by

Televisi Sebagai Media Utama Informasi dan Kampanye Atasi Covid-19

-Opini-651 views

BerbagiNews.com – Di saat masyarakat dunia, termasuk masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan berbagai upaya mengatasi wabah Covid-19. Salah satunya ada mengajak masyarakat untuk diam dirumah dan berkerja dari rumah. Saat samua waktu dihabiskan di rumah, maka masyarakan butuh informasi dan hiburan untuk melihat dunia luar. Disinilah media menjadi sangat penting sebagai arus informasi dan hiburan, terutama media televisi. Begitu juga yang dilakukan oleh masyarakat NTB.

Kita ketahui NTB adalah Provinsi yang berada di Indonesia yang terletak pada bagian barat kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi Nusa Tenggara Barat beribu kota Mataram, yang terdiri dari pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, memiliki luas wilayah 20.153,15 km2, berdasarkan Badan Pusat Statistic NTB tahun 2018 jumlah penduduk masyarakat NTB berjumlah 5.013.687 jiwa,  dan memiliki 8 kabupaten diantaranya: Kabupaten Bima dengan pusat pemerintahan Woha, Kabupaten Dompu dengan pusat pemerintahan Dompu, Kabupaten Lombok Barat dengan pusat pemerintahan Gerung, Kabupaten Lombok Timur dengan pusat pemerintahan Selong, Kabupaten Lombok Tengah dengan pusat pemerintahan Praya, Kabupaten Lombok Utara dengan pusat pemerintahan Tajung, kemudian Kabupaten Sumbawa Barat dengan pusat pemerintahan Sumbawa Besar, dan 2 kota  yang terdiri, Kota Bima dan Kota Mataram.

Pulau Lombok sendiri terkenal dengan sebutan pulau seribu masjid, karena hampir di setiap Desa yang ada di Pulau Lombok  terdapat banyak Masjid dan Musholla.

Nusa Tenggara Barat dipimpin oleh Gubernur Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Si, dan wakil Gubernur Dr. Hajjah Sitti Rohmi Djalilah, yang di pilih oleh masyarakat melalui pemilihan langsung secara demokratis.

Bapak Gubernur selalu mengingatakan pentingnya pencegahan dan pananganan Covid-19 dengan cara mematuhi semua arahan pemerintah, mengikuti fatwa para tuan guru dan alim ulama. Arahan dan fatwa ini dengan mudah diterima oleh masyarakat yang disiarkan melalui media televisi.

Dari info yang ada, Covid-19 atau corona adalah virus yang sangat berbahaya, virus ini bahkan sudah banyak menelan korban dari berbagai belahan dunia, hingga berdampak pada segala aspek kehidupan manusia, baik kegiatan ekonomi, menghambat kegiatan perekonomian negara, sosial dan lain-lain. Covid-19 adalah virus kecil, tidak terlihat namun mematikan, virus ini dapat menyerang siapa saja, baik itu pejabat, orang kaya ataupun orang miskin. Adapun ciri-ciri  dari orang yang terjangkit virus ini  mereka memiliki gejala-gejala umum sebagi berikut : batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, sesak napas, dan demam suhu tubuh di atas 380.

Pemerintah menyatakan masih terjadi penularan virus corona di tengah-tengah masyarakat. Sehingga jumlah kasus konfirmasi positif terus bertambah, begitupun dengan pasien sembuh dan pasien meninggal, bertambah setiap harinya. Untuk itu pemerintah melalui media televisi menyiarkan berbagai berbagai upaya untuk menghentikan mata rantai penyebaran virus corona, baik dengan cara mensosialisasikan kepada masyarakat, mengenai bahayanya virus tersebut, baik dengan cara lockdown nasional, sosial distancing, physical distancing, memakai masker, usahakan menghindari keramaian, cuci tangan dan terapkan gaya hidup sehat. Hal itulah yang sering kita saksikan dan ikuti di televisi.

Dari siaran tadi, maka pentinglah masyarakat untuk patuh terhadap peraturan pemerintah untuk menghindari penyebaran virus tersebut,  untuk sementara pemerintah menganjurkan untuk belajar dirumah, bekerja di rumah, dan beribadah dirumah, untuk sementara waktu, hal ini berdasarkan surat edaran Gubernur NTB nomor 60/125/ORG tanggal 19 Maret 2020 tentang kebijakan untuk bekerja di rumah.

