TUSÉLAKPEDIA, Mengenal Sosok Manusia Hantu Jadi-jadian Asal Lombok

Sejarah519 views

Mataram, BERBAGINews – Tusélak tidak merobek-robek atau mengunyah mangsa dan menelannya. Tapi bangkai yang ditemukannya terlebih dulu ditepuk-tepuk. Kemudian ia menyedot cairan dari jasad itu, bukan memakannya. (Kesaksian dari kaki Gunung Rinjani)

Tahun 1912 Kontrolir Lombok Timur LMF Plate menulis artikel tentang tusélak, berjudul Bijdrage Tot de Jennis van de Lijkanthrope bij de Sasaksche Bevolking in Cost Lombok. Di tulisan itu ia menyebut beberapa tingkatan dalam ilmu yang tergolong sihir itu, diantaranya tusélak tumpang solas (sebelas) dan tumpang selikur (dua puluh satu). Tumpang-tumpang yang nampak kemilau, posisinya berada di kening. Tetapi, Plate hanya mengilustrasikan cahaya-cahaya sebagai ciri para petinggi tusélak. Dari hasil penelusuran di sebuah kawasan di Pulau Lombok, ternyata cahaya berkilau kehijauan itu tidak hanya berada di dahi. Mereka yang masih memiliki ilmu tingkatan bawah, titik sinar itu berada di ibu jari tangan. Cahaya ini menerangi mereka saat beroperasi, ketika hari mulai gelap.

Sekte Bhairawa atau Bhairava adalah suatu kepercayaan sinkret dari pengaruh Budha Mahayana dan Siwa, yang masuk ke Nusantara di abad ke 7. Aliran dari India ini juga sempat berkembang di Mongolia, Tibet, Cina, dan Jepang. Kaumnya menghindari pola berpikir rumit, cenderung mengejar kenikmatan duniawi dengan cara-cara ekstrem. Tak peduli meski itu sangat menjijikkan, penganutnya akan selalu enjoy dalam menikmatinya. Dari sekte inilah cikal-bakal lahirnya pengetahuan tentang tusélak, salah satu ilmu hitam di Lombok. Ritual Pancamakarapuja dalam ajaran Bhairawa, diterapkan hampir secara utuh dalam praktik para tusélak. Pancamakarapuja juga disebut Lima Ma, masing-masing matsya (ikan), mamsa (daging), madya (minuman), madra (tari-tarian hingga mencapai ekstase), dan maithuna (pesta seks).

Baca Juga :  Kisah Keberkahan Berbuat Baik Kepada Janda dan Anak Yatim

Tusélak memiliki kemampuan bertransformasi, dari sosok manusia menjadi berbagai jenis hewan. Beberapa literatur menyebut, semakin besar wujud makhluk yang ditampakkan, maka semakin tinggi tingkatan kedigdayaannya. Tetapi, kesempurnaan perwujudan juga menjadi pembeda antartingkatan. Ketika sosok hewan yang ditunjukkan nampak aneh dan ganjil, ini tanda-tanda tusélak yang masih di tarap pemula atau sering disebut sélak baruq jari.

Jika di malam hari tanpa sengaja melihat benda bundar seperti buntalan kain yang terbang atau melayang, itulah wujud tusélak yang sedang menuju lokasi mangsanya. Seluruh tusélak terbang seperti itu. Tubuh dalam keadaan duduk sambil memeluk lutut. Bukan terbang seperti burung atau Superman. Kecepatan melesatnya tergantung jam terbang menjadi tuselak. Semakin senior semakin laju. Sélak baruq jari (baru jadi) beroperasi tak jauh dari lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai tusélak yunior mereka sering gegabah saat beroperasi, sehingga kerap kepergok warga. Sedang tusélak berpengalaman lebih memilih tempat-tempat terpencil, jauh dari keramaian.

Selama tiga bulan berada di Lombok di tahun 1857, Alfred Russel Wallace mendapatkan info, pulau ini tak ada hantunya. Di bukunya berjudul The Malay Archipelago, naturalis ini menyebut, penduduk setempat hanya meyakini keberadaan siluman. Statement itu lalu direspon sejumlah ilmuwan Belanda yang menyimpulkan siluman yang dimaksud Wallace adalah keberadaan tusélak dan lykánthropos. Warga sering menyaksikan kemunculan buaya atau harimau, di tempat-tempat tertentu, padahal di Lombok sendiri bukan tempat berbiaknya hewan-hewan buas tersebut. Pertanyaannya, mengapa tusélak butuh kemampuan mengubah diri? Tindakan itu mereka lakukan untuk menakut-nakuti, agar aktifitasnya tidak disaksikan atau ketahuan. Dalam segala ritual, mereka akan selalu menutup diri.

Sélak metem, salah satu varian tusélak di Lombok, tercantum dalam Wikipedia bahasa Inggris, bersama tujuh makhluk nokturnal lainnya di Asia Tenggara. Ketujuh makhluk tersebut masing-masing krasue (Thailand), balan-balan (Malaysia), palasik (Sumatera), kuyang (Kalimantan), leak (Bali), serta poppo dan parakang (Sulewesi). Siluman dengan gambaran kepala perempuan berwajah cantik dengan organ dalam tergantung di leher, yang mengambang disertai cahaya berpendar.

Baca Juga :  “PENYIHIR” Rusia di Perang Lombok (Bagian Dua)

Sayangnya, ada kekeliruan Wikipedia mengategorikan sélak metem dalam wujud tersebut. Tusélak varian ini justru pasif atau tidak gentayangan sesuai makna dari kata metem dalam bahasa Sasak.

Di Lombok, tusélak yang berwujud kepala dengan jeroan bergantungan, disebut sélak mopon. (BSM)