Dakwah Berbasis Wakaf Al-Quran

Oleh: Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA

Agama986 Views

BERBAGI News – Dewasa ini, tidak sedikit sementara orang dari umat islam yang mempunyai pemahaman bahwa dakwah itu identik dengan microfon melalui mimbar dan podiom acara keagamaan. Dugaan itu, tidak sepenuhnya benar. Sebab, menyeru ke jalan Allah SWT beragama cara, bisa dengan ceramah, menulis, wakaf al-Qur’an dan instrumen dakwah lainnya.

Dalam kontek ini, saya fokus dan menitikberatkan dakwah yang menggunakan instrumen program wakaf al-Qur’an. Secara etimologi wakaf al-Qur’an pemberian dan pendistribusian al-Qur’an, sedangan secara terminologi wakaf al-Qur’an adalah pemberian al-Qur’an kepada orang yang membutuhkan semata mata ingin mendapatkan Ridha Allah SWT.

Kemarin saya memenuhi undangan yayasan pendidikan Darul Qur’an Jurangsapi Tapen sebagai narasumber dalam rangka seminar ilmiah bagi pengurus yayasan, dewan guru, stakeholder dan pihak-pihak terkait yang berada dibawah naungan yayasan pendidikan Darul Qur’an.

So, disela-sela presentasi seminar ilmiah, saya meminta pada panitia untuk memberikan wakaf Qur’an kepada santri yang ikut program Tahfidz al-Qur’an. Namun sebelumnya, sebelum wakaf al-Qur’an diberikan, terlebih dahulu saya tes kemampuan hafalannya sejauh mana mereka menguasai hafalan, bacaan, fashahah, gharib, dan ilmu tajwidnya.

Subhanallah, saya dibuat terpukau oleh bacaan mereka. Usut punya usut, ternyata salah satu dari mereka juara umum Tartil al-Qur’an tingkat kabupaten Bondowoso. Mbatinku, tidak salah saya mengadakan program wakaf al-Qur’an yang digagas oleh al-Mihrab Foundation Prajekan yang diperoleh dari berbagai donatur diseluruh Indonesia.

Semangat dakwah melalui instrumen wakaf al-Qur’an semata-mata hanya ingin mendapatkan Ridha Allah SWT dan senyum bahagia dari Baginda nabi Muhammad Saw. Disamping juga, salah satu obsesi besar saya ingin membumikan al-Qur’an dan mencetak satu juta penghafal al-Qur’an di bumi Nusantara ini.

Baca Juga :  DPR: Perlu Sosialisasi Nilai Manfaat Biaya Perjalanan Haji

Sesuatu yang besar, harus dimulai dengan langkah kecil ini. Orang tidak akan menjadi orang besar, tanpa adanya langkah kecil sebelumnya. Pada kesempatan yang baik ini, semoga cita-cita mulia ini bersamaan dengan Maunah, Inayah dan Ridha Allah SWT. tentu juga dengan suport para donatur dan umat Islam yang mempunyai harta melimpah.

“Wahai orang orang yang beriman, bertakwalah dan carilah wasilah (pelantara) untuk mendapatkan ridha-Nya dan berjihadlah dijalan-Nya agar beruntung.”

Ala kulli hal, sepanjang al-Qur’an tersebut dibaca kemudian dihafalkan, diajarkan, dan disebarkan pada umat Islam yang lain, maka sudah barang tentu ganjarannya akan senantiasa mengalir deras kepada para wakif al-Qur’an hingga waktu tak terbatas (unlimited).

Gerakan dan program membumikan al-Qur’an perlu digalakkan dan diprioritaskan, mengingat generasi umat Islam sudah banyak yang terkontaminasi budaya barat yang notabenenya menjauhkan mereka dengan ajaran kitab sucinya. Tak pelak, mereka terjerumus kedunia hitam dan dunia malam serta terjerembab pada narkotika.

Masih ingat kasus yang menimpa Ridha Rhoma yang dua kali jatuh kelubang yang sama, padahal saya yakin ayahandanya bang haji Rhoma Irama mendidiknya dengan baik, bahkan beliau membuat sebuah lirik lagu yang berjudul “Miras santika”. Dalam sebuah wawancara di televisi, matanya berkaca-kaca saat disinggung putera tercintanya Ridha Rhoma Irama yang terjerumus kedalam dunia narkotika.

Bagaimana hancurnya hati seorang ayah yang selama ini sudah mendidiknya dengan ekstra hati-hati. Disini pentingnya lingkungan (habit) yang kondusif. Sebaik apapun pendidikan anak yang kita berikan, tapi salah tempat dalam menempatkan anak anak dilingkungan yang baik. Akibatnya, sangat fatal sekali.

Ada kisah yang cukup menggelitik dan memperihatinkan. Tahun kemarin, saya diundang acara promosi doktor disalah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Saat dicecar pertanyaan oleh para penguji yang terdiri dari guru besar atau profesor, promovendus menjawab dengan sangat lancar sekali diluar kepala.

Baca Juga :  Menjaga Amanat Jabatan

Tetapi, pada saat giliran pertanyaan yang bernuansa Islam, artinya beliau diminta membaca ayat suci al-Qur’an yang termaktub dalam disertasinya, beliau membaca belepotan tak ubahnya seperti anak TK. Ini sungguh pemandangan yang ironis sekali.

Bagaimana tidak? Provendus yang sebentar lagi dinobatkan menjadi doktor dalam bidang saint, tetapi tidak bisa membaca al-Qur’an. Padahal, kuliahnya di universitas Islam yang notabenenya kampus bernuansa islami. Anehnya, lulusan dan out putnya tidak bisa membaca al-Qur’an.

Melalui program wakaf al-Qur’an ini, alfakir yang selalu mengharap bimbingan-Nya, berharap banyak semoga langkah kecil tersebut meminimalisir buta baca aksara al-Qur’an. Memang kita akui, jumlah penduduk Indonesia ratusan juta dan 85 % persennya beragama Islam. Tapi sadarkah kita, dari sekian persen itu berapa yang bisa baca al-Qur’an?

Syahdan, dari sekian persen yang bisa membaca al-Qur’an, berapa persen yang bisa mengartikan al-Qur’an. Dari sekian persen yang bisa mengartikan al-Qur’an, berapa persen yang bisa tahu tafsirnya. Dari sekian persen yang tahu tafsir al-Qur’an, berapa persen yang mengetahui asbab al-nuzul (kronologis turun) nya al-Qur’an. Dari sekian persen yang mengerti asbab al-nuzulnya, berapa persen yang dapat mengamalkan kandungan isi al-Qur’an.

Jangan-jangan, secara kuantitas umat Islam menjadi mayoritas tetapi secara kualitas yang melek al-Qur’an, umat Islam masih menjadi minoritas dibawah standarisasi Islam pada umumnya. Ini tanggung jawab dan PR (pekerjaan rumah) kita semua terutama yang dititipi ilmu agama dan ilmu al-Qur’an oleh Allah SWT.

Salam, al-Mihrab Foundation. Tapen, 27 Juni 2023