Baca Juga :  Pendemi Covid-19, Mahasiswa UNSA Turun Kejalan Berbagi Takjil

Dengan mematuhi peraturan pemerintah maka, kemungkinan untuk terjangkit virus tersebut juga sedikit, peraturan-peraturan yang di keluarkan pemerintah mengalami pro dan kontra di kalangan masyarakat, terutama sekali bagi para pedagang di pasar  dan pedagang keliling, ketika mereka di tanya mengapa mereka tidak mematuhi peraturan pemerintah, mereka menjawab “kalau kami tidak kerja anak istri kami makan apa”. Meskipun demikian dengan adanya peraturan tersebut dapat menghentikan laju penularan virus tersebut, orang  yang terjangkit virus tersebut juga ada yang tidak memilik gejala, hal ini cukup meresahkan pemerintah dan masyarakat. Karena bisa saja orang yang sehat-sehat saja bisa positif terinfeksi Covid-19.

Maka untuk anjuran pemerintah mengenai sosial distancing dan physical distancing perlu untuk masyarakat turuti. Tidak hanya itu pemerintah NTB juga berupaya memberikan bantuan kepada masyarakat dan para tenaga medis, dengan memberikan Alat Pelindung Diri (APD), berupa masker, pakaian hazmat, alat-alat medis dan lain sebagainya, adapaun bantuan Pemerintah  yang sudah sampai ke desa terutama di bagian Lombok Timur, tepatnya di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Dusun Kelotok berupa : handshoap, ember tempat menampung air, dan handsanitaizer sudah bisa digunakan oleh masyarakat. Memuat dari laman resmi metrontb.com, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menyalurkan 1.500 Alat Pelindung Diri (APD) untuk menangani virus corona di Nusa Tenggara Barat.

Bupati Lombok Timur, HM. Sukiman Azmy menerima bantuan Alat Pelindung Diri (APD) sebanyak 200 set dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Bantuan langsung tersebut di terima di pendopo Bupati, Senin (30/03/2020) sore.

Bantuan tersebut di serahkan langsung Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, H. Ahsanul Khalik. Serah terima bantuan juga di hadiri Sekda Lotim, HM. Juani Taufik dan kepala BPBD Lotim, Purnama Hadi.

Sekda Lotim, HM. Juani Taufik mengatakan, bantuan APD tersebut akan di gunakan untuk para petugas medis yang berada di rumah sakit maupun puskesmas untuk melayani pasien corona. Mengingat karena semakin meningkatnya pasien yang positif corona, maka perlulah kita memahami betul betapa berbahayanya virus tersebut dan untuk menghindari semakin bertambahnya korban akibat virus tersebut, karena virus tersebut bukan hanya menyerang manusia akan tetapi virus tersebut juga menggangu system perekonomian negara.

Masyarakat NTB dengan adalah keanekaragaman Etnolinguistik seperti (Bahasa, keragaman suku, agama, budaya, system nilai dan tradisi) masing-masing daerah di Nusa Tenggara Barat mempunyai pola interaksi sosial yang khas, seperti gotong royong, saling membantu, dan kekeluargaan.

Keanekaragaman inilah yang membuat daerah ini sangat kaya dengan nilai moral, estetika, etika dan toleransi yang tinggi. Hal ini merupakan kekuatan moral yang kuat sebagai landasan masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan. 2/3 dari 3,6 juta penduduk Lombok adalah suku Sasak yang merupakan penduduk asli, beberapa di antaranya masih bertahan dengan gaya hidup tradisional, ada tiga suku yang terkenal di NTB yakni suku Sasak, suku Samawa dan suku Mbojo. Dimana suku-suku tersebut adalah muslim, tetapi mempunyai Bahasa, adat istiadat dan tradisi yang berbeda, pembuatan barang-barang tembikar, menenun, mengulat dan melukis di lakukan secara turun-temurun.

Baca Juga :  DAMRI Fasilitasi Kepulangan Tenaga Migran Indonesia di SOETTA

Menurut Badan Pusat Statistic NTB tahun 2016 jumlah penduduk berdasarkan agama dan kepercayaan terdiri dari  : Islam 96, 78%, Kristen 0,26%, Katolik 0,19%, Hindu 2,45%, Budha 0,32%.

