Beras Melejit, Rakyat Menjerit

Oleh : Noly Aditia Ali Putra

Opini242 Views

BERBAGI News – Melambungnya harga beras membuat masyarakat makin tercekik di tambah kenaikan harga bahan pokok lainnya. Apalagi beras menjadi komoditas pokok bagi masyarakat bahkan ada peribahasa yang mengatakan ” kita belum makan kalok belum makan beras”.

“Sekarang hampir pada kisaran Rp 16 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram, ini menjadi harga tertinggi dalam sejarah,”. Tentunya kenaikan harga beras dengan faktor yang amat beragam. Bisa saja karena alih fungsi lahan pertanian yang membuat lahan pertanian semakin sempit, sumber pengelolaan air bahkan mekanisme pengelolaan harga yang kurang ideal dan di tambah lagi serapan bulog yang kurang maksimal serta kenaikan harga pupuk.

Namun pada Intinya penyebab paling real adalah kepincangan kinerja pemerintah pada sektor terkait yang berimbas pada kegagalannya dalam hal memaksimalkan produktivitas beras yang ada. Kepincangan ini hampir menyeluruh dari hulu ke hilir.

Kenaikan harga beras ini harus segera direspon dengan solusi jangka pendeknya harus ada regulasi dari pemerintah untuk memastikan harga sembako ini tetap stabil. Selanjutnya, pemerintah harus buat terobosan jangka panjang agar masalahnya ini tidak terjadi berulang-ulang di kemudian hari. “Salah satu langkahnya dengan mendukung para petani agar optimalisasi hasil pertanian ini bisa berjalan dengan baik. Bentuknya bisa berupa bantuan pupuk, benih dan juga sistem irigasi yang teratur.

Jika kenaikan harga sembako dan beras ini tidak segera di turunkan maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menyuarakan secara bersama.

Selain itu jangan sampe isu yang beredar di masyarakat tentang harga beras yang mahal di sebabkan salah satu karna terjadinya kelangkaan akibat gencarnya penyaluran Bansos dari Presiden Joko Widodo mulai awal Januari sebelum Pemilu.

Baca Juga :  Belajar dari ETHIOPIA

Bisa saja indikasi tersebut menjadi bias di masyarakat jika tidak segera di atasi dengan cepat. (*”)