  manusia. Hospers mengatakan bahwa ada enam sumber pengetahuan, yaitu persepsi atau pengamatan indra, ingatan, akal dan nalar, introspeksi, intuisi, otoritas, prekognisi, kewaskitaan dan telepati.

BAB 3 Filsafat Ilmu Pengetahuan

Bab ini membahas tentang perbedaan pengetahuan dan ilmu pengetahuan sekaligus menjelaskan perbedaan pengetahuan sehari-hari dengan ilmu pengatahuan. Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya. Sedangkan ilmu pengetahuan merupakan jenis pengetahuan yang memiliki ciri-ciri dan metode serta sistematika tertentu. Pada bab ini juga dijelaskan ciri-ciri dari ilmu pengetahuan dari pandangan tokoh-tokoh seperti Berlingg, Ban Melsen, dan lainnya. Menjelaskan pandangan terkait ilmu pengetahuan, dilanjutkan dengan pemaparan istilah-istilah penting dalam filsafat ilmu pengetahuan., metode ilmiah, dan asumsi-asumsi ilmiah.

BAB 4 Rasionalisme Klasik dan Modern

Baca Juga :  Ngabuburit Ala Aktivis, FH Unsa gelar Diskusi “Demonstrasi, Masa Aksi dan Demokrasi”

Pada bab ini membahas mengenai pemikran tokoh aliran rasionalisme baik yang hidup di era Klasik maupun di era Modern. Pembahasan rasionalisme di era Klasik dibahas oleh tokoh filsuf seperti Plato, sedangkan pembahasan rasionalisme di era Modern di bahas oleh tokoh filsuf Rene Descartes dan Baruch Spinoza. Dari bebapa pembahasan tentang rasionalisme yang dipaparkan oleh toko-tokoh filsuf sama-sama meyakini bahsa rasio adalah sumber pengetahuan utama. Rasionaisme lebih mengacu kepada hal yang bersifat epistemologis. Menurut Plato realitas yang senantiasa berubah adalah realitas dunia fisis (fenomena alam) sedangkan realitas yang sempurna terdapat dalam dunia idea. Sedangkan rasionalisme modern yang dikemukakan oleh Rene Descartes rasionalisme diartikan sebagai upaya untuk mempertimbangkan segala hal di bawah pertimbangan akal budi (rasio).

BAB 5 Empirisme Klasik dan Modern

Pada bab kelima ini membahas tentang empirisme klasik dan modern. Pembahasan empirisme di era Klasik diwakili oleh tokoh filsuf Aristoteles, sedangkan untuk pembahasan empirisme di era modern yang dibahas adalah dari pandangan Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, dan Barkeley. Pada bab ini juga untuk pembahasan di era modern dimasukkan juga pemikiran dari tokoh filsuf Roger Bacon yang hidup pada abad pertengahan. Pemikiran tentang empirisme dari tokoh filsuf Roger Bacon juga sama dengan pemikiran dari tokoh-tokoh filsuf lainnya. Empirisme berasal dari Bahasa Yunani empiria, empiros yang berarti pengalaman.

BAB 6 Positivisme, Positivisme Logis, dan Siklus Empiris

Pada bab keenam ini berfokus membahas mengenai positivisme dan positivisme logis. Pembahasan positivisme yang dibahas berfokus pada pendapat filsuf Auguste Comte, yang dikenal dengan bapak positivisme. Berdasarkan refleksi Auguste Comte, ia membahas  pengaruh positivisme terhadap kelemahannya. Sedangkan  pembahasan tentang positivisme logis meliputi beberapa pandangan mengenai tokoh-tokoh positivisme logis, pokok-pokok ajaran  positivisme logis, pemikiran-pemikiran yang mempengaruhi realisme. Pembuktian logis dan prinsip-prinsip verifikasi positivisme logis dapat dijadikan acuan untuk mendefinisikan bahasa ilmiah. Istilah positif adalah sesuatu yang dapat diuji atau dibuktikan oleh siapapun yang mau membuktikannya. Positivisme Auguste Comte  menerima pengetahuan hanya tentang kebenaran positif, yaitu tidak bergantung pada kesadaran individu.

Baca Juga :  Kagum, 110 Santri Ponpes Al-Bukhari Lombok ikuti WisudaTahfidz

BAB 7 Pemikiran Kuhn dan Pluralisme Paradigma

Pada bab ketujuh ini membahas tentang pemikiran paradigma dari tokoh filsuf Kuhn. Di bab ini terdapat pembahasan tentang plularisme paradigma berdasarkan hasil pemikiran dari Thomas Samuel Khun mengenai pemahaman tentang prinsip ketidaksepadaan dan plularisme paradigma. Kuhn mengemukakan paradigma adalah pandangan dasar tentang pokok bahasan ilmu. Paradigma berkaitan dengan pendefinisian, eksemplar ilmiah, teori, metode, serta instrument yang tercakup di dalamnya. Bab ini juga membahas dan menjelaskan bagaimana pemikiran Kuhn berkontribusi besar terhadap epistemologi post-positivisme dan post-modern dengan pluralisme paradigma keilmuannya.

BAB 8 Hermeutika

 Pada bab kedelapan ini membahas tentang kajian hermeutika sebagai bagian dari filsafat yang memiliki asumsi dasar yang berbeda dengan positivisme. Disini dibahas pengertian dasar hermeneutika. Secara etimologis hermeneutika berasal dari kata “hermeneuin” yang berarti penafsiran atau seni menyampaikan makna. Sejarah hermeneutika, pembahasan hermeneutika sebagai cara pandang atau paradigma baru dalam filsafat, dan pemikiran para filosof hermeneutika.

BAB 9 Fenomenologi

Pada bab kesembilan buku ini membahas mengenai fenomenologi. Fenomenologi memiliki asumsi dasar yang berbeda dengan positivisme. Pada bab ini juga dijelaskan secara jelas pengertian dari fenomenologi, dan pemikiran-pemikiran dari tokoh-tokoh fenomenologi. Fenomenologi terbentuk dari kata fenomenom yang berarti sesuatu yang menggejala dan logos yang berarti ilmu. Fenomenologi berarti ilmu tentang fenomena pembahasan tentang sesuatu yang menampakkan diri. Fenomenologi terkadang juga  disebut  ilmu  makna. Bagi para ahli fenomenologi, dunia yang dijalani adalah dunia tanda-tanda yang memerlukan penafsiran tanpa akhir.