Mayoritas penduduk NTB adalah penganut agama Islam, walaupun demikian toleransi dalam beragama tetap di junjung tinggi, meskipun bebeda kepercayaan solidaritas dan saling tolong menolong sesama tetap di lakukan. Kehidupan sosial mayoritas warga NTB adalah masyarakat agraris dengan kesadaran religius yang tinggi. Mayoritas masyarakat NTB berprofesi sebagai petani dan buruh meskipun banyak profesi lain juga akan tetapi yang lebih mendominasi adalah petani dan buruh.

Covid-19 mengajarkan masyarakat tentang pentingnya solidaritas sosial dan saling tolong menolong, begitu juga dengan masyarakat di NTB, pemerintah dalam berbagai siaran media pemberitaan di televisi menyatakan bahwa tidak akan mengambil kebijakan pemerintah  lebih menyarankan untuk melakukan sosial distancing dan physical distancing, dengan alasan bahwa ketika kita mampu menjaga jarak sesama dan mejaga jara pisik dapat mampu menghentikan laju penularan Covid-19, akan tetapi pemerintah di daerah-daerah yang rawan terkena virus corona atau yang sudah bisa di katakan redzone, pemerintah desa seperti kadus dan jajarannya, mengambil kebijakan lock down daerah / lock down local untuk sementara waktu pedagang atau masyarakat  yang berasal dari luar daerah  tersebut di larang masuk karena hal tersebut adalah salah satu bentuk usaha dari pemerintah daerah untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Selain itu pemerintah juga harus mensosialisasikan kepada masyarakat tentang virus corona, bahayanya virus tersebut bagaimana gejala awal virus tersebut dan bagaimana cara menanggulangi atau menghentikan mata rantai penyebaran virus tersebut, atau masyarakat bisa menggunakan kecanggihan teknologi untuk mendapatkan informasi tentang virus berbahaya ini.

Seperti yang sama-sama kita ketahui virus corona atau severe acute respiratory syindrom corona virus 2 (SARS-COV-2) adalah virus yang menyerang system pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini di sebut Covid -19.

Covid-19 bisa menyebabkan gangguan pada system pernapasan, pneumonia akut (infeksi paru-paru) sampai akibat yang paling fatal yang akan di alami manusia adalah kematian. Virus ini bisa menyerang siapa saja, tanpa mengenal usia baik tua maupun muda, dari bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia. Bahkan orang yang paling cepat terinfeksi virus corona adalah orang yang memiliki usia 50 tahun ke atas dan memiliki riwayat penyakit dalam tubuhnya.

Pemerintah menyatakan masih terjadi penularan virus corona di tengah-tengah masyarakat. Sehingga jumlah kasus yang terkomfirmai positif terus bertambah, begitupun dengan pasien yang sembuh dan pasien yang meninggal. Hingga Rabu (8/4) jumlah pasien positif covid-19 yang sembuh bertambah 18 kasus, sehingga totalnya mencapai 222 orang, pasien positif covid-19 bertambah menjadi 218 orang sehingga totalnya mencapai 2.956 jiwa, dan pasien meninggal bertambah 19 orang sehingga totalnya mencapai 240 kasus jadi jumlah pasien yang terinfeksi, sembuh dan meninggal mencapai 442.956 jiwa. Jubir pemerintah untuk Covid -19 dr. Achmad Yurianto mengatakan strategi yang paling mendasar dalam pencegahan penularan virus ini adalah physical distancing.

Adapaun salah satu cara pemerintah untuk menghentikan laju penularan virus ini adalah dengan memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah  untuk mengajukan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Faktor pembawa penyakit ini adalah manusia, oleh karena itu sebaran penyakit ini akan sejalan dengan aktivitas sosial manusia, maka untuk itu perlu dibatasi.

Baca Juga :  Peluang Industri Kecil Menengah di Masa Pandemi Covid-19

Tidak hanya itu ada juga orang yang tidak memilki gejala namun positif terinfeksi virus corona, hal ini sangat membahayakam kehidupan masyarakat. Tentu pemerintah tidak diam saja dalam menghapadapi pandemic ini, banyak solusi dan bantuan yang di berikan pemerintah, pemerintah juga telah melakukan penelusuran kontak dari kasus positif yang di rawat atau skrining dengan menggunakan rapid test.

