Internalisasi Nilai Moral Sebagai Upaya Peningkatan Kontrol Diri Remaja Sasak

Oleh : Lale Firdasantika Nuzula

Opini289 Views

BERBAGI NEWS – Dalam kehidupan sehari-hari, pastinya akan selalu berhubungan  dengan individu lainnya. Selain itu juga akan berhubungan suatu kebiasaan yang ada di suatu lingkungan masyarakat. Lingkungan Masyarakat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya kenakalan remaja selain lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.

Masalah sosial dalam perilaku menyimpang dalam lingkungan Masyarakat diantaranya adalah kenakalan remaja, perilaku menyimpang ini dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan dan merusak sistem sosial yang berlaku diidalam lingkungan masyarakat dan pergaulan. Dengan begitu, akan terjadi interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, banyak sekali nilai yang harus diikuti. Salah satunya adalah nilai moral.

Nilai moral adalah prinsip atau standar yang digunakan untuk menentukan apa yang dianggap benar atau salah dalam tingkahh laku. Nilai moral bisa bervariasi dari satu individu ke inidividu lain, dan bisa juga berbeda antara satu kelompok atau masyarakat dengan kelompok atau masyarakat lain. Hal itu juga mempengaruhi kontrol diri atau kenakalan dalam remaja sasak.

Dalam artikel ini kenakalan remaja, kami maknai sebagai perilaku remaja yang menyimpang dari norma hukum dan nilai yzng hidup di masyarakat. Secara teoritis perilaku menyimpang dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : (1) perilaku menyimpang yang tidak disengaja, dan (2) perilaku menyimpang yang disengaja. Perilaku yang tidak disengaja ini biasanya karena pelaku kurang memaham nilai dan norma serta peraturan yang berlaku di masyarakat, sedangkan untuk perilaku menyimpang yang disengaja itu biasanya dilakukan bukan karena ia tidak mengetahui nilai norma atau peraturan yang ada, tetapi remaja atau anak memang sengaja melakukan penyimpangan tersebut.

Hal itu disebabkan karena pada dasarnya setiap orang pasti mengalami dorongan untuk melakukan pelanggaran pada situasi tertentu, baik karena mengikuti kawan sepermainan atau anggota komunitas, maupun sengaja menyimpang untuk mendapat perhatian atau pengakuan dari anggota komunitas ataupun masyarakat umum. Walau kita ketahui perilaku tersebut dapat merugikan dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya.

Masalah perilaku menyimpang atdu kenakalan remaja mulai mendapat perhatian  seruis dari negara dan masyarakat secara khussus sejak terbentuknya  peradilan untuk anak-anak nakal Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, hal ini diperkust oleh undang-undang perlindungan dalam anak dalam hal ini Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Secara umum ada beberapa faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja. Berbagai faktor yang ada tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal.

Baca Juga :  Mewaspadai Cuaca Ekstrim Dan Peningkatan Potensi Banjir

Faktor internal, mulai anak/remaja yang mengalami krisis identitas, akibat ada perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi yang kedua.

Kemudian lemahnya kontrol diri, yang mana anak atau remaja tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima oleh masyarakat dengan prilaku yang tidak dapat diterima oleh masyarakat, hal ini meyerer si anak dalam perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang sudah mengetahui perbedaan dua tingkah laku itu, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuan dan pemahamannya juga akan menyeret Adan dalam prilaku menyimpang.

Faktor Eksternal, dalam hal ini kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih sayang, kita ketahui bahwa keluarga merupakan unit sosial paling terkecil yang memberikan fondasi primer dari perkembangan anak. Keadaan lingkungan keluarga yang menjadi sebab kenakalan remaja seperti keluarga yang broken home, rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh konflik keras, ekonomi keluarga, dan sebagainya.

Penulis sepakat dengan buku potologi sosial karya Dr. Kartini Kartono berpendapat bahwasannya faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja antara lain, yaitu: anak kurang mendapat perhatian, kasih sayang, dan tuntutan orang tua, kebutuhan fisik maupun psikis anak-anak remaja yang tidak terpenuhi, dan anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk hidup normal, khususnya  pemahaman tentang nilai keagamaan.

Dalam kehidupan berkeluarga, juga terjadi pembinaan agama yang minim  hal ini menjadi salah satu faktor kenakalan remaja, karena pembinaan moral, agama mempunya peranan yang sangat penting, karena niilai-nilai moral yang datangnya dari agama, sehingga internalisasi nilai menjadi penting.

Internalisasi nilai moral, nilai agama berguna untuk meminimalisir terjadinya kenakalan remaja, Dangan cara membantu anak/remaja untuk mengenal, menyadari pentingnya, dan menghayati nilai-nilai moral yang seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan perilakunya sebagai manusia, baik secara perorangan maupun bersama-sama.

Nilai moral ini menjadi prinsip dan pedoman hidup yang baik guna memandu sikap dan perilaku remaja, guna membangun kesadara remaja bahwa kualitas hidup seseorang sangat ditentukan oleh nilai-nilai, termasuk nilai moral nilai agama sebagai penentu sikap dan perilakunya, baik dalam hubungan dengan diri sendiri, orang lain, alam sekitar maupun dalam hubungannya dengan Tuhan.

Semoga genarasi muda Sasak dan NTB menjadi berkah untuk Indonesia menghadapi bonus demografi Indonesia emas 2045..

InsyaAllah…