Sampai saat ini sudah di distribusika lebih dari 450 ribu rapid test ke seluruh Indonesia. Selain itu stok alat pelindung diri (APD) masih tersisa lebih dari 500 ribu. Pemerintah menyarankan masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan apapun jika tidak penting-penting amat, dengan berdiam di rumah sama dengan menjaga keluarga maupun orang lain agar tidak tertular virus tersebut.

Dengan adanya virus tersebut rasa solidaritas masyarakat NTB sedang benar-benar di uji, bukan hanya masyarakat di NTB, tetapi masyarakat di berbagai belahan dunia juga rasa solidaritasnya sedang di uji. Bagaimana tidak virus ini begitu cepat menyerang manusia dan melumpuhkan system ekonomi negara manapun yang terjangkit. Virus ini membuat masyarakat sangat panik, dengan beredarnya berita hoak juga membuat masyarakat menjadi tambah panic, kepanikan ini membuat masyarakat memborong alat pelindung diri (APD) masker, handsanitizer secara berlebihan.

Virus ini  bukan hanya masalah bagi pemerintah dan tenaga medis akan tetapi virus ini adalah musuh bersama, musuh semua masyarakat, untuk itu perlu adanya kesadaran dari kita sebagai masyarakat untuk selalu membudayakan hidup sehat, mencuci tangan dan melakukan sosial distancing. Solidaritas dan gotong royong akan selalu menjadi kata kunci untuk menguji sejauh mana masyarakat tanggap menghadapi bencana dan wabah. 

Bukan hanya pemerintah masyarakat juga tidak tinggal diam ada sebagian dari masyarakat yang menyumbangkan masker, APD dan uang, dengan menggalang dana, seperti yang di sosialisasikan oleh para medis juga masayarakat sebaiknya di rumah saja, karena dengan hal itu bisa membantu mengurangi banyaknya orang yang terjangkit dan dapat membantu mengurangi pekerjaan para medis.

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat (KPID NTB) berharap lembaga penyiaran NTB, baik Televisi dan Radio, ikut memberikan kontribusi yang maksimal dalam menghadapi pandemic wabah covid-19. Untuk itu KPID NTB telah menerbitkan surat edaran No: 220/K/KPID-NTB/III/2020. Edaran tersebut meliputi : Pertama, menunda program tayangan yang dapat mengumpulkan massa, seperti program pencarian bakat, program talks show, atau program hiburan lain yang akan melibatkan banyak penonton.

Kedua, memperbanyak Iklan Layanan Masyarakat (ILM) yang berisi pesan edukatif tentang pandemic covid-19 sesuai pedoman dan standar program siaran. Isi pesan dalam iklan tersebut dapat berupa informasi kepada masyarakat mengenai upaya-upaya pencegahan pandemi covid-19, termasuk himbuan untuk menjaga pergerakan dan sosial distancing.

Ketiga,  mengedukasi masyarakat agar tetap waspada, tetap tenang, dan tidak panik dalam menjalani protokol yang ditentukan Pemerintah Pusat maupun Daerah sebagai bentuk peran dan fungsi ganda lembaga penyiaran selain menjadi media informasi public juga sebagai media pendidikan dan juga sebagai bentuk solidaritas lembaga penyiaran tersebut.

Dengan adanya himbauan pemerintah dan fatwa alim ulama yang bisa kita ikuti di media televisi. Semata-mata dengan tujuan agar masyarakat bisa terhidar dari infeksi virus tersebut. Masyarakat, Tuan Guru / Dea Guru dan Pemerintah. Berdoa, tetap di rumah, menerapakan budaya hidup sehat, mencuci tangan, menggunakan masker ketika bepergian, sosial distancing dan physical distancing, agar masyarakat bisa memutus mata rantai penyebaran virus tersebut, agar terciptanya kehidupan yang aman dan sehat. Untuk menghidari biasnya informasi tentang Covid-19 cukup mengikuti siaran televisi dan info resmi dari pemerintah. Semoga wabah ini segera diangkat oleh Allah. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. (Urpiani)

News Feed